Penyucian Jiwa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin , 3 Rajab 1445 H / 15 Januari 2024 M.
Kajian Islam Ilmiah Tentang Penyucian Jiwa
Dari sahabat Zaid bin Arqam Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Aku tidak akan menyampaikan kepada kalian kecuali apa yang dahulu diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, terkadang berdoa:
اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بكَ مِنَ العَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَالْهَرَمِ، وَعَذَابِ القَبْرِ، اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَن زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بكَ مِن عِلْمٍ لا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا.
“Ya Allah, aku berlindung diri kepadaMu dari kelemahan, dari kemalasan, dari sifat penakut, sifat bakhil, dari masa tua yang buruk, dari azab kubur. Ya Allah, berikanlah jiwaku ketakwaannya, bersihkanlah ia, Engkaulah sebaik-baik yang membersihkannya, pelindung dan penolongnya. Ya Allah, aku berlindung diri kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusuk, dari jiwa yang tidak pernah kenyang, dan doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim)
Di dalam ini ada isyarat dan peringatan bahwasannya tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui segala yang ghaib. Dan kunci penyucian jiwa yang terbesar adalah dengan berdoa, memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena perkara jiwa ini adalah perkara yang besar, urusan yang tidak kecil.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا ﴿١﴾ وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا ﴿٢﴾ وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا ﴿٣﴾ وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا ﴿٤﴾ وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا ﴿٥﴾ وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا ﴿٦﴾ وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ﴿٧﴾ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ﴿٨﴾ قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ﴿٩﴾ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا ﴿١٠﴾
“Demi matahari dan sinarnya di pagi hari, dan bulan yang mengiringinya, dan siang yang menampakkannya, dan malam apabila menutupnya dengan gelap gulitanya. Dan langit juga pembangunannya yang sangat indah, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya. Allah ‘Azza wa Jalla mengilhamkan ketakwaan dan kejahatannya sungguh beruntung orang yang mensucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams[91]: 1-10)
Jiwa adalah tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat besar, yang sangat pantas untuk Allah bersumpah dengannya. Karena jiwa adalah sesuatu yang sangat lembut, sangat ringan, mudah berubah, mudah bergerak, mudah berganti, mudah terpengaruh dari keinginan, dari kecintaan, dari marah, dan sifat-sifat yang lainnya.
Jika jiwa ini tidak ada, maka badan itu seperti patung yang tidak ada gunanya. Maka penciptaan jiwa ini adalah tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung.
Firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Sungguh beruntung orang yang mensucikannya,” asal kata الزّكاة adalah tambahan kebaikan.