
Sign up to save your podcasts
Or


Kapitalisme Hijau sering dielu-elukan sebagai jalan keluar revolusioner dari krisis ekologis kita, sebuah sintesis harmonis antara keuntungan dan planet. Namun, sejarah membisikkan kebenaran yang lebih sinis: ini bukanlah sebuah revolusi, melainkan sebuah penjenamaan ulang yang brilian. Sejak awal industrialisasi, bisnis selalu pandai menyerap tekanan eksternal—baik itu peraturan anti-asap di abad ke-19 yang didukung oleh para pedagang untuk melindungi keuntungan mereka, maupun inisiatif "keberlanjutan" korporat modern yang dirancang untuk memoles citra publik. Kapitalisme Hijau, pada intinya, bukanlah tentang menyelamatkan bumi, melainkan tentang menyelamatkan kapitalisme itu sendiri dari kemarahan konsumen dan ancaman regulasi. Ini adalah strategi bertahan hidup yang cerdik, mengubah krisis menjadi peluang pasar baru, di mana "kesadaran lingkungan" itu sendiri menjadi komoditas yang dapat dijual, sementara logika dasar sistem—pertumbuhan tanpa akhir di planet yang terbatas—tetap tak tersentuh dan tak terbantahkan.
Ironisnya, "solusi" yang ditawarkan oleh Kapitalisme Hijau seringkali melahirkan monster ekologis baru, sebuah paradoks yang terus berulang sepanjang sejarah. Peningkatan efisiensi, yang seringkali menjadi andalan utamanya, justru menjadi bumerang melalui "efek pantulan" (rebound effect): mobil yang lebih hemat bahan bakar mendorong kita untuk lebih banyak mengemudi, dan peralatan hemat energi hanya membuat kita merasa nyaman untuk mengonsumsi lebih banyak. Sejarah penuh dengan contoh teknologi "hijau" yang menjadi bencana. Biofuel yang dipuji sebagai bahan bakar terbarukan ternyata memicu deforestasi dan krisis pangan. Cincin plastik six-pack, yang awalnya dirancang untuk mengurangi limbah kardus, kini menjadi simbol polusi plastik yang mencekik kehidupan laut. Kapitalisme Hijau, dengan keyakinannya yang naif pada solusi teknologi, hanya mengganti satu masalah dengan masalah lain, mengaburkan fakta bahwa masalah sebenarnya adalah sistem produksi dan konsumsi itu sendiri.
Maka, pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah "Bisakah kapitalisme menjadi hijau?", melainkan "Apakah kita berani mengakui bahwa kapitalisme hijau adalah sebuah ilusi yang menenangkan?" Ini adalah dongeng pengantar tidur yang memungkinkan kita untuk terus mengonsumsi tanpa rasa bersalah, sementara planet ini terus memanas. Sejarah yang terdokumentasi menunjukkan bahwa setiap upaya "penghijauan" pada akhirnya tunduk pada satu imperatif utama: keuntungan. Selama pertumbuhan ekonomi tetap menjadi dewa yang tak bisa diganggu gugat, maka "keberlanjutan" hanyalah sebuah kata kunci pemasaran. Kapitalisme Hijau bukanlah penyelamat; ia adalah bentuk penyesuaian terbaru dari sistem yang sama yang membawa kita ke tepi jurang, memastikan bahwa satu-satunya warna hijau yang benar-benar penting pada akhirnya adalah warna uang.
By Dani Wahyu MunggoroKapitalisme Hijau sering dielu-elukan sebagai jalan keluar revolusioner dari krisis ekologis kita, sebuah sintesis harmonis antara keuntungan dan planet. Namun, sejarah membisikkan kebenaran yang lebih sinis: ini bukanlah sebuah revolusi, melainkan sebuah penjenamaan ulang yang brilian. Sejak awal industrialisasi, bisnis selalu pandai menyerap tekanan eksternal—baik itu peraturan anti-asap di abad ke-19 yang didukung oleh para pedagang untuk melindungi keuntungan mereka, maupun inisiatif "keberlanjutan" korporat modern yang dirancang untuk memoles citra publik. Kapitalisme Hijau, pada intinya, bukanlah tentang menyelamatkan bumi, melainkan tentang menyelamatkan kapitalisme itu sendiri dari kemarahan konsumen dan ancaman regulasi. Ini adalah strategi bertahan hidup yang cerdik, mengubah krisis menjadi peluang pasar baru, di mana "kesadaran lingkungan" itu sendiri menjadi komoditas yang dapat dijual, sementara logika dasar sistem—pertumbuhan tanpa akhir di planet yang terbatas—tetap tak tersentuh dan tak terbantahkan.
Ironisnya, "solusi" yang ditawarkan oleh Kapitalisme Hijau seringkali melahirkan monster ekologis baru, sebuah paradoks yang terus berulang sepanjang sejarah. Peningkatan efisiensi, yang seringkali menjadi andalan utamanya, justru menjadi bumerang melalui "efek pantulan" (rebound effect): mobil yang lebih hemat bahan bakar mendorong kita untuk lebih banyak mengemudi, dan peralatan hemat energi hanya membuat kita merasa nyaman untuk mengonsumsi lebih banyak. Sejarah penuh dengan contoh teknologi "hijau" yang menjadi bencana. Biofuel yang dipuji sebagai bahan bakar terbarukan ternyata memicu deforestasi dan krisis pangan. Cincin plastik six-pack, yang awalnya dirancang untuk mengurangi limbah kardus, kini menjadi simbol polusi plastik yang mencekik kehidupan laut. Kapitalisme Hijau, dengan keyakinannya yang naif pada solusi teknologi, hanya mengganti satu masalah dengan masalah lain, mengaburkan fakta bahwa masalah sebenarnya adalah sistem produksi dan konsumsi itu sendiri.
Maka, pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah "Bisakah kapitalisme menjadi hijau?", melainkan "Apakah kita berani mengakui bahwa kapitalisme hijau adalah sebuah ilusi yang menenangkan?" Ini adalah dongeng pengantar tidur yang memungkinkan kita untuk terus mengonsumsi tanpa rasa bersalah, sementara planet ini terus memanas. Sejarah yang terdokumentasi menunjukkan bahwa setiap upaya "penghijauan" pada akhirnya tunduk pada satu imperatif utama: keuntungan. Selama pertumbuhan ekonomi tetap menjadi dewa yang tak bisa diganggu gugat, maka "keberlanjutan" hanyalah sebuah kata kunci pemasaran. Kapitalisme Hijau bukanlah penyelamat; ia adalah bentuk penyesuaian terbaru dari sistem yang sama yang membawa kita ke tepi jurang, memastikan bahwa satu-satunya warna hijau yang benar-benar penting pada akhirnya adalah warna uang.