
Sign up to save your podcasts
Or


Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
[Bacaan Injil : Yohanes 17 : 20 - 26
Hari Minggu Paskah ke-7 (2 Juni 2019)]
Ketika mengalami masalah atau kesusahan didalam hidup, biasanya kita melakukan respon atas hal tersebut. Ada tiga respon terhadap kesulitan dalam hidup, yaitu menghindari atau melarikan diri, menyerah pasrah, dan yang terakhir merangkul atau mengubahnya menjadi sarana pertumbuhan dan kemuliaan kita. Ini merupakan kemuliaan sejati karena mengalir dari kesulitan, kerja keras, dan pengorbanan. Dalam menjalani hidup dorongan alami dalam diri manusia untuk menghindari apa yang menyakitkan dan untuk mengambil apa yang menyenangkan. Namun, pada dasarnya adalah bahwa semakin kita merangkul kesulitan hidup, maka diri kita semakin didewasakan dan dikuatkan. Inilah kebijaksanaan yang telah diakui oleh orang-orang sejak zaman dulu. Kebijaksanaan ini mengajarkan bahwa kita jangan lari dari kesulitan hidup, tetapi harus merasakan dan merangkulnya agar diri kita menjadi lebih kuat dan dewasa. Jika tidak, kita bisa berubah menjadi generasi yang mudah menyerah dan tidak bisa bersyukur. Dalam Injil hari ini, Yesus menjanjikan kita para murid-Nya sebuah kemuliaan. Namun, ada perbedaan antara kemuliaan dunia dan kemuliaan Yesus. Kemuliaan dunia pada akhirnya adalah tentang kesuksesan dan keberhasilan pribadi, tetapi kemuliaan Yesus adalah tentang salib. Ketika Yesus menganggap salib-Nya sebagai kemuliaan-Nya, maka kita perlu menganggap bahwa salib harian kita adalah sebagai kemuliaan bagi kita. Salib adalah sebuah absurditas dan hanya karena kehadiran Yesus yang telah mengorbankan hidup-Nya untuk kita, salib menemukan makna terdalamnya. Salib bukanlah apa-apa, kecuali itu diarahkan sebagai sarana kasih cinta pengorbanan. Kapasitas kita untuk mengasihi ditentukan oleh kemampuan untuk memikul salib dengan mau menderita seperti Yesus. Keberanian untuk memikul salib,memberikan kemampuan kepada kita untuk mencintai, karena ketika kita mencintai sampai akhir, disitulah kita menerima kemuliaan.
By Aquinas CenterRomo Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
[Bacaan Injil : Yohanes 17 : 20 - 26
Hari Minggu Paskah ke-7 (2 Juni 2019)]
Ketika mengalami masalah atau kesusahan didalam hidup, biasanya kita melakukan respon atas hal tersebut. Ada tiga respon terhadap kesulitan dalam hidup, yaitu menghindari atau melarikan diri, menyerah pasrah, dan yang terakhir merangkul atau mengubahnya menjadi sarana pertumbuhan dan kemuliaan kita. Ini merupakan kemuliaan sejati karena mengalir dari kesulitan, kerja keras, dan pengorbanan. Dalam menjalani hidup dorongan alami dalam diri manusia untuk menghindari apa yang menyakitkan dan untuk mengambil apa yang menyenangkan. Namun, pada dasarnya adalah bahwa semakin kita merangkul kesulitan hidup, maka diri kita semakin didewasakan dan dikuatkan. Inilah kebijaksanaan yang telah diakui oleh orang-orang sejak zaman dulu. Kebijaksanaan ini mengajarkan bahwa kita jangan lari dari kesulitan hidup, tetapi harus merasakan dan merangkulnya agar diri kita menjadi lebih kuat dan dewasa. Jika tidak, kita bisa berubah menjadi generasi yang mudah menyerah dan tidak bisa bersyukur. Dalam Injil hari ini, Yesus menjanjikan kita para murid-Nya sebuah kemuliaan. Namun, ada perbedaan antara kemuliaan dunia dan kemuliaan Yesus. Kemuliaan dunia pada akhirnya adalah tentang kesuksesan dan keberhasilan pribadi, tetapi kemuliaan Yesus adalah tentang salib. Ketika Yesus menganggap salib-Nya sebagai kemuliaan-Nya, maka kita perlu menganggap bahwa salib harian kita adalah sebagai kemuliaan bagi kita. Salib adalah sebuah absurditas dan hanya karena kehadiran Yesus yang telah mengorbankan hidup-Nya untuk kita, salib menemukan makna terdalamnya. Salib bukanlah apa-apa, kecuali itu diarahkan sebagai sarana kasih cinta pengorbanan. Kapasitas kita untuk mengasihi ditentukan oleh kemampuan untuk memikul salib dengan mau menderita seperti Yesus. Keberanian untuk memikul salib,memberikan kemampuan kepada kita untuk mencintai, karena ketika kita mencintai sampai akhir, disitulah kita menerima kemuliaan.