Radio Rodja 756 AM

Sebatas Inilah Kadar Manusia


Listen Later

Sebatas Inilah Kadar Manusia merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 26 Dzulhijjah 1443 H / 26 Juli 2022 M.
Kajian sebelumnya: Bersahabat dengan Orang-Orang Yang ikhlas
Sebatas Inilah Kadar Manusia
Sebatas inilah kadar manusia, yaitu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah melakukan usaha yang terbaik.
Salah satu hal yang mendorong kita untuk marah kepada anak anak tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, jauh dari ekspektasi yang kita inginkan, apalagi kalau kita bandingkan dengan anak orang lain. Ketika kita dapati anak tidak seperti yang kita harapkan, maka kita pun terdorong untuk marah.
Tidak jarang orang tua menyebut anak orang lain di harapan anaknya. Tentu tujuannya bukan untuk memotivasi, tapi untuk menjatuhkan dan meluapkan kekecewaan. Seolah-olah dia mengatakan: “Aku mau engkau seperti dia, tapi engkau tidak seperti dia.”
Maka disini kita perlu menyadari bahwa manusia dibatasi, ada limit yang tidak bisa kita lewati. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan segala sesuatu dengan kadarnya.
وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ
“Dialah Allah yang telah menetapkan kadar dan memberikan petunjuk.” (QS. Al-A’la[87]: 3)
Artinya ada orang-orang yang Allah kehendaki mendapatkan hidayah dan ada orang-orang yang tidaklah Allah kehendaki untuk mendapatkan hidayah itu.
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya segala sesuatu telah Kami ciptakan dengan kadar (batas).” (QS. Al-Qamar[54]: 49)
Kita sebagai orang tua juga ada batasnya. Kita tidak kuasa untuk menjamah hal-hal yang itu bukan merupakan domain manusia, yaitu memberikan hidayah. Kita sadar betul bahwa itu bukan kuasa kita. Allah mengatakan:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ…
“Engkau tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai, tapi Allah ia memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendakiNya…” (QS. Al-Qasas[28]: 56)
Hanya saja kita tidak boleh menyerah dan berserah diri kepada takdir tanpa usaha, itu bukanlah tawakal. Maka setelah melakukan ikhtiar yang bisa kita lakukan, mendidik anak semampu kita sesuai dengan kapasitas kapasitas yang kita miliki, mulai dari menyekolahkan di sekolah yang baik untuk agamanya, sekolah yang mengajarkan sunnah, dimasukkan ke pesantren, misalnya segala sesuatu sudah dilakukan, ingat bahwa hidayah bukan di tangan orang tua.
Hal itu juga terjadi atas para Nabi dan Rasul. Apakah Nabi tidak mendakwahi Abu Thalib dan baru mendakwahinya pada saat Abu Thalib sekarat? Apakah Nabi Nuh tidak mendidik anaknya sehingga anak itu harus tenggelam bersama orang-orang yang kafir? Apakah Nabi Luth tidak pernah mendakwahi istrinya sehingga menghianati dan memberitahukan keberadaan tamu-tamu (para malaikat) kepada kaumnya? Tentu jawabannya tidak, para Nabi dan Rasul telah melakukan usaha yang terbaik. Mereka telah mengerjakan apa yang Allah perintahkan. Tapi sekali lagi, ini yang harus kita sadari bahwa hidayah itu bukan di tangan orang tua.
Maka setelah melakukan usaha terbaik sampai kepada puncak ikhtiar (yaitu doa), kita harus sadar bahwa manusia ada batas yang tidak akan bisa dia lewati. Sepintar apapun dia, sekuat apapun ikhtiar yang sudah dia lakukan, setinggi apapun kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ…
“Tidaklah kamu berkehendak melainkan semua dibawah kehendak Allah S...
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AMBy Radio Rodja 756AM

  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1

4.1

7 ratings