Renungan Pagi

Pilihan Ada di Tangan Kita (2)


Listen Later

Renungan pagi : PILIHAN ADA DI TANGAN KITA (bag.2)


Merenungkan 1 Timotius 6 :7, memberikan rasa tentram, rasa tenang, rasa cukup bahkan rasa sangat kaya dalam batin saya. Betapa tidak, dari ayat tersebut saya mengetahui dengan pasti, bahwa sesungguhnya saya tidak memiliki apapun, maaf...bukan hanya tidak memiliki apapun, tetapi sama sekali tidak pernah, ya.. saya tidak pernah memiliki apapun. Saya ingin mengulanginya lagi, “saya tidak pernah memiliki apapun”. Bahkan hidup yang saya hidupi sekarang sesungguhnya juga bukan milik saya.


Sekarang saya makin dapat lebih memahami dan merasakan kebenaran yang Paulus katakan, “Asal ada makan dan pakaian cukuplah." Saya memahaminya demikian: karena sesungguhnya saya tidak pernah memiliki apapun, dan hidup saya sendiri merupakan anugerah, lalu apa yang perlu untuk kelangsungan hidup itu, yakni ketersediaan makanan dan pakaian yang juga lagi-lagi merupakan pemberian dari Allah, adalah sebuah “kecukupan” yang patut diterima dengan rasa syukur. Ya, dengan memahami bahwa sesungguhnya kita tidak pernah memiliki apapun kita bisa menaikkan syukur dengan penuh kegembiraan untuk sesuatu yang menurut dunia ini “sangat sedikit”.

   

Mereka yang memahami bahwa sesungguhnya mereka tidak pernah memiliki apapun, jauh lebih mudah berterima kasih untuk apa yang sedikit. Hal ini bukanlah perkara sepele, karena sangat berpengaruh terhadap nilai ibadah kita kepada Tuhan. Maksudnya, kita bisa beribadah kepada Tuhan disertai rasa cukup. Betapa berharganya dan bernilainya sebuah ibadah yang disertai rasa cukup. Mengapa?


Karena ibadah yang disertai rasa cukup, menolong kita untuk tidak menjadikan hal ibadah sebagai cara untuk bertransaksi kepada Tuhan, sebagai cara untuk barter dengan Tuhan, atau sebuah proses jual beli dengan landasan utama untungnya buat saya apa. Justru ibadah kita akan diwarnai dengan kesukaan untuk mengorbankan kepentingan diri sendiri demi kemuliaan Nama-Nya. Hal seperti ini merupakan sesuatu yang boleh dikatakan sangat jarang sekarang ini. 


Jujur, seringkali nilai ibadah kita sudah terdegradasi menjadi sebuah transaksi, saya berikan apa, Tuhan akan ganti apa? Memberikan persembahan dengan harapan menerima lebih banyak dan bukan sebagai tanda rasa syukur karena telah menerima terlebih dahulu dari Tuhan. Merasa diri sudah melakukan sesuatu untuk Tuhan lalu mengharapkan menerima sesuatu lebih banyak lagi dari Tuhan. Akhirnya, Tuhan menjadi obyek untuk mendatangkan keuntungan dan kesenangan bagi diri sendiri. Padahal ibadah yang benar dan berkualitas adalah ibadah yang ditujukan untuk mendatangkan kesenangan bagi Bapa kita di dalam Kristus Yesus. 


Jika dihubungkan dengan kekuatiran, mereka yang merasa tidak pernah memiliki apapun di dunia ini, jauh lebih mudah untuk tidak kuatir, sebab, buat apa menguatirkan sesuatu yang tidak pernah dimiliki? Sebaliknya, karena merasa tidak pernah memiliki apapun, ibadah seseorang bebas dari keinginan untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri. Itulah yang Paulus ingatkan kepada Timotius agar waspada terhadap guru-guru palsu yang mengajarkan bahwa ibadah adalah sumber keuntungan, maksudnya keuntungan pribadi.


Jadi, kebenaran bahwa kita tidak pernah memiliki apapun akan mendatangkan rasa syukur dan kegembiraan yang sangat besar bagi mereka yang mata hatinya tercerahkan. Efeknya, sungguh penuh kuasa, karena melepaskan kita dari kekuatiran yang tidak perlu. Akibat selanjutnya, kita mempunyai banyak alasan lagi untuk mengucap syukur dan hidup dengan penuh kegembiraan di tahun 2021. Kiranya renungan ini menjadi perkataan-perkataan yang menggembirakan kita semua, sekalipun pilihan tetap ada di tangan kita masing-masing. Apakah mau menerima atau tidak!


...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Renungan PagiBy GPdI Ujung Menteng