Renungan Pagi

Tinggalkan Mesir dan Tolak Kanaan


Listen Later

Renungan pagi : TINGGALKAN MESIR DAN TOLAK KANAAN 


Imamat 18:3, mengatakan : Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir, di mana kamu diam dahulu; juga janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan, ke mana Aku membawa kamu; janganlah kamu hidup menurut kebiasaan mereka.

 

Dari ayat tersebut di atas kita tahu bahwa Allah menginginkan umat-Nya menjadi umat yang memiliki cara hidup berbeda dengan bangsa Mesir di mana mereka dulu diam, juga tidak mengikuti kebiasaan atau budaya orang Kanaan, kemana Dia  akan membawa mereka. 


Bagaimana caranya? Menjelang Israel menyeberangi sungai Yordan untuk masuk tanah Kanaan Allah berfirman melalui hamba-Nya, Musa, di dalam Ulangan 6:4-5,

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! _Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. 


Perintah penting ini harus ditaati untuk membuat perbedaan dengan cara hidup orang Mesir maupun cara hidup di negeri perjanjian yang adalah tanah dari bangsa-bangsa penyembah berhala. 


Allah mengeluarkan Israel dari tanah Mesir untuk membawa mereka kepada diri-Nya sendiri. Untuk menjadi suatu bangsa yang menjadi milik kesayangan-Nya dengan suatu panggilan yang khusus yakni mengasihi Allah dengan seluruh keberadaan mereka. 

Keluaran 19:4, mencatat :

Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku.


Inilah rancangan Allah juga bagi kita melalui Kristus, yang telah menjadi korban pendamaian bagi kita. Sebab tanpa pendamaian yang dilakukan oleh Kristus melalui pencurahan darah-Nya di kayu salib, kita tidak mungkin dapat mengalami kasih Allah ataupun sebaliknya mampu mengasihi Dia. Rasul Yohanes menuliskannya dalam surat 1 Yohanes 4:10, 

Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.

 

Ini suatu rancangan yang mendasar dan otentik yang tidak dimiliki oleh agama manapun di dunia ini, yang memanggil umatnya untuk memiliki hubungan yang begitu spesial dengan Tuhannya.  Hanya Allah di dalam Kristus yang memiliki rancangan seperti itu.


Sayangnya, dalam dunia yang semakin mencintai diri sendiri, egois dan materialistis, berita tentang mengasihi Allah menjadi sesuatu yang terasa hanya memberatkan hati, atau malah dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan bahkan tidak mungkin dilakukan.


Sebagai orang percaya, kita perlu menolak pesimisme dunia akan keberadaan Allah yang penuh kasih dan kerinduan-Nya untuk memiliki hubungan kasih dengan umat-Nya. Justru kita harus menerima dengan syukur bahwa kita dirancang untuk memiliki hubungan kasih terutama dan perrtama-tama dengan diri Allah sendiri. Jangan keluar dari rancangan ini, sebab jika kita keluar dari maksud-Nya yang mulia ini maka hidup kita akan terjebak dalam ruang hampa,  sehingga apapun kita kerjakan dan hasilkan di dunia ini akan sia-sia karena hanya tertuju bagi kepentingan diri kita sendiri. Mari, kita tinggalkan Mesir, atau cara hidup lama kita sekaligus menolak Kanaan, yakni, kebiasaan hidup yang bukan dari Tuhan untuk membangun budaya baru di rumah kita, dengan mengasihi Tuhan yang telah terlebih dahulu mengasihi kita.  


Saya Theo Barahama, mari pancarkan Kerajaan Sorga dari rumah kita. GBU

...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Renungan PagiBy GPdI Ujung Menteng