Radio Rodja 756 AM

Saat Kehilangan Buah Hati


Listen Later

Saat Kehilangan Buah Hati ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 20 Dzul Qa’dah 1443 H / 20 Juni 2022 M.

Kajian Tentang Saat Kehilangan Buah Hati
Tidak ada orang tua yang mengharapkan kehilangan anak. Bahkan sekalipun anak itu nakalnya luar biasa. Apalagi ibu-ibu, meskipun anaknya nakal, dia tetap merasa bahwa anak merupakan buah hatinya. Apalagi seandainya anak itu baik dan shalih.
Tidak ada orang tua yang mau kehilangan anaknya. Bahkan membayangkannya saja sudah menakutkan.
Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan apapun yang Dia kehendaki. Sebesar apapun upaya orang tua agar anaknya tidak meninggal dunia, apabila sudah ditakdirkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk meninggal dunia maka anak itu akan meninggal pula. Walaupun dia mengumpulkan dokter sebanyak apapun, walaupun dia berusaha dan berdoa semaksimal apapun, kalau memang saatnya anak itu meninggal maka akan meninggal juga.
Tentunya ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan adanya anak-anak yang meninggal walaupun orang tuanya keberatan, pasti ada hikmah kebaikan dibalik musibah tersebut.
Andaikan ada manusia yang pantas untuk terbebas dari ujian, niscaya manusia tersebut adalah yang paling dicintai oleh Allah, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tapi ternyata Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun mengalami banyak ujian.
Salah satu ujian untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah kehilangan anak. Dan tidak tanggung-tanggung seluruh putra-putri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggal dunia saat beliau masih hidup kecuali satu saja, yaitu Fatimah Radhiyallahu ‘Anha. Bagaimana sedihnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?
Sekedar kehilangan anak saja sudah sedih. Namun yang dihadapi oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukan hanya itu, tapi juga diolok-olok oleh Musyrikin Quraisy. Mereka menghina Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena anaknya meninggal semua, tidak ada penerusnya (terputus). Sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firmanNya:
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS. Al-Kausar[108]: 3)
Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencontohkan kepada kita bagaimana seharusnya bersikap ketika kehilangan buah hati.
Salah satu yang terekam ketika beliau kehilangan putranya adalah ketika Ibrahim. Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu bercerita: “Suatu hari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menunggui Ibrahim putra beliau yang sedang dalam keadaan sakaratul maut.”
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menangis sampai air matanya bercucuran. Saat itu di samping Nabi ada Abdurrahman bin Auf. Ketika melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menangis, Abdurrahman pun bertanya: “Wahai Rasulullah, engkau menangis?”
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:
يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ
“Wahai Abdurrahman, tangisan ini adalah pertanda adanya kasih sayang.”
Jadi ketika anak atau orang tua kita meninggal lalu kita menangis, itu pertanda bahwa kita punya rasa sayang. Ini manusiawi.
Baru setelah itu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan sikap yang seharusnya dilakukan ketika orang kehilangan manusia yang dia sayangi. Beliau bersabda:
إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إبراهيم لَمَحْزُونُونَ
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AMBy Radio Rodja 756AM

  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1

4.1

7 ratings