Pagi itu Ani seorang karyawan sebuah perusahaan multinasional seperti biasa masuk bekerja pada pagi hari. Hari ini Ani tidak menyangka bawah atasannya sedang uring-uringan. Seperti biasa Ia masuk ruang kerjanya lalu mulai mempersiapkan pekerjaan hari itu. Karena beberapa hari ini ya harus keluar kota maka banyak pekerjaan yang menumpuk yang harus dia selesaikan. Atasannya adalah seorang wanita paruh baya dengan tipe wanita karir dan sangat berambisi untuk terus mendidik hari hingga level yang paling tinggi di perusahaan tersebut.
Ani sudah bekerja kurang lebih 2 tahun sebagai asisten dari atasannya tersebut dan ia adalah orang yang sangat perfeksionis sehingga banyak hal jika tidak selesai akan membuatnya menjadi sangat gelisah. Selama ini Ani bekerja dengan sangat baik hal itu jugalah yang membuat atasannya begitu menyukainya.
Namun sekitar 2 bulan yang lalu Ani melakukan kesalahan cukup fatal yaitu mengirimkan surat yang seharusnya ia tidak sampaikan kepada orang yang tidak tepat.
Ani beralasan bahwa waktu itu itu Ia melakukan kesalahan Karena banyaknya tugas yang harus ia selesaikan. Atasan mengenal Ani sebagai orang yang perfeksionis sehingga atasan merasa bahwa Ani mulai melawan terhadap dirinya.
Awalnya Ani tidak merasa bahwa kesalahan yang ia lakukan di saat itu sedemikian fatal bagi atasannya sehingga Ia tetap melakukan pekerjaan pekerjaannya seperti biasa.
Namun semakin lama atasannya mulai memperlakukan Ani tidak sewajarnya antara lain dengan mendiamkan Ani berhari-hari, tidak memberikan arahan dan tugas selayaknya bahkan cenderung Ani hanya dibiarkan. ketika Ani bertanya tentang tugas apa yang ia bisa bantu dari atasannya atasannya hanya membuang muka bahkan tidak memberikan jawaban apa-apa.
Perubahan sikap atas Ani tentunya memberikan dampak yang kurang baik bagi Ani karena ia menjadi di merasa tidak berguna dan membuat rasa bersalahnya semakin besar.
Namun Ia juga tidak berdaya karena atasan tidak memberikan penjelasan apapun. Ani berusaha untuk tetap menjalankan tugasnya dengan baik namun sikap atasannya semakin menjadi-jadi bahkan pernah suatu hari atasannya memberi tugas kepada orang lain di depan Ani yang ia tahu itu seharusnya menjadi tugasnya.
Mungkin anda cukup familiar dengan kondisi seperti ini di mana satu pihak memperlakukan pihak lain dengan cara-cara yang tidak wajar membuat rasa bersalah, membuat kekhawatiran , membuat orang tidak merasa nyaman walaupun di satu sisi Ia tetap mempertahankan orang tersebut jadi seakan orang tersebut ada hanya untuk sekedar menyalurkan agresi dan emosinya.
Dalam bahasa psikologi populer disebut sebagai toxic relationship yaitu suatu kondisi hubungan yang bergerak antara benci Dan rindu, butuh tapi juga tidak suka.
Hal seperti ini banyak sekali terjadi dalam hubungan antara atasan dan bawahan di mana hubungan tersebut sudah tidak lagi didasarkan pada hubungan yang saling menghormati namun didasarkan pada ada saling menyakiti.
Toxic relationship masih menjadi problem terbesar dalam perusahaan terutama dalam hubungan atasan dengan bawahan kondisi ini tentunya perlu dicermati oleh departemen sumber daya manusia selaku bagian yang mengelola sumber daya manusia. Bukan saja aspek pekerjaan saja tapi juga yang lebih terpenting bagaimana mereka dapat memfasilitasi dan mengakomodir, bahkan mungkin juga membantu menyelesaikan toxic relationship ini. Karena biasanya bawahan adalah korban dari toxic relationship yang terjadi akibat atasan yang secara kematangan mental belum siap menjadi seorang atasan.
Atasan seperti ini biasanya menggunakan otoritas yang ia miliki dengan cara yang salah yaitu untuk memberi tekanan pada orang lain yaitu bawahan bukan dalam konteks pekerjaan saja bahkan tekanan secara pribadi yang pada akhirnya tidak ada hubungan sama sekali dengan pekerjaan.
Ada beberapa strategi yang harus dilakukan oleh HR selaku departemen yang yang seharusnya bertanggung jawab dengan terjadinya toxic relationship di perusahaan
1. Departemen SDM seharusnya memilik