Talbis Iblis Tentang Tingkatan Syariat dan Hakikat ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 5 Jumadal Akhir 1445 H / 18 Desember 2023 M.
Talbis Iblis Tentang Tingkatan Syariat dan Hakikat
Kaum Sufi membedakan antara syariat dan hakikat. Ada yang mereka sebut sebagai ilmu syariat, ada juga yang mereka sebut sebagai ilmu hakikat. Tentunya hakikat ini derajatnya lebih tinggi daripada syariat dalam pandangan mereka.
Ibnul Jauzi mengatakan: “Ini adalah satu kejahilan dari orang yang mengucapkannya, karena syariat itu sepenuhnya adalah hakikat.” Namun, yang dimaksud oleh kaum Sufi dengan syariat adalah ilmu zahir, yaitu sesuatu yang tertulis dan termaktub secara tekstual dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Adapun hakikat adalah sesuatu yang tersembunyi, tidak tampak, dan tidak termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ini hanya bisa diketahui melalui proses-proses pensucian jiwa, karena mereka menganut paham bertakwa dulu baru berilmu. Mereka mengejar tingkat ketakwaan yang menurut mereka tingi lalu secara otomatis ilmu akan datang.
Ini adalah sesuatu yang keliru. Karena syariat merupakan inti dari agama, bahkan itulah hakikat agama, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi bahwa syariat itu sepenuhnya hakikat.
Abul Hasan bin Salim menjelaskan riwayat-riwayat yang mengatakan bahwa para ulama, bahkan pendahulu kaum Sufi, mereka juga mengedepankan ilmu syariat. Mereka bahkan mengingkari kaum Sufi yang datang belakangan yang berpaling dari zahir, yaitu perkara lahiriyah atau ilmu syariat.
Abul Hasan bin Salim mengatakan: “Seseorang menemui Sahl bin Abdillah dengan membawa tinta dan buku. Dia berkata: ‘Aku datang untuk mencatat ilmu. Semoga Allah memberiku manfaat melalui usaha ini.’ Maka Sahl bin Abdillah menjawab: ‘Tulislah, jika kamu bisa bertemu Allah dengan membawa tinta dan buku, lakukanlah.'”
Abul Hasan bin Salim memerintahkan orang itu untuk menulis dan mencatat ilmu-ilmu syariat. Dia berpesan agar kalau bisa bertemu dengan Allah dalam keadaan masih tetap menuntut ilmu, maka lakukanlah. Artinya, tetaplah kamu menuntut ilmu sampai bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikianlah, dalam pandangan ulama-ulama terdahulu, bahkan sampai ulama-ulama Sufi generasi pertama, mereka juga mengedepankan ilmu syariat sebagai sesuatu yang penting yang merupakan pondasi agama.
Ada seseorang bertanya: “Wahai Abu Muhammad, ajarkan aku sesuatu yang bermanfaat.” Maka Sahl bin Abdillah menjawab: “Dunia itu seluruhnya kejahilan kecuali ilmu, dan ilmu itu seluruhnya hujjah (tuntutan) kecuali yang diamalkan. Amalan itu seluruhnya tertolak kecuali yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan Sunnah itu harus berdasarkan ketakwaan.”
Jadi, semua urusan agama itu penting; tazkiyatun nufus penting, membersihkan diri supaya meraih derajat takwa itu penting. Menuntut ilmu juga penting. Maka tidak boleh kita meremehkan satu sisi, dan terfokus hanya pada satu sisi yang lainnya. Karena seluruh perkara agama itu saling terkait satu sama lain. Maka tidak ada hal yang tidak penting dalam agama. Ada perkara ushuluddin, ibadah, akhlak, dan semuanya penting. Setan memang menggelincirkan manusia dari sisi yang dia lemah.