Penjarakan Lisanmu adalah kajian tematik yang disampaikan oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc. Hafidzahullah pada Sabtu, 5 Rabi’ul Awwal 1444 H / 01 Oktober 2022 M.
Penjarakan Lisanmu
Sebuah pekerjaan yang sangat rumit, saking rumitnya Allah berjanji dengan janji yang luar biasa kepada orang yang bisa menguasai lisannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah kata-kata yang benar.” (QS. Al-Ahzab[33]: 70)
Ketika berkata-kata dengan lisan, ucapkan yang benar, ucapkan yang Allah ridhai, ucapkan yang Allah suka, ucapkan yang Allah Tabaraka wa Ta’ala izinkan kita menggunakan lisan untuk mengucapkannya. Ini adalah perintah dari Allah Tabaraka wa Ta’ala. Kalau itu kita lakukan, Allah berjanji dalam ayat setelahnya:
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ …
“Allah akan perbaiki untuk kalian amalan-amalan kalian…” (QS. Al-Ahzab[33]: 71)
Dengarkan baik-baik janji Allah manakala seorang muslim/muslimah menjalankan perintah Allah yang satu ini, menjaga lisannya dan tidak menggunakan lisan kecuali untuk hal yang dicintai Allah Tabaraka wa Ta’ala, maka Allah akan perbaiki untuk kalian amal kalian.
Saudaraku, mana yang lebih kita harapkan, kita berjuang memperbaiki amal kita atau Allah yang memperbaiki amal kita? Mana yang lebih hebat? Tentu yang kedua. Kalau Allah sudah memperbaiki amal kita, maka ini sebuah kemuliaan yang luar biasa, keagungan yang sangat hebat, dan ini janji Allah kepada orang yang menjaga lisannya.
Ketika fadhilah dari sebuah amal itu sesuatu yang besar, itu menunjukkan amal itu bukan amal yang sepele/mudah. Dan semua kita tahu alangkah sulitnya menjaga lisan.
Seorang ulama bernama Yunus bin Ubaid, dari beliau Imam Ahmad banyak belajar akhlak dan adab, seorang ahli ilmu. Yunus bin Ubaid Rahimahullah berkata: “Engkau bisa saja menyaksikan orang-orang yang rajin shalat di malam hari, namun siang harinya melakukan hal yang diharamkan Allah. Dan engkau bisa saja menyaksikan orang-orang yang puasa di siang hari, namun malam harinya melakukan yang dimurkai dan tidak diridhai Allah. Namun engkau tidak akan saksikan orang yang menjaga lisannya, lalu engkau temukan amalannya berbeda dengan lisannya yang dia jaga itu.”
Artinya bahwa orang yang shalat malam tidak menjamin bahwa siangnya dia tidak melakukan yang diharamkan Allah. Orang yang puasa di siang hari tidak menjamin malam harinya dia melakukan hal yang dimurkai Allah Tabaraka wa Ta’ala. Namun orang yang sudah menjaga lisannya, engkau tidak akan temukan orang itu amalnya rusak. Ini adalah buah daripada Allah Tabaraka wa Ta’ala yang memperbaiki untuk seorang hamba amalnya, fadhilah daripada seseorang yang menjaga lisannya.
Semua direkam
Terlalu banyak manusia hidup di zaman kita sekarang ini ketika berbicara, dia anggap ungkapan pembicaraannya itu setelah dia ucapkan hilang begitu saja di udara. Dan bukan begitu sebenarnya. Allah mengatakan di dalam Al-Qur’an:
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada satu ucapan yang keluar dari lisan melainkan akan ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf[50]: 18)
Kalau kita ingin mendapatkan kemuliaan yang tadi Allah katakan di dalam ayat yang tadi kita bacakan, hal yang harus kita lakukan adalah tidak pernah menganggap perkataan kita sesuatu yang akan hilang. Ini salah satu kaidah penting bagi orang yang serius ingin memperbaiki lisannya.
Ini yang terjadi di zaman kita sekarang. Orang berbicara dan hatinya tidak pernah merasakan bahwa pembicaraan itu direkam, pembicaraannya itu tertulis dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Sehingga akhirnya ketika sifat itu hilang,