Penyimpangan Kaum Sufi dalam Hal Menghinakan Diri ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 05 Dzulqa’dah 1445 H / 13 Mei 2024 M.
Kajian tentang Penyimpangan Kaum Sufi dalam Hal Menghinakan Diri
Pada kajian kali ini, kita membahas talbis iblis terhadap kaum sufi dalam hal penggemblengan jiwa dan upaya mereka untuk merendahkan diri. Namun, ini bukanlah merendahkan diri, melainkan menghinakan diri, yang mana hal itu dilarang dalam Islam.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan,
لَا يَنْبَغِي لِمُسْلِمٍ أَنْ يُذِلَّ نَفْسَهُ
“Tidak boleh seorang muslim menghinakan dirinya sendiri.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Kita wajib menjaga kehormatan diri. Menjaga muruah termasuk sebagai salah satu bagian dari akhlak Islam. Maka tidak boleh seorang muslim sengaja menjatuhkan muruahnya di hadapan manusia.
Dalam bab ini, Ibnul Jauzi menceritakan kepada kita salah satu yang dilakukan oleh kaum sufi dalam hal menghinakan diri. Banyak kisah-kisah yang disebutkan dalam buku-buku mereka. Ibnul Jauzi mengatakan, “Ada sebuah riwayat dari Al-Hasan bin Ali Ad-Damaghani yang menceritakan bahwa ada seseorang dari Bustam yang selalu menghadiri majelis Abu Yazid Al-Bustami dan tidak pernah absen dalam menuntut ilmu bersamanya. Suatu ketika, ia berkata, ‘Wahai guruku, sudah 30 tahun ini aku terus berpuasa dan mengerjakan shalat malam. Aku juga telah meninggalkan berbagai hawa nafsu dan syahwat, tetapi aku tidak merasakan sesuatu yang engkau sebut itu di dalam hati ini.’
Maka Abu Yazid berkata kepadanya, “Seandainya kamu berpuasa 300 tahun dan shalat malam 300 tahun, namun keadaanmu tetap seperti yang aku lihat saat ini, maka kamu tidak akan mendapati sedikit pun ilmu itu.” Orang ini kemudian bertanya, “Mengapa demikian, wahai guru?” Abu Yazid menjawab, “Karena kamu terhalang oleh jiwamu.”
Orang ini pun meminta nasihat, “Adakah solusinya agar tabir penghalang itu bisa hilang?” Abu Yazid menjawab, “Iya, ada solusinya, namun kamu tidak akan pernah mau melaksanakannya.”
Maka orang itu mengatakan, “Tidak, aku pasti akan menerimanya dan mengamalkan apapun yang engkau sebutkan nanti.” Maka Abu Yazid Al-Bustami memerintahkan, “Sekarang juga, pergilah ke tukang bekam, cukurlah rambut dan jenggotmu, lalu lepaskan pakaianmu ini dan gantilah dengan gamis panjang. Kemudian kalungkanlah suatu wadah di lehermu dan isilah wadah itu dengan buah ketapang. Kemudian kumpulkan anak-anak kecil di sekelilingmu dan katakan kepada mereka dengan suara keras, ‘Anak-anak, siapa yang mau menamparku dengan keras, maka aku akan memberinya buah ketapang ini.’ Setelah itu, lakukan itu di pasar, tempat kamu biasa dielu-elukan dan dikenal.”
Ini adalah perintah Abu Yazid kepada orang itu. Mendengar perkataan Abu Yazid ini, orang itu mengatakan, “Wahai Abu Yazid, Subhanallah, engkau berkata demikian kepada orang sepertiku. Patutkah aku melakukan apa yang engkau sebutkan itu?” Tentunya, orang itu tidak melakukan perintah tersebut karena merasa itu akan menjatuhkan muruah dan menghinakan diri serta kehormatannya.