Radio Rodja 756 AM

Sifat Maji’ dan Ityan


Listen Later

Sifat Maji’ dan Ityan ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Tentang Nama-Nama Allah dan Sifat-SifatNya. Kajian ini disampaikan pada Jum’at, 29 Rabiul Awal 1443 H / 5 November 2021 M.
Kajian sebelumnya: Allah Turun Ke Langit Bumi

Kajian Tentang Sifat Maji’ dan Ityan
Di antara sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Maji’ (datang). Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat datang untuk melakukan pengadilan (menghisab) manusia. Hal yang demikian itu tentunya sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kenapa kita mengimani hal ini tanpa ada keraguan sedikitpun? Jawabnya adalah karena terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits shahih penjelasan tentang sifat tersebut.
Satu hal yang perlu kita tersampaikan. Jika terbesit dalam benak pikiran kita tasbih (penyerupaan) Allah datang. Kemudian kita mulai menghayalkan bagaimana datangnya, apakah pindah/turun dengan DzatNya dan ‘Arsy kosong, karena itu makna ‘datang’ dalam kehidupan kita. Maka makna seperti yang harus kita singkirkan. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada yang suatupun yang serupa dengan Allah. Sementara Allah mendengar dan melihat.” (QS. Asy-Syura[42]: 11)
Ini prinsip/kaedah yang sangat penting sekali. Allah tetapkan bagiNya pendengaran dan penglihatan. Artinya Allah memiliki sifat yang ditetapkan Allah dan RasulNya dan sifat tersebut tidak menyerupai satupun dari sifat makhluk.
Kenapa kita berani mengatakan bahwa Allah turun ke langit bumi, Allah istiwa’ di atas ‘Arsy, Allah datang pada hari kiamat? Demi Allah, tiada yang menyebabkan kita mengatakannya kecuali karena kita mendapatkan di dalam Al-Qur’an Allah yang menyatakannya dan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjelaskan tentang hal itu.
Adapun bila terbesit dalam benak pikiran kita berbagai makna-makna yang batil atau pemahaman-pemahaman yang negatif, maka ini harus disingkirkan. Karena kalau terus kita buka peluang dalam pikiran untuk menghayalkan/merenungkan berbagai makna-makna yang negatif tersebut, maka akan berakhir kepada suatu aqidah yang sangat berbahaya, yaitu ta’thil (mengingkari) dengan alasan ingin mensucikan Allah.
Setelah mereka mengingkari, bagaimana memahami makna ayat tersebut? Yaitu mereka mentakwil yang inginya adalah pengingkaran pada maknanya sehingga terjadi berbagai perbedaan dalam mentakwil yang masing-masing berusaha untuk menafsirkannya sesuai dengan latar belakang pemikiran dan juga prinsip dasar yang telah dia cetuskan sebelumnya. Menurut mereka kalau ditetapkan secara zhahirnya berarti akan menyerupai sifat makhluk, itulah penyebab kenapa ahlul kalam mentakwil kemudian mengingkari sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mereka juga menggunakan ayat لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ, tapi tidak dilanjutkan kepada ayat sesudahnya. Pada ayat tersebut ada penafian dan penetapan. Yang dinafikan adalah penyerupaan sedangkan yang ditetapkan adalah sifat-sifat Allah. Berarti menetapkan sifat tidak melazimkan adanya penyerupaan.
Inilah aqidah Salafush Shalih, beginilah mereka beraqidah, inilah keyakinan mereka. Mereka sungguh generasi pilihan yang dipilih untuk menemani RasulNya, yang harus dijadikan sebagai suri tauladan dan pedoman di dalam memahami Al-Qur’an dan hadits.
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AMBy Radio Rodja 756AM

  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1

4.1

7 ratings