Lentera Literasi

Yaqazah : Awal dari Perjalan Suluk


Listen Later

Yaqazah: Awal Perjalanan Suluk

Tuhan menciptakan manusia untuk bergerak mencapai kesempurnaan, dan jika manusia ingin melangkah dalam perjalanan ini, tahap paling awal yang harus dilakukannya adalah yaqazah dan bangkit dari tidur kelalaian.

Yaqazah artinya bangun. Yakni seseorang menyadari kelalaian dirinya dan menyingkap tabir-tabir kegelapan yang telah menyeret dirinya jauh dari Allah Swt.

Jika seseorang ingin dengan yaqazah bergerak menuju tujuan, yakni Hak Swt maka tentu pertama ia harus mengenali Tuhan sebagai kesempurnaan mutlak dan juga mengenali dirinya sebagai maujud fakir dan bergantung kepada-Nya. Dari sisi ini, dengan perhatian kepada kesempurnaan mutlak dan kekurangan serta kefakiran diri, salik akan berusaha mendekatkan dirinya kepada Hak Swt untuk menghilangkan kekurangan-kekurangan dirinya.

Oleh karena itu, yaqazah pada hakikatnya sebuah cahaya yang Tuhan lontarkan pada qalbu salik dan dengannya ia mendapatkan kehidupan insaninya yang baru. Sinar cahaya yaqazah pada qalbu salik ini menarik ia untuk berjalan mendekatkan diri kepada Hak Swt serta menyiapkan dirinya untuk menempuh perjalanan tahap demi tahap dalam melewati berbagai hijab-hijab kegelapan dan cahaya untuk wusul kepada Hak Swt.

Dalam kalimat Qishar Amirul Mukminin as terdapat perkataan beliau tentang hal ini:

الیقظة نور و الغفلة غرور

Yaqazah adalah cahaya dan kelalaian merupakan suatu tipu daya.

Ditempat lain beliau berkata:

فاستصبحوا بنور یقظة فی الابصار و الاسماع

Maka nyalakanlah dengan cahaya Yaqazah dalam pandangan dan pendengaran.

Khajah Abdullah Anshari dalam mendefenisikan Yaqazah setelah membawakan ayat:

قل انما اعظکم بواحده ان تقوموا لله مثنی و فرادی

Katakanlah: Sesungguhnya aku menasehati kalian, hendaklah bangkit untuk Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri , berkata:

و هی اول ما یستنیر قلب العبد با الحیواة لرأیة نور التنبیه

Ia adalah yang pertama menyinari qalbu hamba dengan kehidupan pandangan cahaya kesadaran.

Khajah dalam menjelaskan kalimat ini “bangkit untuk Tuhan”, menafsirkannya dengan Yaqazah dan bangun dari tidur kelalaian serta bangkit dari kejahilan serta kemalasan. Beliau dalam mendefenisikan Yaqazah memandang paling awalnya cahaya yang Tuhan sinarkan pada qalbu pesalik dan memberikan kepadanya kehidupan kebaikan insani.

Pada hakikatnya, manusia yang hidupnya hanya tenggelam dalam keperluan lahiriah dan materi (apalagi jika dipenuhi perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat), sebenarnya telah mematikan dirinya sebelum menemukan kematian natural. Sebab ia telah mematikan qalbunya dan mematikan aspek maknawiah dan spiritual yang ada pada dirinya. Sabda Nabi Saw:

الناس نيام فاذا ماتوا انتبهوا

Manusia adalah tidur, ketika mati barulah tersadar.

Kebanyakan manusia tidur di alam tabiatnya dan lalai menyucikan dirinya. Ia terlena dengan kelezatan-kelezatan materi sehingga lupa akan kematian. Nanti ketika kematian datang padanya, barulah tersingkap realitas dirinya yang sesungguhnya.

Akan tetapi manusia yang sebelum didatangi kematian, mendapatkan cahaya Yaqazah, akan segera tersadar dan bangkit melangkah dalam perjalanan penyucian diri dengan meninggalkan kecintaan pada dunia serta kelezatan-kelezatan syahwat yang menipu.

Ia dengan kesadaran (yaqazah), bergerak menuju kesucian diri, sebab dengan kekotoran-kekotoran batin tidak mungkin dapat meraih kedekatan dengan Hak Swt. Oleh karena itu, pertama yang harus ia lakukan adalah menjalani taubat dan kembali dari dosa-dosa serta menghilangkan sifat-sifat buruk. Barulah kemudian menghiasi batinnya dengan sifat-sifat baik. Para ulama akhlak dan tasawuf menyebut pengosongan diri dari sifat-sifat buruk itu dengan takhliyah dan menyebut pengisian diri dengan sifat-sifat baik dengan tahliyah, dan mereka memandang bahwa takhliyah dan tahliyah merupakan satu-satunya jalan bergerak dalam perjalanan dekat kepada Allah Swt.

---
Send in a voice message: https://anchor.fm/kopi-hitam2/message
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Lentera LiterasiBy Heri Ismawanto