Pandangan Nanda

Pandangan Nanda

Download on the App Store

Pandangan Nanda episodes

  • Tak Apa-MusikalisasiPuisi|disuarakan oleh nandagibral
    "Tak Apa"
    Ketika ku tanya mengapa
    Kau hanya menjawab tak apa
    Tapi sikapmu sebaliknya
    Menjebakku dalam tanya
    Aku paham,
    mungkin kau hanya ingin menjaga rasa
    Tapi bagaimana mau menjaga
    Jika rasa yang kau rasa
    Tak bisa aku rasa
    Seandainya saja aku cenayang
    Mungkin aku bisa paham,
    tanpa kau bilang
    Sayangnya, aku hanya sayang
    Mungkin itu tidak cukup
    Untuk memadamkan api
    sebelum menjadi arang
    #musikalisasipuisi #ibadahpuisi
    1 min
  • Senandung Nelayan|Zawawi Imron- disuarakan oleh nandagibral
    Senandung Nelayan
    Angin yang kini letihbersujud di pelupuk ibulaut! apakah pada debur ombakmuterangkum sunyi ajalku?
    Oi, buih-buih zaman saling memburukali ini doaku lumpuhgagal mengusap tujuh penjurupada siapa 'kan kulepas napas cemburu?
    Jika sebutir air mata adalah permatatolong simpan di jantung telukmu!
    Dari bisik ke bisik perahu beringsut majujika nanti bulan datang menyingkap teka-tekimutak sia-sia kujilat luka purbatempat senyum menetasjadi iman dan layar.
    2 min
  • Ibu| Zawawi Imron-Sebuah Puisi Disuarakan oleh nandagibral
    Ibu, kalau aku merantau lalu datang musim kemarau sumur-sumur kering, dedaunan pun gugur bersama reranting hanya mata air airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir
    bila aku merantau sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku di hati ada mayang siwalan memutihkan sari-sari kerinduan lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
    ibu adalah gua pertapaanku dan ibulah yang meletakkan aku di sini saat bunga kembang menyerbak bau sayang ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi aku mengangguk meskipun kurang mengerti
    bila kasihmu ibarat samudra, ibu
    sempit lautan teduh tempatku mandi, mencuci lumut pada diri tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
    kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan namamu ibu, yang kan kusebut paling dahulu lantaran aku tahu engkau ibu dan aku anakmu
    bila aku berlayar lalu datang angin sakal Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
    ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala sesekali datang padaku menyuruhku menulis langit biru dengan sajakku
    2 min
  • Bibirku bersujud di Bibirmu| karya Hasan Aspahani- disuarakan oleh nandagibral
    Bibirku bersujud di bibirmu
    Oleh: Hasan Aspahan
    Wahai, pelayar malam, tiga kapal karam, masam dendam
    apa lagi yang kau pendam, sebelum semuanya tenggelam?
    Kita pun kehilangan ombak, pasir dan berabad rakaat,
    terlelap dalam perangkap, sekejap malam yang cacat.
    Tanpa sujud, bagaimana menyebut ini sebuah tahajud.
    Aduhai laut yang mengenal semua kapal, kau tahukah?
    Pada separuh luruh usia tubuh, ada sepertiga subuh
    yang tak pernah hendak menunggu jangkarmu berlabuh.
    Dan pada lipatan pantai sajadah yang tak lagi basah
    Tajam musimmu makin meranjau: aku kian kemarau
    Aku masih sabar menunggu, kau kirim tanda zikir-zikir,
    Semakin mendekat gemetar bibir, pada persujudan pasir,
    rukuk musafir, sampai mengerti isyarat ombak terakhir.
    Kau bertanya: hauskah?
    – Aku jawab: ya, beri aku air
    Kau bertanya: haruskah?
    – Aku minta: atau sebaiknya kau usir
    Siapa yang menangis di dermaga? Siapa menghangatkan
    laut dengan airmata? Siapa yang melambai di atas palka?
    Siapa yang menghentak kaki berlari ke surut samudera?
    Siapa mengarak riak jadi mahagelombang maharaksasa?
    Aku semakin tak sanggup. Dengar. Dendang itu semakin sayup:
    kenapa harus gelombang,
    gelombang,
    gelombang,
    gelombang,
    gelombang,
    gelombang,
    kenapa harus gelombang,
    gelombang,
    gelombang,
    gelombang,
    gelombang,
    gelombang,
    kenapa harus gelombang.
    Bibirku bersujud di bibirmu, lalu kita lafazkan zikir pasir.
    Bibirku bersujud di bibirmu, hampar mulut yang pesisir.
    Bibirku bersujud di bibirmu, pagut sebutir pungut sebutir.
    ***
    Puisi ini menceritakan Tsunami Aceh dan Konflik Aceh-RI. Semoga puisi ini dapat menghibur. Ayo kita jaga perdamaian Aceh. Ayo kita kawal MoU Helsinki dan UUPA. Aceh Beujaya, Aceh Beu Meucuhu lage Nyang ka ka.
    3 min
  • Tapi- disuarakan oleh nandagibral
    Tapi• Dibaca oleh nandagibral
    aku bawakan bunga padamu
    tapi kau bilang masih
    aku bawakan resahku padamu
    tapi kau bilang hanya
    aku bawakan darahku padamu
    tapi kau bilang cuma
    aku bawakan mimpiku padamu
    tapi kau bilang meski
    aku bawakan dukaku padamu
    tapi kau bilang tapi
    aku bawakan mayatku padamu
    tapi kau bilang hampir
    aku bawakan arwahku padamu
    tapi kau bilang kalau
    tanpa apa aku datang padamu
    wah!
    1 min
  • Aku Mencintai putrimu, pak| karya nandagibral
    Ku mencintai putrimu, Pak
    Oleh: nandagibral
    Pak, putrimu kini telah tumbuh besar
    dia tumbuh menjadi gadis cantik
    memiliki senyuman manis
    yang mampu menawan hati
    siapa saja yang melihatnya
    Pak, terimakasih telah membesarkan putrimu dengan penuh kasih sayang
    sehingga dia tumbuh menjadi
    perempuan yang paling penyayang
    Hingga wajar saja,
    Saya sebagai lelaki normal
    jatuh cinta pada putrimu, pak
    Pak, ku mencintai putrimu
    Izinkan saya memiliki putrimu
    Saya berjanji padamu, pak
    akan membahagiakan putri kesayanganmu
    Sebagaimana kau membahagiakannya
    Banda Aceh, 14 Mei 2021
    1 min
  • Penanti-MIHP| Dibaca oleh nandagibral
    "Penanti"
    Karya: MIHP
    Paling tidak
    Aku pernah menggilaimu
    Diantara ribuan bahkan milyaran pasang mata di galaksi ini
    Menjadikanmu matahari tempat rinduku berotasi
    Hingga hanya namamu yang menggema di atas langit-langit doa
    Membuat malaikat sibuk memunguti semogaku untuk dihadapkan pada Tuhan
    Selepas pergimu,
    Aku hanya sibuk meramu doa terbaik untukmu
    Sebab rinduku telah kulucuti
    Lalu kumakamkan diatas pusara potret kenangan kita
    Ia tidak lagi menemaniku,
    Aku enggan menjadi pendosa ulung yang terus merinduimu
    Hanya Tuhan yang mampu menjawab pertanyaanku perihal pergimu
    Suatu saat akan ada utusan-Nya bernama waktu
    Aku percaya,
    Waktu adalah kendaraan yang tak pernah bisa dihentikan
    Mampu melukai juga mampu mengobati,
    mampu mengukir namun juga mampu menghapus
    Jika saat ini waktu menghampiri ku lalu menggoreskan luka
    Aku hanya perlu menepi sejenak
    Menunggu waktu kembali untuk mengobati
    Kemudian menghapus lukanya
    Mungkin aku bukanlah seseorang yang ahli bermain-main dengan penantian
    Tapi aku tahu,
    Untuk memenangkannya kita perlu bersabar
    Meskipun selama prosesnya
    Kita akan menemukan jalan yang berliku dan tidak sesuai dgn harapan
    Namun itu cara waktu untuk mengujiku
    Memang seperti itu kan?
    Jika ingin naik kelas
    Harus ada ujian yang mungkin melelahkan
    Ingin jd pintar
    Harus banyak belajar
    Ingin bisa brjalan harus banyak-banyak terjatuh
    Untukmu seseorang yang pernah senanda dalam satu janji
    Akan ada masanya, aku berhenti menggilai
    Dan tak terkulai dengan luka
    Ketika hari itu tiba
    Jika namamu kutasbihkan
    Aku akan biasa-biasa saja
    4 min
  • Kita Terlena- Sebuah Puisi oleh nandagibral
    Kita Terlena
    Kita begitu terlena
    niat Ramadhan ini
    Khatam Alquran,
    kini hanya tinggal angan
    Kita begitu lalai
    ingin menghidupkan malam
    namun malah tertidur pulas
    memeluk bantal
    Kita begitu abai
    teringin shalat Dhuha
    malah azan Zhuhur mulai terdengar
    Kita begitu cuai
    Cita-cita berzikir siang dan petang
    kita malah sibuk dengan urusan dunia
    Banda Aceh, 11 Mei 2021
    1 min
  • Demi Masa- Musikalisasi Puisi oleh nandagibral
    Demi Masa
    Oleh: nandagibral
    Demi masa,
    waktu begitu terlena
    bergerak maju
    meliindas siapa yang lalai
    Demi masa,
    yang begitu fana
    denting jarumnya
    berdetak beraturan
    Membuat lalai orang terlena
    Demi masa,
    kita semua fana,
    Lalu kembali pada yang maha Baqa
    Demi masa dengan segala kefanaanya
    kita telah lalai dan lunglai
    waktu subuh terus berganti Dzuhur
    Lalu berubah ashar,
    hingga magrib menjadi Isya
    Namun yang dilakukan
    hanya kesiaan belaka
    Demi masa,
    waktu bukan saja seperti emas berharga
    tapi juga seperti pedang
    yang menebas siapa saja yang lalai
    Banda Aceh, 11 Mei 2021
    2 min

About Pandangan Nanda

From the publisher's feed

Pandangan Nanda merupakan podcast yang menyajikan pandangan terhadap dunia ini terkait pendidikan,bahasa, sastra, budaya, logika, filsafat, dan ilmu agama.