Radio Rodja 756 AM

Orang Yang Diperbolehkan Tidak Berpuasa Ramadhan


Listen Later

Orang Yang Diperbolehkan Tidak Berpuasa Ramadhan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Sifat Puasa Nabi. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 17 Sya’ban 1442 H / 31 Maret 2021 M.
Download kitab PDF: صفة صوم النبي صلى الله عليه وسلم في رمضان 

Kajian Islam Tentang Orang Yang Diperbolehkan Tidak Berpuasa Ramadhan
Penulis mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan untuk kalian kemudahan dan tidak menginginkan untuk kalian kesulitan. Maksud dari bab ini adalah penulis ingin menyebutkan orang-orang yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Yaitu:

1. Musafir
Telah diriwayatkan hadits-hadits yang shahih dalam perkara ini, yaitu seorang musafir boleh untuk memilih di dalam berpuasa. Kita tidak melupakan bahwa rahmat Tuhan ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an yang Mulia, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang berfirman:
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ
“Dan barangsiapa yang sakit dari kalian atau bepergian, hendaklah dia berbuka dan mengqadha’ dilain hari. Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan kemudahan dan tidak tidak menginginkan bagi kalian kesulitan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 185)
Hamzah bin Amr Al-Aslami pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apakah boleh aku berpuasa dalam safar?” -dan Hamzah bin Amr Radhiyallahu ‘Anhu terkenal sebagai orang yang  banyak melakukan puasa- maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda. “Berpuasalah jika engkau menginginkan dan berbukalah jika engkau menginginkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang bersafar boleh memilih hendak berpausa atau tidak.
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu berkata : “Aku pernah bersafar bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada waktu bulan Ramadhan, orang yang berpuasa tidak mencela atas orang yang berbuka dan orang yang berbuka tidak mencela atas orang yang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits-hadits ini memberikan faedah bolehnya memilih dan bukan sebuah keutamaan. Apabila orang yang berpuasa saat bersafar, maka dia bukan berarti lebih utama dibandingkan yang tidak berpuasa. Akan tetapi dimungkinkan berdalil keutamaan berbuka saat bersafar dengan hadits-hadits yang umum, di antaranya yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتِى رُخْصَهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتِى مَعْصِيَتَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai untuk keringanannya dikerjakan, sebagaimana Allah membenci untuk maksiatnya dilaksanakan.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dari ‘Abdullah bin ‘Umar dengan sanadnya yang shahih)
Sebagaimana dalam riwayat lain:
كَمَا يُحِبُّ أَنْ تُؤْتِى عَزَائِمَهُ
“Sebagaimana Allah menyukai perintah-perintahNya dikerjakan.” (HR. Ibnu Hibban, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani)
Penulis seakan ingin mengatakan kepada kita bahwasanya apabila seorang yang bersafar, maka lebih utama dia berbuka.

Akan tetapi dimungkinkan untuk membatasi hal itu dengan orang yang tidak mempunyai kesulitan ketika mengqadha’ dan menunaikan ibadah puasa, agar keringanan tersebut tidak menjadi bumerang bagi dia.
Hal ini telah dijelaskan dengan penjelasan yang tidak ada keraguan di dalamnya, diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Para sahabat Nabi berpendapat bahwa barangsiapa yang mendapati kekuatan untuk berpuasa, maka baik baginya berpuasa,
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AMBy Radio Rodja 756AM

  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1

4.1

7 ratings