Problematika Rumah Tangga adalah kajian tematik yang disampaikan oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc. Hafidzahullah pada Sabtu, 6 Safar 1444 H / 3 September 2022 M.
Problematika Rumah Tangga
Pembahasan ini sangat penting dan dibutuhkan oleh kita semua, baik yang sudah menikah atau yang belum menikah. Betapa banyaknya orang yang masuk ke dalam dunia rumah tangga tanpa berilmu akhirnya bertemu jalan buntu. Karena mengikuti hawa nafsu didalam rumah tangga, mengikuti pola-pola orang di luar agama Islam dalam rumah tangga, mengikuti hanya kebiasaan masyarakat, sehingga bertemu dengan realita-realita pahit. Dan setelah bertemu realita pahit baru mencari Ustadz yang mengerti agama bagaimana solusinya. Ketika masalah itu sudah besar, tentu tidak mudah dalam menyelesaikannya.
Siapapun di antara kita yang ingin menjadi manusia bahagia hidup di permukaan bumi, dia wajib paham dan mengerti bahwa kunci kebahagiaan itu di rumah tangga. Mustahil anda menjadi manusia bahagia kalau rumah tangga semrawut. Jika rumah tangga tidak memberikan kebahagiaan, harta sebanyak apapun tak ada artinya, pangkat setinggi apapun takkan menghantarkan manusia kepada kebahagiaan. Karena kunci kebahagiaan itu letaknya di rumah tangga.
Maka siapapun yang benar ingin bahagia, dia berkewajiban untuk mengurus rumah tangganya sehingga menjadi rumah tangga yang nyaman dan dia idam-idamkan. Tentu sesuai dengan syariat. Karena Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengajarkan segala-galanya kepada manusia.
Ayat yang paling sering dibacakan orang ketika menikah adalah surah Ar-Rum ayat 21.
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا …
“Di antara tanda-tanda kebesaran Allah ketika Allah menciptakan untuk kalian dari jenis kalian sendiri pasangan-pasangan, agar kalian tenang dan tentram bersama pasangan itu…” (QS. Ar-Rum[30]: 21)
Lihat baik-baik, dimana Allah letakkan ketenangan dan ketentraman. Jawabannya adalah pada pasangan, bukan di kedai kopi.
Mari masing-masing kita yang sudah memiliki pasangan bertanya. Apakah benar hal yang paling nyaman dan tentram bagi kita adalah ketika sedang duduk bercengkrama bersama pasangan kita? Kalau iya, maka kita sudah mengamalkan ayat ini.
Coba cari di dalam ayat Al-Qur’an atau di dalam hadits Nabi yang mengatakan jabatan atau popularitas memberikan kebahagiaan, ketenangan dan ketentraman. Tentu tidak ada. Oleh karena itu sehebat apapun anda memegang sebuah jabatan, sebesar apapun perusahaanmu, sebanyak apapun karyawan anda, seterkenal apapun dirimu, kalau bersama pasangan tidak nyaman, maka selamat menderita.
Di dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang amalan yang memasukkan seseorang ke dalam surga. Rasul menunjuk lisannya seraya berkata Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ
“Tahan lisanmu ini, dan hendaklah rumahmu lapang (nyaman) bagimu.” (HR. Bukhari)
Makna “lapang” di sini tentunya bukan dilapangkan dari sisi luas rumah. Tapi hendaknya rumah itu nyaman dan indah bagi kita. Rumah yang kalau kita sudah berada di dalamnya terasa tenang, tenteram dan bahagia ketika bersama istri dan anak-anak.
Maka masing-masing kita jujur kepada diri sendiri walau tidak perlu dijawab. Majelis mana yang paling kita sukai? Kalau jawabannya belum bersama istri dan anak-anak, maka kita harus sadar bahwa kita belum menjadi manusia bahagia. Ini harus diperbaiki, karena berarti ada masalah dalam hubungan itu. Dan itu yang telah perlahan tapi pasti mengusir kita dari koridor kebahagiaan.
Kalau seandainya jawaban duduk yang paling kita sukai adalah duduk bersama pasangan dan anak-anak, masyaAllah anda sudah dekat dengan firman Allah Tabaraka wa Ta’ala.