
Sign up to save your podcasts
Or


Dalam Kurikulum Agama Islam, yang berubah hanya Assessment saja, tetapi isi materi maupun buku panduan bagi guru masih sama saja. Tidak ada perubahan yg signifikan. Menjadi sebuah tantangan untuk mengembangkan materi ajar yang mengarah kepada Islam yang humanis dan kognitif (inklusi kepada pengetahuan baru). Bagaimana solusinya?
Apabila Anda juga ingin menyampaikan pertanyaan/masukan/usulan topik/dsb kepada Prof. Amin Abdullah, kirimkan melalui email ke: [email protected]
Akses juga versi video Podcast ini: https://www.youtube.com/playlist?list=PLKN0wcIUtKYl6XgCsBzQU7oHySOaBr_z7
Bagaimana Bersikap di Tengah Lingkungan yang Berbeda Budaya atau Agama? Bagaimana memediasi situasi yang bertentangan dengan nilai-nilai kita? Simak jawaban Prof. M. Amin Abdullah di Podcast Amin Abdullah episode ke-32 berikut ini.
Prof. M. Amin Abdullah adalah seorang Filsuf, Ilmuwan, dan Cendekiawan Muslim Indonesia.
Apabila Anda juga ingin menyampaikan pertanyaan/masukan/usulan topik/dsb kepada Prof. Amin Abdullah, kirimkan melalui email ke: [email protected]
Akses juga versi video Podcast ini: https://www.youtube.com/playlist?list=PLKN0wcIUtKYl6XgCsBzQU7oHySOaBr_z7
Ada sebuah mindset yang begitu berubah, yang selalu dikait-kaitkan dengan agama. Seakaan-akan agama ini seperti racun, contoh bom bunuh diri. Ini kan menjadi stigma dengan melabel-labelkan agama. Ini bagaimana Pak Prof? Hal-hal seperti itu merubah orang yang dulunya itu tidak berpikir ekstrim, ketika mendengar hal seperti ini, atau mengikuti training seperti ini, dia menjadi lebih nakal atau lebih gila pemikirannya. Mungkin bisa dijelaskan Prof, kenapa bisa seperti itu?
Pertanyaan tersebut diajukan oleh Bapak Muhamad Solehan, Penyuluh Agama di kabupaten Tolli-toli, Sulawesi Tengah. Simak jawaban Prof. Amin Abdullah di #PodcastAminAbdullah episode ke-31 ini.
Prof. M. Amin Abdullah adalah seorang Filsuf, Ilmuwan, dan Cendekiawan Muslim Indonesia.
Apabila Anda juga ingin menyampaikan pertanyaan/masukan/usulan topik/dsb kepada Prof. Amin Abdullah, kirimkan melalui email ke: [email protected]
Akses juga versi video Podcast ini: https://www.youtube.com/playlist?list=PLKN0wcIUtKYl6XgCsBzQU7oHySOaBr_z7
Apakah boleh Islam mengucapkan selamat natal kalau dilihat dari pendekatan multidisiplin, kemudian aktif toleran, dan lain sebagainya? Simak jawaban Prof. Amin Abdullah di Podcast Amin Abdullah episode ke-30 ini.
Prof. M. Amin Abdullah adalah seorang Filsuf, Ilmuwan, dan Cendekiawan Muslim Indonesia.
Apabila Anda juga ingin menyampaikan pertanyaan/masukan/usulan topik/dsb kepada Prof. Amin Abdullah, kirimkan melalui email ke: [email protected]
Akses juga versi video Podcast ini: https://www.youtube.com/playlist?list=PLKN0wcIUtKYl6XgCsBzQU7oHySOaBr_z7
Setiap penganut agama dituntut memahami agamanya sendiri dengan benar dan utuh. Bagaimana cara kita memahami agama dengan benar dan utuh agar mampu berkolaborasi dengan budaya ataupun aturan-aturan di suatu daerah?
Prof. M. Amin Abdullah adalah seorang Filsuf, Ilmuwan, dan Cendekiawan Muslim Indonesia.
Apabila Anda juga ingin menyampaikan pertanyaan/masukan/usulan topik/dsb kepada Prof. Amin Abdullah, kirimkan melalui email ke: [email protected]
Akses juga versi video Podcast ini: https://www.youtube.com/playlist?list=PLKN0wcIUtKYl6XgCsBzQU7oHySOaBr_z7
Mungkin karena saya kurang pergaulan.... Saya pribadi merasa baik-baik saja dengan teman-teman non-muslim. Keruncingan masalah biasanya hanya terjadi pada moment-moment tertentu (politik, perebutan wilayah dll) yang berimbas kepada masing-masing penganutnya. Kalau dilihat yang terlibat, paling hanya ustad-ustad dan para pastor... Bagi saya garis lakum dinikum waliyadin sudah cukup... Bagaimana menurut Prof?
Pertanyaan tersebut diajukan oleh Bapak Moh. Anis, Malang, Jawa Timur.
Simak jawaban Prof. Amin Abdullah di #PodcastAminAbdullah episode ke-28 ini.
Prof. M. Amin Abdullah adalah seorang Filsuf, Ilmuwan, dan Cendekiawan Muslim Indonesia.
Apabila Anda juga ingin menyampaikan pertanyaan/masukan/usulan topik/dsb kepada Prof. Amin Abdullah, kirimkan melalui email ke: [email protected]
Akses juga versi video Podcast ini: https://youtu.be/br1JQU_Nwbw
Mungkin karena saya kurang pergaulan.... Saya pribadi merasa baik-baik saja dengan teman-teman non-muslim. Keruncingan masalah biasanya hanya terjadi pada moment-moment tertentu (politik, perebutan wilayah dll) yang berimbas kepada masing-masing penganutnya. Kalau dilihat yang terlibat, paling hanya ustad-ustad dan para pastor... Bagi saya garis lakum dinikum waliyadin sudah cukup... Bagaimana menurut Prof?
Bagaimana menyikapi orang yang bisa toleran dengan yang berbeda keyakinan, namun justru intoleran dengan yang berbeda cara pandang padahal memiliki keyakinan yang sama?
“Assalamualaikum Prof. Terima kasih atas kesempatannya untuk bertanya. Apakah jika di sekolah muslim tetap mewajibkan siswa-siswi yang tidak muslim hadir dalam pelajaran PAI termasuk dari sikap intoleransi (karena di sekolah yang tidak muslim juga ada beberapa yang mewajibkan siswa-siswi mewajibkan untuk mengikuti mapel agamanya)? Jika tidak, maka bagaimana cara kita menyampaikan ajaran agama Islam jika menjelaskan tentang Aqidah Muslim?".
From the publisher's feed