Radio Rodja 756 AM

Ucapan Seseorang: “Aku Sedang Malas”


Listen Later

Ucapan Seseorang: “Aku Sedang Malas” adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 5 Rajab 1443 H / 07 Februari 2022 M.

Kajian Islam Tentang Ucapan Seseorang: “Aku Sedang Malas”
Kita sampai pada باب قول الرجل يا هنتاه (Bab tentang ucapan seseorang: ‘Wahai ini’). Ini bicara adab. Terkadang kita beranggapan ucapan kita baik dan tutur kata kita lumrah. Namun ternyata orang menanggapinya tidak seperti itu. Sehingga disinilah pentingnya kita belajar, pentingnya kita bersosialisasi dengan masyarakat sehingga kita dapat mengetahui mana ucapan-ucapan yang tidak pantas diucapkan.
Dari Habib bin Shuhban Al-Asadi, dia mengatakan:
رَأَيْتُ عَمَّارًا صَلَّى الْمَكْتُوبَةَ ثُمَّ قَالَ لِرَجُلٍ إِلَى جَنْبِهِ: يَا هَنَاهْ، ثُمَّ قَامَ
“Aku melihat ‘Ammar selesai shalat maktubah, kemudian dia berkata kepada orang yang di sebelahnya: ‘Wahai orang ini’ kemudian dia pergi.”
Ini khusus untuk panggilan. Disebutkan makna panggilan ini menunjukkan bahwa orang itu sedikit pemahamannya tentang tipu daya manusia. Ada orang yang sebenarnya sedang digoda atau ditipu, tapi karena dia orang yang polos maka dia menganggapnya biasa-biasa saja.
Jadi panggilan ini ditujukan kepada orang yang polos dan tidak terlalu memahami tipu daya orang-orang jahat. Sehingga kadangkala panggilan ini menjadi teguran.
Hadits lain dalam bab ini Imam Bukhari menyebutkan: Dari ‘Amr bin Syarid, dari ayahnya, ia berkata: “Suatu hari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memboncengku di atas kendaraannya, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya:
هَلْ مَعَكَ مِنْ شِعْرِ أُمَيَّةَ بْنِ أَبِي الصَّلْتِ؟
“Apakah engkau punya hafalan bait-bait syairnya Umayyah bin Abi Shalt?”
Syarid mengatakan: “Iya, ada bait-bait yang aku hafal dari Umayyah. Kemudian aku sampaikan satu bait.”
Ini menunjukkan adab juga. Karena dia tidak tahu apakah Nabi mau banyak atau mau sedikit dari bait-bait syair yang dihafal oleh Syarid. Ketika dia membacakan satu bait, Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam meminta tambahan dengan ucapannya:
هِيهِ
“Tambah lagi.”
Sampai Syarid menyampaikan 100 bait syair.
Para ulama ketika menjelaskan hadits ini mereka mengatakan bahwa diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk membacakan bait-bait syair yang terpuji, yang bagus, yang di dalamnya ada hikmah, walaupun itu orang non muslim. Sehingga tidak ada masalah tatkala ada satu ungkapan yang baik walaupun itu dari orang jahiliyah maka diperbolehkan.
Kalau kita merasa aman dengan membaca atau mendengarkan syairnya tersebut, maka tidak ada masalah. Tapi kalau ternyata ucapannya mengandung syubhat berisi keraguan/kerancuan dalam agama yang dapat mempengaruhi orang yang mendengarkannya, maka kita tidak boleh mendengarkan/membacanya sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tatkala melihat ‘Umar bin Khattab Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu di tangannya ada Taurat dan dia sedang membacanya, maka Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam mengatakan:
امتهوكون فيها يا ابن الخطاب – لو كان موسى حيا ما وسعه الا اتباعي
“Apa yang kau cari lagi di sana wahai Ibnul Khattab – kalau Musa itu hidup, dia tidak punya jalan kecuali harus mengikuti ajaranku.”
Jadi kenapa mencari di tempat lain, sedangkan Allah sudah menurunkan Al-Qur’anul Karim yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya,
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AMBy Radio Rodja 756AM

  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1

4.1

7 ratings