Radio Rodja 756 AM

Penyalinan dan Penulisan Ilmu


Listen Later


Penyalinan dan Penulisan Ilmu ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin , 3 Rajab 1445 H / 15 Januari 2024 M.







Kajian tentang Penyalinan dan Penulisan Ilmu



Kita sampai pada Talbis Iblis terhadap para sufi berkaitan dengan sikap mereka terhadap kitab, yaitu penyalinan dan penulisan ilmu. Ibnul Jauzi Rahimahullah mengatakan bahwa para sahabat telah menulis sabda-sabda, tingkah laku, dan perbuatan-perbuatan, sifat-sifat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan syariat Islam itu dikumpulkan dari riwayat para sahabat satu dan yang lain.



Nabi mengatakan dalam sebuah hadits yang shahih:



نضَّر اللهُ امرأً سمِعَ مقالَتي فوَعاها فأدَّاها كما سمِعَها



“Semoga Allah membuat berseri wajah seseorang yang mendengar perkataanku, kemudian dia memahaminya, dan dia menyampaikannya sebagaimana yang dia dengar.” (HR. Ibnu Majah)



Hadits ini menganjurkan kita untuk menyampaikan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berupa hadits-hadits beliau. Maka para sahabat menulis apa yang dikatakan nabi, mencatat apa yang disabdakan, bahkan mereka mencatat apa yang mereka saksikan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di samping itu juga merekam dengan hafalan apa yang mereka dengar dan saksikan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Menyampaikan hadits sesuai dengan apa yang didengar, hampir tidak bisa dilakukan kecuali dengan membaca dari tulisan, sebab menyampaikannya melalui hafalan terkadang lupa, karena tidak semua orang memiliki kekuatan hafalan yang sama. Maka, salah satu periwayatan hadits adalah periwayatan melalui tulisan, dan itu yang dilakukan oleh para ulama terdahulu. Mereka menyalin hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



Ketika Ahmad bin Hambal Rahimahullah sedang menyampaikan hadits, seseorang meminta kepadanya: “Diktikanlah hadits itu untuk kami dari hafalanmu.” Imam Ahmad menjawab: “Tidak dari hafalanku, melainkan dari kitab (yaitu dari tulisan).” Jadi, beliau membacakan apa yang tertulis dari catatan-catatan hadits.



Itu adalah Imam Ahmad yang kita kenal dengan kekuatan hafalannya. Disebutkan beliau menghafal 1 juta hadits. Tapi dalam periwayatan hadits kadang-kala juga bersandar dengan apa yang dicatat.



Ali Ibnul Madini mengatakan: “Guruku Imam Ahmad bin Hambal, menyuruhku agar menyampaikan hadits melalui kitab (membacakannya dari tulisan).”



Para sahabat Nabi telah meriwayatkan sunnah, lalu sunnah itu diterima oleh para tabi’in. Kemudian, para ahli hadits menempuh perjalanan jauh, ke timur maupun ke barat, untuk mendengarkan hadits dari berbagai sumber.



Kemudian, mereka menshahihkan yang shahih dan mendhaifkan yang tidak shahih, yaitu memilah hadits, mengkritik, dan merekomendasikan para perawi-perawi hadits. Karena diriwayatkan dari orang ke orang, dari generasi ke generasi, maka perlu diketahui keadaan para perawi-perawi hadits ini. Itu yang dikenal dengan sebutan ilmu jarh wa ta’dil, ini salah satu cabang dari ilmu hadits, bahkan ini adalah ilmu yang sangat penting untuk menimbang dan menilai status sebuah hadits, shahih atau tidak shahih.



Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga agama ini, sehingga terpelihara dari jamahan orang-orang yang...
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AMBy Radio Rodja 756AM

  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1

4.1

7 ratings