Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menjadi Sahabat Tuhan

    Tidak banyak orang yang sungguh-sungguh mengalami Tuhan, walaupun mereka ada di lingkungan pelayanan. Sebab kalau seseorang benar-benar mengalami Tuhan, ia pasti memiliki kegentaran yang benar-benar mewarnai hidup orang tersebut. Kalau Tuhan hanya menjadi bahan renungan, pemikiran, pengetahuan, atau teologi, bahkan menjadi fantasi, pasti kualitas hidup orang itu rendah. Tetapi berhubung sedikit orang yang benar-benar mengalami Tuhan, maka orang-orang yang kualitas hidup bertuhannya rendah ini bisa tidak dikenali. Sebab standar yang dimiliki oleh banyak orang Kristen adalah standar orang beragama pada umumnya, yang mana Tuhan menjadi pengetahuan, dan Tuhan ‘dipermainkan’ dalam liturgi. 

    Pengakuan dan pernyataan kita kepada Tuhan sering tidak sinkron dengan hidup kita setiap hari. Dan kita menganggap itu sebagai hal biasa, karena memang liturgi begitu. Kita menyanyi lagu ‘Laskar Kristus,’ tapi dalam keseharian hidup, kita menjadi laskar setan; tidak sinkron. Memang, ada yang menyatakan ini sebagai satu kesediaan, walaupun belum memenuhinya, tapi ada kecintaan untuk memenuhinya. Masalahnya, ada yang menyanyi tanpa perasaan, tanpa komitmen, tanpa tekad, dan itu sebenarnya sikap mempermainkan Tuhan. Tetapi dia tidak akan sanggup serius, karena memang hari-hari hidupnya tidak pernah serius.

    Lagu yang kita nyanyikan, pernyataan yang kita sampaikan seharusnya mendesak dan mengondisi kita untuk berurusan dengan Tuhan secara benar. Walau kita belum memenuhinya secara penuh, tetapi ada tekad, kerinduan, dan kesediaan. Masalahnya, kalau orang tidak punya tekad, kesediaan, dan komitmen, itu artinya mempermainkan Tuhan di dalam liturgi gereja. Untuk itu, kita harus mengalami Tuhan. Jadi kita bersyukur Tuhan membawa kita di kondisi-kondisi di mana kita dipaksa untuk mencari Tuhan. Kondisi di mana tidak ada orang yang bisa menolong. Dan Tuhan juga marah kalau kita bergantung kepada manusia. Sedikit memperhitungkan manusia dapat menolong, Tuhan tersinggung, karena itu melecehkan Tuhan. 

    Itu kondisi yang luar biasa untuk bisa mengalami Tuhan. Bahkan bagi kita pada level tertentu, ketika menghadapi situasi sulit, kita tidak boleh susah apalagi putus asa. Jika kita susah berarti kita melecehkan atau meremehkan Tuhan, seakan-akan Tuhan tidak berdaya, tidak setia, mengingkari janji bahwa Dia akan menyertai. Memang ini tingkat yang paling berat dan sulit, tetapi kita harus sampai tingkat itu. Ketika kita ada di satu keadaan yang sulit, Tuhan tidak suka wajah kita bersungut-sungut. Hal ini Tuhan ajarkan dengan mengingat Markus 4:35-41. Sebab orang besar di mata Tuhan adalah mereka yang dibawa Tuhan ke pantai Laut Kolsom, perapian yang menyala, gua singa; dibawa ke situasi sulit yang rasanya tidak mungkin ada jalan keluar. 

    Bagi Daud, Ziklag. Ketika seluruh keluarga hulubalang dan keluarganya sendiri ditawan bangsa Amalek. Mereka menangis, dan tidak bisa menangis lagi karena suaranya habis. Itu pahit sekali. Dan para tentara Daud berbalik mau memberontak kepada Daud. Daud tidak punya siapa-siapa, raja tanpa takhta, wilayah, hulubalang, perwira-perwira, harta, juga tanpa keluarga. Bagi Yusuf, dia dibawa bukan hanya di lubang sumur yang dalam, tapi sampai penjara. Situasi itu membuat mereka mengalami Tuhan. Abraham, seperempat abad menunggu anaknya lahir. Namun, kemudian Allah perintahkan untuk disembelih. Abraham berurusan dengan Tuhan bukan dalam fantasi, alam maya, namun dalam fakta kehidupan. Semua kita harus mengalami itu. 

    Sebab orang beragama belum tentu bertuhan. Tetapi kekristenan menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Sehingga kita harus memiliki interaksi dengan Tuhan, apalagi di dalam kekristenan itu hukumnya Tuhan sendiri—harus mengerti pikiran dan perasaan Tuhan, bersentuhan dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Tidak bisa diwakili oleh buku, doktrin. Oleh sebab itu, kekristenan tidak bisa menjadi sambilan, tapi harus menyita seluruh hidup kita. Maka fokus kita setiap hari adalah bagaimana kita mengalami Tuhan di dalam pergumulan hidup yang kita hadapi, karena pergumulan hidup kita merupakan medianya. Sesuai dengan aktivitas hidup kita masing-masing, itu merupakan media di mana kita bergaul dengan Allah di situ. Bagaimana terang Kerajaan Tuhan menerangi hidup kita di dalam area, profesi, dan aktivitas hidup kita. Itulah yang membuat aktivitas kita menjadi bernilai, dan mestinya menjadi catatan abadi. 

    Kita harus mengerti dan menerima bahwa hidup sebagai anak-anak Allah itu sangat luar biasa. Keunggulannya terletak pada kesempatan bisa berinteraksi dengan Allah, mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Roh Kudus akan menuntun kita pada kondisi-kondisi di mana kita harus berinteraksi dengan Allah. Tuhan ajak kita berpikir seperti Dia berpikir, berlaku firman yang mengatakan, “Kamu tidak Kusebut lagi hamba, karena hamba tidak tahu apa yang dilakukan tuannya. Kamu Kusebut sahabat.” 

     

    11 min
  • Kecanduan

    Kita harus sengaja dan sadar membuat diri kita kecanduan terhadap Pribadi Tuhan, walau Dia tidak kelihatan. Kita terus meraba-raba, mencari wajah-Nya, mencari hadirat-Nya, sampai kita menemukan. Namun jangan anggap remeh, hal ini tidak sederhana. Kalau ada kerinduan terhadap sesuatu lebih besar dari kerinduan kita terhadap Tuhan, itu gejala pengkhianatan, perselingkuhan, itu langkah-langkah ketidaksetiaan. Kita harus berani memaksa diri kita untuk kecanduan dengan-Nya, untuk hanya bisa menikmati Tuhan. Kalau tidak, tidak bisa, karena kita sudah terlalu rusak, dunia telah merusak cita rasa jiwa kita. 

    Cinta itu bisa dibangun. Makanya kalau orang tidak berusaha melihat kualitas relasi dengan Tuhan, dia pasti juga tidak berusaha merawat hubungan, dia tidak sungguh-sungguh merasa membutuhkan Tuhan, dan dia tidak mencintai Tuhan. Padahal, terkutuklah orang yang tidak mencintai Tuhan. Kita bisa memberi apa pun yang kelihatan dan juga pikiran dan tenaga, tapi semua terbatas. Namun ada satu yang bisa tidak terbatas, yaitu hati kita, cinta kita. Dan Tuhan mau hati kita yang dipersembahkan.

    Kita akan menyesal dan meratap kalau kita tidak melakukannya. Jangan sombong. Hanya Tuhan yang kita butuhkan, maka kita harus memaksa diri kita. Memang, kita pasti merasa kehilangan kalau kita melepaskan sesuatu—apa pun itu. Tapi hidup harus memilih dan kita memilih Tuhan. Perbarui pilihan itu sekarang. Jadi ibarat parabola, arahkan parabola hati kita ke Tuhan. Tuhan pasti menolong kita untuk kita bisa mencintai Dia. Dalam doa kita berkata, “Buatlah aku bisa menghormati Engkau sebagaimana seharusnya aku menghormati-Mu. Buatlah aku mengasihi Engkau, sebagaimana seharusnya aku mengasihi-Mu.” 

    Betapa beratnya hal ini, tapi kalau kita bisa melakukannya, tidak terbayangkan kekayaan, keagungan, kemuliaan yang kita miliki, ketika kita bisa menjadi kekasih Tuhan. Kita harus merawat hubungan ini. Dan di dalam merawat hubungan ini, kita harus tahu bahwa hubungan ini harus meningkat, tidak statis, tapi progresif. Dalam 2 Korintus 5:20, firman Tuhan mengatakan, “Berilah dirimu diperdamaikan dengan Allah.” Pertanyaannya, apakah kita belum didamaikan?  Kita harus mengerti bahwa perdamaian dengan Allah adalah sebuah proses yang progresif. Kita diperdamaikan oleh darah Yesus, kita yang berdosa dianggap tidak berdosa (justificatio atau justification), dianggap benar, walaupun kita belum benar. Sejak itu, kita harus bertumbuh untuk menyinkronkan diri kita dengan Tuhan. 

    Seperti seorang anak pada waktu masih kecil yang belum bisa berbuat banyak, atau belum bisa berbuat apa-apa. Orang tua yang menyesuaikan diri terhadap anak. Seiring bertambahnya usia, sang anak harus dewasa dan ia harus mulai menyesuaikan diri. Makanya kalau Alkitab berkata, “Berjalanlah dalam roh,” artinya berjalan seirama. Kita yang harus menyesuaikan diri dengan Tuhan. Merawat hubungan dengan Allah merupakan tanggung jawab kita untuk menumbuhkan kedewasaan rohani. Kita harus bertumbuh memiliki sifat-sifat Allah agar kita bisa berjalan seiring. Merawat hubungan dengan Allah itu bukan sesuatu yang sederhana, karena Allah Kudus. 1 Petrus 1:16 mengatakan, “Kuduslah kamu, sebab Aku Kudus.”

    Mengapa Allah menghubungkan kesucian-Nya dengan kita? Karena kita harus mengenakan kesucian sesuai standar Dia. Tidak ada agama seperti kekristenan ini, yang tidak diatur oleh hukum yang tertulis, tapi diatur oleh Roh Kudus agar dalam segala hal yang kita lakukan sinkron dengan Tuhan. Karakter kita yang buruk, mudah tersinggung, marah, pelit, egois, masih ada pikiran najis, tentu tidak bisa berjalan seiring dengan Tuhan. Tuhan sedang melatih kita untuk memiliki iman yang tidak berdasarkan perasaan. Tuhan mau melatih kita untuk menembus batas dan memercayai Allah yang ada di alam yang tidak kelihatan; invisible realm.

    Jadi, merawat hubungan dengan Tuhan itu artinya membangun kehidupan untuk bisa menyinkronkan diri kita dengan Allah. Tapi ada saat di mana kita mulai bosan, jenuh. Maka, di situ kita harus belajar melawan. Sehingga kesucian kita terus meningkat. Kita harus punya satu kerinduan memiliki nama yang ada di dalam hati Tuhan. Maka pada waktu kita meninggal dunia, kita disambut di Rumah Bapa menjadi kekasih-Nya. Maka, makin hari hubungan kita harus semakin harmoni. Dari anak kesayangan menjadi anak kesukaan. 

    Ketika Yesus keluar dari air baptisan, Allah menyatakan, “Ini Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.” Tuhan Yesus mendapatkan sertifikat itu bukan karena sekadar Ia dibaptis, melainkan hasil dari perjalanan hidup-Nya dari sejak 0-30 tahun. Seperti berita dalam Lukas 2:40 dan 52 yang mengatakan, “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”  Inilah yang membuat Yesus sampai pada pengesahan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.” 

    8 min
  • Merawat Hubungan

    Lebih dari semua yang kita harus rawat, merawat hubungan dengan Tuhan itu harus menjadi segalanya bagi kita. Artinya, apa pun kita korbankan demi hubungan kita dengan Allah Bapa, hubungan kita dengan Tuhan Yesus. Namun, sangat sedikit orang yang serius memperkarakan hubungannya dengan Tuhan. Banyak orang tidak peduli apakah hubungan dirinya dengan Tuhan itu baik-baik atau tidak, harmoni atau tidak. Dan sikap seperti ini sebenarnya menunjukkan bahwa, yang pertama, ia tidak sungguh-sungguh membutuhkan Tuhan, tidak sungguh-sungguh merasa memerlukan Tuhan. Yang kedua, ia tidak mengasihi Tuhan. Padahal, kalau orang tidak merasa sungguh-sungguh membutuhkan Tuhan, itu adalah orang sombong. Kesombongan itu berakar dan berangkat dari sikap tidak merasa membutuhkan Tuhan. Jadi, apakah hubungannya dengan Tuhan itu harmoni atau tidak, dia tidak peduli. 

     

    Biasanya orang-orang seperti ini, kalau di lingkungan gereja, licik. Kalau sedang ada dalam masalah berat, baru ia mencari Tuhan. Sebenarnya, orang-orang ini tidak mencari Tuhan, tapi ia mencari berkat Tuhan, kuasa Tuhan dan pertolongan Tuhan, bukan Tuhan sendiri. Licik di situ artinya manipulatif dan oportunis. Sikap manipulatif, oportunis terhadap manusia saja tidak patut, apalagi terhadap Tuhan. Tapi herannya, banyak orang yang benar-benar oportunis, manipulatif, memanfaatkan Tuhan, mencari keuntungan tanpa melihat kepentingan orang lain. Sungguh hal yang mengerikan bersikap demikian terhadap Tuhan. Sebab Tuhan adalah pokok kehidupan kita. Mestinya, kita hidup bagi Dia. Seorang Kristen yang dewasa adalah seorang yang tidak akan memperdaya Tuhan, melainkan rela diberdayakan oleh Tuhan.

     

    Tetapi kita bisa mengerti kalau mereka masih oportunis karena mereka pasti tidak memahami apa tujuan dan arti hidupnya. Kita membutuhkan Tuhan, karena memang Tuhan itulah kehidupan kita. Hanya orang sampai tingkat ini, jarang sekali. Mazmur 73, merupakan pergumulan pemazmur sampai tingkat ini, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau, selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Jadi, kita membutuhkan Tuhan bukan karena kita melirik dompet kuasa-Nya, atau berkat-berkat-Nya, tapi karena pribadi Tuhan sendiri. Sudah menjadi standar umum orang beragama bahwa terhadap dewa dan ilahnya mereka bersikap manipulatif agar dilindungi, dijaga, diuntungkan, dan ditolong.

     

    Berbeda dengan kita, Allah yang menciptakan langit dan bumi yang menjadi Bapa kita, tidak boleh sedikit pun kita meragukan pertolongan-Nya pada waktu kita dalam kesulitan. Dia menyediakan roti bagi orang yang dikasihi-Nya pada waktu tidur, artinya di luar sepengetahuan kita Allah menyediakan berkat yang kita butuhkan. Ketika firman Tuhan mengatakan, “… itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah,” artinya kita tidak perlu memusingkan, memikirkan hal itu, namun bukan berarti lalu kita tidak bertanggung jawab. Kita harus bekerja, sungguh-sungguh memaksimalkan potensi—apa yang kita tabur, kita tuai—tanpa kekhawatiran, tanpa takut. 

     

    Sejatinya, bicara ini mudah, namun praktiknya sulit, apalagi pada waktu kita ada dalam kondisi kritis, krisis, dan Tuhan seakan-akan tidak tampak kehadiran-Nya. Tapi percayalah, masalah berkat sudah tidak perlu dipersoalkan—asalkan kita hidup bertanggung jawab—sebab Dia akan memenuhi bagian-Nya. Kita membutuhkan Tuhan karena Tuhan sendiri yang menjadi kehidupan kita. Jadi hidup kita selama 70-80 tahun, kalau bisa sampai 100 tahun, itu hanya pengembaraan untuk menemukan Kekasih Abadi. Karenanya, kita harus melepaskan semua ikatan kedagingan dan kesenangan dosa yang memang dibangun oleh orang tua, lingkungan, tradisi, budaya, dan pengaruh dunia sekitar. Dan kita sudah terbiasa diracuni dengan berbagai kesenangan itu. 

     

    Tapi setelah kita mengenal Tuhan, kita harus mulai membangun roh kita. Sekarang kalau kita sadar bahwa Tuhanlah kehidupan kita, kita harus mencari Tuhan; memburu Tuhan. Makanya pemazmur berkata di Mazmur 73:25-26, “Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Sehingga Tuhan menaruh nama kita dalam hati-Nya, kita diberi tempat di hati-nya, bukan hanya di hadirat-Nya, tapi di hati-Nya selama-lamanya. Dan itu bisa terjadi, kalau kita melepaskan semua kekasih hati. Ini luar biasa, kalau sampai kita bisa menjadi kekasih Tuhan. Allah semesta alam yang Maha Agung, Maha Mulia, menyimpan nama kita di hati-Nya. Tentu harganya adalah seluruh kehidupan kita. 

    9 min
  • Masih Ada yang Kurang

    Allah yang Maha Besar layak mendapatkan yang terbaik, terbanyak, segenap hidup kita. Itulah cara kita menghormati Allah secara patut. Kita harus selalu berpikir bahwa masih ada yang kurang yang belum kita persembahkan kepada-Nya. Jadi kita merasa masih ada sesuatu yang kurang yang belum kita persembahkan kepada-Nya. Jadi bukan berpikir, masih kurang yang Allah berikan untuk kita, masih harus lebih banyak yang Allah berikan kepada kita untuk memenuhi selera, keinginan kita. Tetapi sebaliknya, yaitu masih kurang dari pihak kita untuk mempersembahkan hidup ini kepada Tuhan. Kita percaya Allah yang Maha Bijaksana, Allah yang baik tahu apa yang menjadi kebutuhan kita. Seandainya kita tidak minta pun, Allah mencukupinya. Sesuai dengan firman yang dikatakan di dalam Matius 6:32-34, “Bapamu yang di surga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.” Jadi kita tidak meragukan Allah yang pasti bijaksana memenuhi kebutuhan kita. 

    Sekarang dari pihak kita, kita harus merasa selalu ada yang kurang yang kita harus persembahkan bagi Allah. Masih ada yang kurang yang harus kita lakukan untuk menyenangkan hati Allah. Dan jika kita bersikap demikian, apa yang terjadi? Ini yang terjadi ketika kita berkata, “Tuhan, kurang apa lagi? Apa yang harus aku persembahkan kepada-Mu? Apa yang masih aku sisakan untuk diriku sendiri?” Yang pertama, Tuhan akan menunjukkan kepada kita kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan kita. Hal-hal yang masih kita lakukan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan, Tuhan bukakan, Tuhan singkapkan, agar kita berhenti melakukan hal itu. Sehingga kita bisa berkata, “Tuhan, jangan sampai aku berbuat dosa kepada-Mu, sekecil atau sehalus apa pun kesalahan itu. Ya Tuhan, tolonglah aku agar tidak berbuat salah lagi.” 

    Yang kedua, Tuhan pasti akan tunjukkan kepada kita “Ishak-Ishak” yang kita cintai, yang mengikat hati kita lebih dari Tuhan. Seperti Abraham yang harus melepaskan Ishak kesayangannya, demikian pula Tuhan akan mengajar kita melepaskan kesayangan-kesayangan kita, yang itu dapat mengganggu hubungan harmonisasi kita dengan Allah. Luar biasa, Tuhan akan membukakan pengertian kita, pikiran kita. Sebab Tuhan menghendaki sebuah hubungan yang makin hari makin eksklusif dan untuk itu kita harus melepaskan kesayangan kita atau yang masih bisa berpotensi menjadi berhala kita. 

    Yang ketiga, Tuhan akan memberitahukan kepada kita rencana-rencana-Nya supaya kita lakukan. Dan ini merupakan kepercayaan dari Allah bagi kita. Semakin kita serius berurusan dengan Tuhan, rencana-rencana yang Allah sediakan bagi kita semakin dibukakan, sehingga hidup kita diarahkan untuk menggenapi rencana Allah itu. Jangan sampai ketika kita meninggal dunia, kita tidak pernah tahu rencana apa yang Allah sediakan bagi kita untuk kita penuhi. Sebab seiring dengan kelahiran kita di bumi, Allah mempersiapkan rencana-rencana besar-Nya untuk kita masing-masing. Kita bisa menjadi apa di hadapan Allah dan apa yang harus kita kerjakan bagi Tuhan. 

    Yang keempat, Tuhan mulai membukakan rahasia Pribadi-Nya, rahasia keberadaan Allah yang ajaib, pengetahuan kita akan Allah ditambahkan. Maksudnya, dengan pengetahuan mengenai Allah yang dibukakan tersebut, maka sikap kita kepada Tuhan makin tepat. Kita makin bisa menempatkan diri di hadapan Allah. Di situlah kita bisa menemukan tempat yang tepat di hadapan Tuhan dan menempatkan Allah secara benar di dalam hidup kita. Semua ini merupakan persiapan kekekalan. Sebab hanya orang yang memiliki tempat yang tepat dan benar di hadapan Allah yang akan masuk Kerajaan Surga. Kalau orang tidak menempatkan Allah secara tepat di dalam hidupnya, tidak mungkin dia layak masuk Kerajaan Surga. 

    Jadi mari kita selalu merasa masih ada yang kurang yang harus kita persembahkan kepada Tuhan. Kita harus merasa masih ada sesuatu yang kurang yang harus kita kembalikan kepada Tuhan. Untuk itu, burulah Dia selagi masih ada kesempatan!

     

    8 min
  • Kepastian Hidup

    Hidup ini dipahami oleh banyak orang sebagai tidak ada kepastian. Dan memang, keadaan bisa berubah setiap saat. Tetapi kita bersyukur kita mengenal Allah yang bukan saja baik, tapi Allah yang Maha Kuat. Kalau hanya baik, tapi tidak kuat, percuma. Tapi kalau Maha Kuat, tapi tidak baik, bahaya! Allah kita bukan hanya baik, tapi juga Maha Kuasa. Dan Dialah kepastian itu. Ini adalah rahasia hidup. Tentu akan ada seribu pertanyaan, bagaimana nanti kalau keadaan ekonomi merosot, bagaimana nanti kalau aku sakit, bagaimana nanti kalau dunia perang, bagaimana nanti kalau saya meninggal dunia, karena itu semua adalah ketidakpastian. 

    Namun, ada kepastian di dalam Tuhan. Artinya, selama kita benar-benar memiliki hubungan yang benar dan baik dengan Tuhan, tidak ada masalah. Mau nanti ada masalah ekonomi, sakit, perang, meninggal dunia; tidak masalah. Karena Dia bukan saja baik, tapi Maha Kuasa. Kenapa orang bisa khawatir? Karena dia tidak punya pegangan. Walau dia berkata bahwa Tuhan menjadi pegangannya, menjadi andalannya, tapi sejatinya, dia tidak memercayai Tuhan sepenuhnya. Memercayai Tuhan itu sesungguhnya bukan sesuatu yang mudah. Tuhan tidak kelihatan, sedangkan masalah kita di depan mata. Dan sering tindakan-tindakan Tuhan itu di luar skenario, harapan, dan keinginan kita.

    Kita harus belajar memercayai Pribadi-Nya bahwa Dia bijaksana, cerdas, tepat dalam segala hal yang Dia lakukan. Tuhan sering melatih kita untuk memercayai Pribadi-Nya. Kapan? Ketika kita punya masalah dan Tuhan tidak kunjung menolong, ketika Dia bawa kita ke banjir bandang dan kita tidak punya pegangan kecuali Tuhan. Dan kita bisa berpikir, “Sampai kapan tali ini bisa menopang atau menahanku dari banjir bandang ini? Sampai kapan banjir ini surut?” Pertanyaan yang tidak terjawab. Apalagi pada waktu kita menghadapi masalah, kita terkatung-katung dalam masalah dan Tuhan tidak kunjung menolong. 

    Lalu kita berkata, “Tuhan, kalau Engkau menolong aku, jiwaku tenang. Kalau keadaan seperti ini aku tidak tenang. Aku di tempat yang benar-benar kritis dan krisis. Kalau Engkau memberi aku jalan keluar, Tuhan, aku lebih tenang, aku tenang melayani, aku tenang menjalani hidup.”  Lalu Tuhan menjawab, “Mestinya ketenanganmu bukan karena masalah itu selesai. Tapi keyakinanmu terhadap Diri-Ku; Aku baik, Aku Maha Kuasa, Aku cerdas dan setiap hal yang Aku lakukan presisi.” Kita mau berurusan dengan Allah. Dan tidak banyak orang yang masuk sekolah kehidupan seperti ini. Kita dibawa kepada ‘banjir bandang’ supaya kita belajar memercayai Allah. 

    Sebab pada akhirnya, akan ada pertemuan antara hati kita dan hati Tuhan, dan tidak ada dusta; tidak ada keraguan terhadap Tuhan. Kalau kita banyak uang, maka ketika kita menghadapi masalah ekonomi, kita tidak cemas, sebab kita bisa mendapat jawaban. Tapi bagi orang yang punya uang, Tuhan kasih pencobaan lain, penyakit misalnya, yang mana uang pun tidak bisa menjawab. Di sini kita belajar bergantung kepada Tuhan. Suatu hari kita akan menghadapi persoalan berat, namun kalau kita sudah belajar bergaul dengan Tuhan, belajar berjalan dengan Tuhan, dan kita yakin bahwa di dalam Tuhan ada kepastian, maka kita akan tenang. Tuhan pasti mengontrol keadaan. Tidak ada keraguan sama sekali. Tuhan pasti memimpin. 

    Jagalah hati, perkataan, dan kelakuan kita setiap hari. Kalau setiap hari kita hidup di dalam kekudusan, kita tahu apa yang harus kita lakukan. Sehingga kita bisa jadi bejana Tuhan. Ada kepastian, karena Roh Kudus memimpin kita di sepanjang perjalanan hidup kita. Jangan sombong! Kita harus selalu berkata, “Kuperlu Engkau, Tuhan. Pegang tanganku.” Kita harus merendahkan diri di hadapan Tuhan. Jadi menghadapi hari esok, apa pun yang kita alami, harus kuat. Jadi, kalau ada masalah berat tidak tertanggulangi, satu kata rahasianya: “merem.” Supaya kita tidak memercayai apa yang kita lihat, tetapi kita melihat apa yang kita percayai. 

    Maka kita harus berjalan dengan Tuhan setiap hari, hidup dalam kekudusan, punya hubungan dan tidak ada dusta di antara kita dengan Allah, tidak ada keraguan sama sekali. Percaya, Tuhan akan tolong. Dan kalau kita mau memiliki kepastian ini, kita akan terpacu hidup suci. Tidak berani berbuat dosa. Sampai kesucian itu menjadi sebuah kebutuhan, bukan kewajiban. Kita bisa menikmati kesucian. Kita harus menjadi perwakilan Tuhan, pintu gerbang surga, pintu gerbang hadirat Allah; shekinah glory. Kalau ada kemuliaan Allah dalam hidup kita, maka pelayanan kita membawa kemuliaan, rumah tangga kita membawa kemuliaan, di tengah-tengah pergaulan kita membawa kemuliaan. 

    9 min
  • Dinamika Hidup Mencari Tuhan

    Satu hal yang semua kita harus ingat bahwa Tuhan itu serius, mata-Nya menjelajah bumi ini dan Tuhan mencari orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Tuhan menjelajah bumi ini dan mencari orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Sampai ada pertemuan antara Allah dengan orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Tentu saja Tuhan menyambut orang-orang ini menjadi bagian dari kehidupan-Nya, yang sama menjadi bagian di dalam Rumah Bapa, atau menjadi bagian di dalam Kerajaan Allah. Oleh sebab itu, sementara kita memenuhi tugas dan tanggung jawab kita—sebagai bapak rumah tangga, ibu rumah tangga, orang tua, atau anggota masyarakat—kita mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Ini merupakan hal prioritas bahkan satu-satunya, terus mencari Tuhan. 

    Ada orang yang berkata, “Kalau orang masih mencari Tuhan berarti belum menemukan Tuhan.” Kata ‘mencari’ di sini jangan diartikan secara umum. Mencari Tuhan artinya berjuang, berusaha untuk memiliki hubungan dengan Tuhan yang semakin harmonis. Mencari Tuhan sama dengan mencari atau mau tahu kehendak Allah dan rencana-rencana-Nya untuk kita lakukan, kita tunaikan dan kita akhiri atau kita selesaikan. Mencari Tuhan haruslah menjadi hal utama, lebih dari sekadar prioritas, tetapi satu-satunya di dalam hidup ini. Sementara itu, kita terus menjalani hidup sampai kita menutup mata. 

         Jadi sementara kita melakukan pekerjaan kita, fokus kita sebenarnya bukan pada pekerjaan itu. Semua pekerjaan kita lakukan demi kepentingan membangun hubungan dengan Allah, makin berkenan di hadapan Allah, makin menyenangkan hati-Nya. Tentu untuk itu kita harus semakin mengenakan kodrat ilahi, sifat Allah. Dan inilah yang akan membawa kita kepada kesucian hidup yang benar, kesempurnaan seperti Bapa sebagaimana yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Kamu harus sempurna seperti Bapa” (Mat. 5:48). Yang artinya, segala sesuatu yang kita lakukan itu presisi, tepat, seperti yang Allah kehendaki. Dan ini bukan hal yang mudah, ini merupakan hal yang rumit dan memiliki kompleksitas yang tinggi, membingungkan, dan betul-betul melelahkan. 

    Kadang-kadang kita juga bingung, betapa sulitnya mengerti kehendak Allah, mengerti rencana-Nya untuk kita tunaikan. Tetapi seiring berjalannya waktu, kita akan dapat mengerti dan ini suatu kehidupan yang benar-benar indah sekali. Dinamika hidup mencari Allah haruslah menjadi dinamika hidup permanen di dalam hidup kita. Bangun sebelum pukul 5 pagi bersiap untuk berdoa. Sehingga kita tidak usah memaksa diri untuk mencari Tuhan. Hal mencari Tuhan adalah irama permanen, irama tetap kita. Kita tidak akan pernah menyesal sehingga nanti suatu hari kita akan tahu betapa beruntungnya kita hidup dalam pemburuan, pencarian, akan Tuhan ini. Firman Tuhan mengatakan, “Carilah Aku selama Aku berkenan ditemui.” Dan kita meresponinya dengan mengatakan, ‘Ya, Tuhan’.

    Ingat ini! Mata Tuhan menjelajahi bumi mencari orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Dia, yang berusaha untuk memiliki hubungan yang harmonis dengan Allah. Tentu dengan berusaha hidup dalam kekudusan dan kesucian, berusaha mengerti kehendak Allah untuk dilakukan dan rencana-Nya untuk diselesaikan. Ini bukan hal sederhana, sebenarnya ini lebih berat dari mencari uang, berkarier, mencari jodoh, dan lain-lain. Ini lebih berat, ini lebih sukar. Karenanya firman Tuhan mengatakan, “Cari dahulu.”  Berarti, yang lain harus dipandang kurang atau tidak penting. Ironis, banyak orang yang menginvestasikan waktu, pikiran, tenaga, dan potensinya untuk banyak hal, tapi tidak mengarahkan diri mencari Allah. 

    Sekarang, mari kita menengadah kepada Tuhan dan berkata, “Aku ada di sini, Tuhan. Aku mencari Engkau. Aku sungguh-sungguh mau memiliki hubungan yang harmonis dengan Engkau. Aku mau mengerti kehendak-Mu Bapa, memahami rencana-Mu, Bapa, untuk kulakukan, untuk kutunaikan untuk kuselesaikan.” Dan ini merupakan pilihan, pilihan permanen. Tidak ada pilihan lain, lebih dari sekadar prioritas. Ini adalah satu-satunya sehingga Tuhan bagi kita menjadi segalanya. Tidak ada hal lain yang lebih besar. Mari kita terus memburu Tuhan di sisa umur hidup kita, mencapai kesucian setinggi-tingginya keberkenanan di hadapan Allah, melakukan pekerjaan Tuhan sebesar-besarnya, dan memenangkan jiwa-jiwa sebanyak-banyaknya. Kita punya kesempatan untuk itu. Sebab di mana ada kemauan untuk mencari Tuhan, pasti Tuhan memberi banyak jalan dan pertolongan. Suatu hari kita akan melihat betapa beruntungnya kita yang sungguh-sungguh mencari Tuhan. 

    9 min
  • Gagal Mengenali Diri

    Seberapa kita sungguh-sungguh memiliki keseriusan untuk menyenangkan hati Tuhan, Allah bisa merasakannya. Banyak orang tidak menimbang seberapa dia benar-benar serius mau berhubungan dengan Allah. Lebih banyak orang serius berhubungan dengan banyak hal dan ketika ada dalam masalah-masalah berat, baru melibatkan Tuhan. Sebenarnya Tuhan dilibatkan bukan karena mau dihormati, menjadi pusat pemujaan pujian dan penyembahan, melainkan hanya karena mau dimanfaatkan, dieksploitasi. Orang-orang seperti ini tidak mengabdi kepada Tuhan, tapi membuat Tuhan supaya mengabdi kepadanya. Kiranya kita dijauhkan dari sikap kurang ajar seperti itu. 

    Mari kita menimbang seberapa kita serius berurusan dengan Tuhan. Itu tidak cukup ditandai dengan keaktifan kita dalam pelayanan. Kalau bagi pendeta keaktifan mempersiapkan khotbah, ceramah, pendalaman Alkitab dan penggembalaan yang semua itu dibalut, dibungkus dengan kata pelayanan, tetapi di belakangnya atau di dalamnya ada ambisi-ambisi pribadi. Banyak orang tidak jujur dengan dirinya sendiri, apalagi kalau sudah merasa cakap, pintar, dan hebat, sehingga ia gagal mengenali dirinya.

    Kita juga adalah orang yang melewati tahun-tahun ketika kita menjadi hamba Tuhan yang tidak baik, kurang baik, mungkin juga brengsek di mata Tuhan. Tapi kita bersyukur di mana Tuhan terus memproses sampai pada titik kita mau mengambil keputusan hidup hanya untuk kesukaan Tuhan saja. Bagaimana hidup kita benar-benar hanya untuk menyenangkan Tuhan, benar-benar mengerti isi hati Tuhan, apa yang membahagiakan dan menyenangkan Dia dalam segala hal yang kita pikirkan, renungkan, ucapkan, dan lakukan. Hal itu merupakan indikator seberapa kita serius dengan Tuhan. 

    Keseriusan kita dengan Tuhan ditandai dengan kerinduan, keinginan kita untuk benar-benar mau membuat Tuhan tersenyum. Namun kita sebenarnya hanya ngomong saja ataupun kalau kita berusaha, tidak maksimal. Bagaimanapun keadaan kita saat ini, jangan memberhalakan masalah sampai kita kehilangan ketenangan hati. Setiap kita pasti punya masalah. Bahkan mungkin beban yang kita pikul itu melampaui kekuatan kita. Tetapi inilah asyiknya melayani Tuhan. Asal beban itu bukan beban karena kebutuhan kita pribadi—melainkan beban karena pekerjaan Tuhan—maka jangan kita menjadi gusar, jangan menjadi tidak teduh karena masalah-masalah yang kita hadapi, beban-beban yang kita pikul. Kita harus tenang, teduh. Yang penting bagaimana kita fokus dan berusaha untuk benar-benar berjuang mengerti apa yang menyenangkan hati Allah, apa yang Dia kehendaki untuk kita lakukan, apa rencana Allah yang harus kita penuhi. Kita tunaikan, kita selesaikan.

         Ini yang penting, supaya suatu hari ketika kita berhadapan dengan Tuhan, benar-benar kita berkenan. Tidak ada ganjalan di hati Tuhan karena kita tidak melakukan kehendak-Nya. Tidak ada ganjalan di hati Tuhan karena ada rencana-Nya dalam hidup kita tidak terpenuhi. Dan ini yang mestinya menjadi kegusaran kita. Bukan masalah kita pribadi. Apa pun yang terjadi, mau hancur, hancurlah, mau berantakan, berantakanlah. Terserah apa yang akan terjadi dalam hidup kita, tapi yang penting kita bisa mengerti apa yang Allah Bapa kehendaki untuk kita lakukan; rencana-Nya, pekerjaan-Nya untuk kita penuhi dan selesaikan. 

    Masukilah area hidup seperti ini sehingga kita tidak menujukan hidup kita untuk diri kita sendiri atau untuk siapa pun, tapi kita menujukannya untuk Tuhan. Kedengarannya ini muluk-muluk, tetapi ini standar. Suatu hari semua kita akan menghadap takhta pengadilan Tuhan, di mana semua kita akan ditelanjangi, siapa kita sesungguhnya, akan ketahuan. Itu yang sungguh-sungguh kita nantikan dan harapkan, ketika kita ada di pengadilan takhta Tuhan. Maka mestinya kita gentar dan takut, jika kita sudah berbicara mengenai pengadilan Tuhan saat semua akan dibuka dan tidak ada yang tertutup. 

    Berbahagialah orang yang terus membersihkan diri hidup di dalam kekudusan Tuhan, benar-benar berusaha mengerti apa yang dikehendaki Allah untuk dilakukan dan rencana-Nya untuk dipenuhi. Berbahagialah orang yang sungguh-sungguh mengasihi dan menghormati Tuhan secara pantas dan berkerinduan terus-menerus untuk menyenangkan hati Bapa, hidup hanya untuk menjadi kesukaan Bapa, menjadi anak yang berkenan dan menjadi kesukaan Allah Bapa. Ingat, kita hanya punya satu kali kesempatan hidup, satu-satunya kesempatan ini kita akan gunakan untuk benar-benar menempatkan diri kita benar di mata Allah. Memenuhi yang dikatakan firman Tuhan dalam 1 Korintus 10:31, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”

    8 min
  • Pengujian

    Seorang guru yang berpengalaman, yang hampir setiap hari bertemu dengan murid-muridnya, akan tahu murid mana yang pasti lulus dan yang diragukan kemampuannya untuk bisa lulus atau naik kelas. Tetapi guru ini harus melakukan sesuatu untuk membuktikan bahwa murid ini layak, pantas, sah, legal, lulus atau naik kelas; harus ada ujian, tes, dan tugas-tugas untuk membuktikan kelulusan siswa tersebut. Ternyata, Allah kita juga demikian. Allah tahu siapa yang akan lulus dan siapa yang tidak akan lulus. Tetapi Allah harus mengadakan pembuktian. Ada semacam hukum di dalam alam kehidupan ini—yaitu hukum rohani—bahwa seseorang bisa dinyatakan layak masuk Kerajaan Surga atau tidak, harus ada pembuktian. Allah konsekuen dengan integritas yang sempurna mengadakan ujian.

    Di dalam 1 Petrus 1:6 tertulis demikian, “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” Setiap kita akan menghadap takhta pengadilan Allah dan Alkitab mengatakan ada orang-orang yang memperoleh pujian dan kehormatan; artinya akan menjadi orang terhormat. 

    Allah yang mengangkat orang-orang ini, yaitu mereka yang teruji, mereka yang telah membuktikan kebenarannya, ketaatannya, kesuciannya, kecintaannya kepada Tuhan dan hormatnya kepada Tuhan serta takutnya akan Tuhan. Allah tentu tahu siapa yang akan masuk surga dan yang tidak. Tetapi Tuhan harus mengadakan pengujian dan pembuktian. Baiklah kita mengingat apa yang dikatakan Tuhan Yesus kepada Petrus, “Petrus, Iblis akan menampi kamu. Tapi Aku berdoa supaya kamu tidak jatuh dan kalau kamu sudah kuat, sudah teguh, kuatkan saudara-saudaramu.” Iblis mencobai, menampi Petrus (mengguncang) dan Tuhan tidak menghindarkan Petrus dari keadaan itu, karena harus teruji, apakah Petrus setia atau tidak. 

    Kalau kita membaca kisah hidup Petrus, ia diperhadapkan kepada satu keadaan di mana dia harus membuktikan kesetiaannya kepada Tuhan atau tidak. Ketika orang berkata, “Bukankah kamu orang yang bersama-sama dengan Yesus?” (saat Yesus sedang diperhadapkan ke pengadilan dan mau dihukum mati), Petrus takut, ia tidak mau mengaku bahwa dirinya sahabat, murid, orang dekat Yesus. Petrus menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Tetapi puji Tuhan, Petrus sadar akan kesalahan itu, Petrus bertobat. Ketika Yesus bertemu dengan Petrus di kemudian hari setelah penyangkalannya, Yesus bertanya, “Petrus, apakah engkau mengasihi Aku?” Tiga kali Petrus ditanya. Dan Petrus menjawab, “Ya Tuhan, Engkau tahu apa yang ada di dalam hatiku. Aku mencintai Engkau.” Lalu Tuhan Yesus berkata, “Petrus, waktu engkau muda, engkau ikat pinggangmu dan engkau pergi ke mana pun yang engkau suka. Tapi suatu hari, kamu akan menyerahkan tanganmu untuk diikat dan kamu dibawa ke tempat yang kamu tidak suka” (Yoh. 21:19). 

    Dan itu menunjuk akhir hidup Petrus yang mati dipancung, menurut tradisi gereja di kota Roma. Lalu Tuhan Yesus menambahkan dalam pernyataan-Nya bahwa dengan cara demikian Petrus memuliakan Allah. Dengan kesetiaannya, Petrus memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Dia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku.” Orang yang ikut Yesus harus teruji lewat pencobaan dan pengujian untuk membuktikan kemurnian imannya. Seperti yang dikatakan dalam 1 Petrus 1, “Seperti emas yang teruji dengan api.” Jelas bahwa benda itu emas, tapi tidak cukup untuk diakui sebelum dibakar api. Bersyukur kalau kita menghadapi pengujian, atau kita mendapatkan tantangan-tantangan, perlakuan tidak adil, fitnah, pengkhianatan, berbagai kesulitan karena semua itu merupakan cara Tuhan membuktikan dan melakukan pengujian atas kita. Bersiaplah menghadapi hal ini. Jadi kalau ada kesulitan, pencobaan, keadaan yang tidak menyenangkan, Allah menghendaki demikian untuk menguji kita. Percayalah! 

    9 min
  • Menikmati Hidup

    Mari kita menikmati hidup dengan cara yang tidak dimiliki oleh anak dunia. Dan ini yang harus kita biasakan untuk menjadi habitat kita, yaitu hidup di dalam kehendak Allah. Dari menit ke menit kita memperhatikan setiap gerak pikiran dan perasaan kita, juga setiap kata yang kita ucapkan, setiap perilaku, tindakan, perbuatan kita. Jangan sampai ada yang bertentangan dengan kehendak Allah. Kalau kita membiasakan hal itu setiap saat, maka irama hidup melakukan kehendak Allah itu menjadi irama permanen, irama tetap, yang tidak perlu kita usahakan dengan paksa karena otomatis menjadi irama hidup kita. 

    Oleh sebab itu, jangan hal ada yang masuk dalam pikiran kita, jiwa kita—melalui mata dan telinga—hal-hal yang tidak patut. Jika ada hal yang tidak perlu kita lihat, jangan kita lihat. Bila ada hal yang tidak perlu kita dengar, jangan kita dengar. Kalau kita harus mendengar, kita harus membuangnya. Kita bisa membuangnya dengan sengaja, sampai kita punya seni atau keahlian membuang setiap hal yang tidak patut. Kalau firman Tuhan mengatakan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan,” itu berarti Tuhan memberi kita kemampuan untuk membuang semua yang tidak patut yang masuk di dalam pikiran, jiwa, dan hati kita. Kita tidak bisa melarang burung terbang di atas kepala kita, tapi kita bisa menghalau kalau ia mau bertengger dan bersarang di kepala kita. Kita tidak bisa melarang orang bicara dan melakukan hal-hal tertentu yang tidak patut, tapi kita bisa menghalau jangan sampai itu bersarang di kepala dan hati kita. 

    Kita melihat betapa rusaknya manusia di mana sejak kanak-kanak melihat tontonan yang telah membangun bangunan berpikir yang fasik, kafir, melawan, dan menentang Tuhan. Dan semua kita telah menjalani hidup dengan cara yang salah ini sejak kecil. Selain pengaruh orang tua, lingkungan, pendidikan, juga pergaulan, di mana masing-masing kita bergaul dan menyerap hal-hal yang tidak patut. Ditambah lagi dengan gen orang tua kita yang buruk yang menciptakan manusia duniawi yang melawan atau menentang Allah. 

    Bersyukur kita mengenal Tuhan Yesus, Juru Selamat yang menebus dosa kita, membawa kita ke hadapan Allah dengan membenarkan kita. Tapi keadaan kita belum sungguh-sungguh benar. Itulah sebabnya kita harus dimuridkan. Dimuridkan artinya kita harus belajar. Jadi, kita mulai hari ini menikmati hidup; yaitu menikmati hidup melakukan kehendak Allah, apa pun keadaan yang sedang kita jalani. Banyak masalah dan kebutuhan mendesak yang menekan kita, namun semua itu tidak menjadi halangan bagi kita untuk melakukan kehendak Allah. Dinamika hidup yang bagaimanapun tidak membuat kita berhenti melakukan kehendak Allah. Justru semua keadaan yang berlangsung menjadi sarana kita melakukan kehendak Allah. Hanya Roh Kudus yang bisa menolong kita melakukan hal ini. 

    Itulah sebabnya betapa pentingnya ketika kita bangun tidur, kita mulai dengan datang kepada Tuhan. Tanpa banyak permintaan, kita menyembah-Nya. Kita mohon bagaimana kita bisa takut akan Allah dengan benar, mengasihi dan menghormati Allah secara benar. Roh Kudus pasti menolong kita. Betapa indahnya kehidupan yang dari menit ke menit melakukan kehendak Allah; yang sama dengan dari menit ke menit menyukakan hati Tuhan. Kenyataannya, tidak banyak orang yang sungguh-sungguh hidup menyenangkan hati Allah. Tapi mari kita berpikir seakan-akan kita yang ditunggu oleh Bapa dan dinantikan oleh penghuni surga untuk menjadi manusia yang membuat senyum Bapa di surga. Penghuni surga pun akan ikut merasakan ketika Bapa disenangkan. Kita membuat senyum Allah Bapa kita.

    Karena firman Tuhan mengatakan di Lukas 15, “Jika ada satu orang bertobat, malaikat di surga bersorak-sorai.” Mengapa malaikat di surga bersorak-sorai? Karena Bapa di surga disenangkan, disukakan, dibahagiakan, oleh kejadian adanya satu orang bertobat. Kita mengalami pertobatan terus setiap hari, semakin hari semakin menyenangkan hati Allah. Berarti kita membuat dan menciptakan suasana surga di dalam kehidupan kita di bumi bahkan sampai di kekekalan. Jadi, jangan kita menjadi lelah. Mari kita bekerja keras. Kita bersyukur bisa memiliki kesadaran ini dan berkomitmen untuk sungguh-sungguh hidup suci. 

    8 min
  • Memikirkan Apa yang Dipikirkan Allah

    Tuhan adalah Tuhan yang tidak memaksa kita melakukan sesuatu. Di dalam tatanan yang telah Tuhan tetapkan sejak penciptaan, manusia memang diberi Tuhan kedaulatan. Tentu kedaulatan yang terbatas, artinya manusia hanya bisa menentukan nasibnya sendiri, tapi tidak bisa menentukan nasib orang lain. Bisa mempengaruhi, tapi tidak bisa menentukan. Tapi yang penting di sini harus kita sadari bahwa Tuhan tidak memaksa manusia untuk melakukan sesuatu. Walaupun sesuatu itu baik, mendatangkan kehidupan, kemakmuran bagi manusia, tetapi Allah tidak memaksakannya. Ini sebenarnya suatu kehormatan dan kabar baik. Artinya hidup kita tidak ditentukan oleh takdir yang tidak jelas sebab dunia ini ada tatanan. Tetapi aspek lain yang mengerikan, kalau seseorang tidak memilih apa yang tepat atau membiarkan hak bebasnya dikuasai oleh oknum lain; manusia binasa. 

    Jadi sebenarnya manusia di dalam kedaulatannya bisa memilih dan menentukan apa yang terbaik atau bisa menyerahkan kedaulatan itu kepada kuasa kegelapan yang mana akan menentukan keadaannya atau nasibnya. Ini aspek yang mengerikan. Tetapi kita tidak melihat aspek ini karena kita tidak memilihnya. Yang kita pilih adalah bahwa dalam kedaulatan kita, kita memilih apa yang terbaik bagi kita. Apa yang terbaik bagi kita? Tuhan. Sebab pada akhirnya manusia hanya memilih satu dari dua pilihan; Tuhan atau setan, Kerajaan Surga atau kerajaan dunia. Kita harus memilih. Kenyataannya, banyak orang tidak memilih Tuhan. Namun mereka merasa sudah memilih Tuhan, padahal tidak. 

    Kalau orang memilih Tuhan, ada pertaruhan atau konsekuensi, ada harga yang harus dibayarnya. Dan harga yang kita bayar adalah seluruh hidup kita. Itu tidak dibunyikan dan tidak ada di Perjanjian Lama. Umat Perjanjian Lama tidak bisa menemui Tuhan secara pribadi. Mereka hanya menjadi umat, sedangkan yang dapat menjumpai Tuhan adalah imam besar, itu pun setahun sekali. Puji Tuhan, tirai Bait Allah terbelah, yang merupakan tanda bahwa manusia bisa masuk ruang maha suci-Nya. Luar biasa, ini mestinya kita pahami. Di Perjanjian Baru kita tidak lagi menjadi seperti umat, seperti yang ada di Perjanjian Lama. Tapi di Perjanjian Baru kita menjadi imamat-imamat yang rajani. Pembenaran oleh darah Yesus atas kita memberikan kita akses untuk menjumpai Allah. Tapi konsekuensinya, Allah itu Maha Kudus, maka harga yang harus kita bayar adalah kesucian. Dan kesucian itu melibatkan seluruh hidup kita tanpa batas. 

    Ketika kita mengambil keputusan untuk hidup suci, transisinya adalah semua kelemahan, kekurangan kita dibongkar, diangkat Tuhan. Kita akan mengalami situasi di mana dosa lebih mudah dilakukan. Kesempatan dosa lebih besar, lebih banyak. Di situ kita harus memilih; Tuhan atau diri kita? 

         Matius 16 mengatakan, “Enyahlah Iblis! Sebab kamu bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, tetapi apa yang dipikirkan manusia.” Kalimatnya tidak begini, “Sebab kamu bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, tapi yang dipikirkan Iblis,” tidak. Tapi yang dipikirkan manusia. Jadi apa yang dipikirkan manusia, atau apa yang bukan dipikirkan Allah; adalah Iblis. Tapi kita selama ini tidak berani memberi label itu. Tuhan menghendaki supaya apa yang kita pikirkan harus seperti apa yang Allah pikirkan. Jika tidak demikian, maka kita tidak akan memiliki Tuhan dan Tuhan tidak dapat memiliki kita. Jadi kita tidak boleh memiliki konsep bayangan bahwa kita ini hanya umat, ada imam, dan sebagai jemaat kita hanya bisa ikut. Ini yang tanpa sadar telah meracuni pikiran banyak orang Kristen, mestinya semua kita adalah imamat-imamat. 

    Mari kita memenuhi jiwa kita dengan pikiran Allah. Semua yang berorientasi pada dunia ini dan segala kenyamanannya berasal dari setan. Setelah kita terus bertumbuh, kita mengatakan ‘memilih Tuhan’ dan Tuhan ajarkan kebenaran ini, kita mulai membersihkan pikiran kita dari suara dunia. Sementara ini setan telah membanjiri pikiran orang Kristen dengan banyak isian, seperti yang kita lihat di gadget, begitu banyak konten yang membuat kita tidak rohani. Benar-benar kita mau membersihkan pikiran kita dari unsur-unsur dunia. Di dalam perjuangan kita untuk menyerahkan segenap hidup guna memiliki Tuhan dan dimiliki Tuhan, kita akan mengetahui apa-apa yang Tuhan tidak berkenan dan apa-apa yang Tuhan berkenan. Karena Roh Kudus pasti bicara.

    Tapi kalau orang sudah tidak memiliki tekad, niat untuk dimiliki dan memiliki Tuhan, maka dia kabur terus, kacau terus. Sampai tua akan berkata, “Saya manusia penuh kelemahan dan kekurangan. Mudah-mudahan nanti saya berubah.” Sampai akhirnya, ia tidak akan berubah. Maka kita harus berubah secepatnya. Mengapa kita tunda kalau itu bisa kita kerjakan sekarang? Mengapa kita tidak mencari apa yang Allah rencanakan? Sebab pada akhirnya sebagai umat pilihan kita harus memilih: Tuhan atau dunia, Kerajaan Surga atau kerajaan dunia, yang dipikirkan Allah atau yang dipikirkan manusia. Kita memilih apa yang dipikirkan Allah. 

    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…