Radio Rodja 756 AM

Pentingnya Tulisan dan Kitab


Listen Later


Pentingnya Tulisan dan Kitab ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 26 Jumadal Akhir 1445 H / 08 Januari 2024 M.







Kajian tentang Pentingnya Tulisan dan Kitab



Kita masih berbicara tentang talbis iblis terhadap kaum Sufi di dalam hal kitab, yaitu sikap mereka yang meremehkan kitab. Bahkan, mereka membenci buku ataupun kitab.



Kita sampai pada poin bantahan Ibnul Jauzi terhadap sikap mereka ini. Ibnul Jauzi mengatakan bahwa ilmu adalah cahaya. Dan iblis akan membuat manusia menilai baik segala perkara yang bisa memadamkan cahaya tersebut. Sehingga iblis benar-benar leluasa untuk menguasai manusia dalam kegelapan, tanpa cahaya ilmu. Dan tidak ada kegelapan seperti halnya kegelapan kebodohan ataupun kejahilan, yaitu ketiadaan ilmu. Karena khawatir, mereka terbiasa membaca buku-buku, hingga memungkinkan mereka untuk mengetahui tipu daya iblis melalui dalil-dalil yang mereka baca dari buku-buku tersebut, maka iblis mendorong mereka agar mengubur dan merusak kitab-kitab tersebut. Dan ini adalah perbuatan yang buruk dan dilarang. Ini juga mencerminkan kebodohan pelakunya, karena tentunya isi dari buku-buku itu adalah ilmu. Ketika mereka membakarnya, artinya membakar ilmu.



Asas dari segala ilmu adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lalu, ketika diketahui bahwa menjaga kedua asas ini sangatlah sulit, maka syariat pun memerintahkan agar menulis Mushaf dan juga menulis hadits. Adapun untuk Al-Qur’an, tiap kali Allah turunkan ayat, maka Rasulullah memanggil penulis-penulis wahyu untuk menulis firman-firman Allah pada pelepah kurma, bebatuan, atau tulang-tulang binatang. Baru setelah itu, Al-Qur’an disatukan dalam Mushaf oleh Abu Bakar As-Siddiq untuk menjaga keautentikannya. Selanjutnya, mushaf itu disatukan oleh Abu Bakar ini disalin kembali oleh Utsman bin Affan dan sejumlah sahabatnya yang kemudian dikenal dengan sebutan Mushaf Utsmani. Beliau mengumpulkan apa yang telah disatukan oleh Abu Bakar, lalu disalin kembali menjadi sebuah mushaf yang kita pakai sampai hari ini. Basicnya itu adalah mushaf yang disusun atas perintah Usman Ibnu Affan, dan upaya ini bertujuan untuk menjaga Al-Qur’an dan untuk memastikan tidak ada satupun bagian yang hilang darinya.



Jadi, ada dua hal dimana Allah menjaga Al-Qur’an ini. Yaitu apa yang tersimpan di dalam dada orang-orang yang beriman melalui hafalan. Kemudian diperkuat lagi apa yang ditulis oleh para penulis-penulis wahyu yang kemudian dikumpulkan oleh Utsman bin Affan pada masa kekhalifahannya. Dan tidak ada pertentangan antara apa yang mereka hafal dengan apa yang tertulis. Sampai hari ini, Al-Qur’an tetap terjaga keautentikannya, tidak ada penambahan maupun pengurangan. Ada usaha-usaha untuk menodainya dengan menambah ataupun mengurangi, tapi semua itu gagal. Karena tidak ada satu huruf pun yang bisa ditambah atau dikurangi dari Al-Qur’an. Apalagi satu kata, apalagi satu kalimat, apalagi satu ayat, apalagi satu halaman. Begitulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga Al-Qur’an.



Sedangkan As-Sunnah (hadits), di awal-awal perkembangan Islam, nabi membatasi kaum muslimin supaya menulis Al-Qur’an saja agar tidak tercampur antara Al-Qur’an dan hadits, karena dua-duanya bahasa arab. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:



لا تكتبوا عني سوى القرآن

...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AMBy Radio Rodja 756AM

  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1

4.1

7 ratings