Radio Rodja 756 AM

Talbis Iblis Terkait Syathah atas Kaum Sufi


Listen Later


Talbis Iblis Terkait Syathah atas Kaum Sufi ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 14 Ramadhan 1445 H / 25 Maret 2024 M.







Kajian tentang Penyimpangan Kaum Sufi Terhadap Doa



Syathah adalah sesuatu yang lemah dan kurang. Namun yang dimaksud di sini adalah perkataan yang diucapkan oleh seseorang yang dalam kondisi seperti tidak sadar, berupa kata-kata yang receh, konyol, atau ngawur. Mungkin kita semua pernah mendengar ungkapan dari mereka, seperti “Aku tidak berharap masuk surga dan tidak takut masuk neraka”. Ini disebut sebagai sebuah perkara syathah.



Mungkin orang yang mengucapkannya tidak tahu apa yang diucapkannya, tidak tahu apa kandungan perkataan kalimat yang terlontar dari lisannya, dan bisa jadi itu adalah kata-kata yang kufur. Tapi begitulah karena kejahilan. Sebagian orang kadang-kadang meracau dan mengatakan kata-kata yang konyol dan berbahaya, bisa membatalkan imannya.



Ibnul Jauzi mengatakan bahwa ilmu syar’i akan menumbuhkan perasaan takut, sehingga muncul kehati-hatian dan memandang rendah kepada diri sendiri, dan akan membentuk sikap lebih banyak menahan kata-kata. Hal ini sebagaimana kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,



مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ



“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)



Rasa takut inilah yang mendorong mereka untuk menahan kata-kata. Perhatikan kondisi para Salaf, kita pasti merasakan bahwa rasa takut telah menguasai hati mereka. Hingga mereka jauh dari ungkapan yang mengada-ngada. Seperti perkataan Umar bin Khattab, “Celakalah Umar jika tidak diampuni.” Demikian juga Abdullah bin Mas’ud, “Andai saja aku tidak dibangkitkan lagi setelah mati.” Demikian juga perkataan Aisyah, “Andai saja aku bisa menjadi orang yang tidak diperhatikan dan orang yang dilupakan.” Ini menunjukkan ketawaduan dan kerendahan diri, merasa bahwa mereka bukan apa-apa. Walaupun kita tahu kedudukan mereka luar biasa. Tapi mereka tidak menganggap suatu hal yang besar bagi diri mereka. Dan itu tidak menurunkan kadar mereka.



Sufyan Ats-Tsauri saat ajal menjemputnya bertanya kepada Hammad bin Salamah, “Apa kamu mengira orang seperti aku akan diampuni?” Mungkin beliau teringat dosa-dosa, lalu beliau berkata perkataan seperti itu.



Ibnul Jauzi mengatakan bahwa kata-kata seperti itu muncul dari para imam kaum muslimin. Hal ini karena kuatnya ilmu mereka tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kekuatan ilmu itu bisa memunculkan perasaan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga memunculkan ketawadhuan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan di hadapan manusia.



Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



…إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ…



“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir[35]: 28)



Ilmu yang mereka miliki mendorong mereka untuk takut kepada Allah daripada yang lainnya. Karena semakin tinggi ilmu seorang tentang Allah, maka semakin tebal rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala...
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AMBy Radio Rodja 756AM

  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1

4.1

7 ratings