Anda sudah tahu: dunia tahun 2026 ini bukan lagi milik para pakar yang duduk di menara gading. Dulu, banyak yang menganggap Donald Trump hanyalah sebuah "kecelakaan" sejarah. Tapi sekarang, kita harus jujur melihat kenyataan: dia adalah realitas baru yang merombak total tatanan liberal dunia. Ekonomi tidak lagi diatur oleh teori-teori rumit dari University of Chicago, melainkan oleh satu kompas tunggal: kepentingan nasional yang sangat transaksional.
Peter Oborne dalam bukunya How Trump Thinks sebenarnya sudah meramalkan hal ini sejak lama. Trump berhasil menghancurkan dominasi para ahli yang selama ini merasa paling tahu. Kata Oborne, Trump mempermalukan mereka, lalu menghancurkan wibawanya. Di tahun 2026 ini, politik benar-benar dikembalikan ke tangan pemilih. Suara massa di wilayah industri seperti Rust Belt kini jauh lebih berharga daripada analisis canggih dari Wall Street.
Bagi Trump, perdagangan global itu bukan kerja sama, melainkan perang. Dan dalam pikirannya, Amerika sudah terlalu lama kalah. Anda mungkin ingat cuitannya bertahun-tahun lalu: "Bangunlah Amerika, China sedang memakan jatah makan siang kita." Maka, di tahun 2026 ini, tarif impor bukan lagi sekadar hambatan dagang. Tarif telah berubah menjadi pentungan besar untuk memaksa pabrik-pabrik asing pulang kampung ke tanah Amerika.
Senjata paling ampuh Trump tetap ada pada jempolnya. Twitter—atau apa pun nama platformnya sekarang—adalah medan tempurnya. Oborne menjelaskan bahwa media sosial memungkinkan Trump bicara tanpa filter sama sekali. Kebijakan ekonomi penting seringkali diputuskan hanya lewat sebuah gertakan digital. Cukup satu cuitan, dan nilai tukar mata uang dunia bisa langsung meriang seketika.
Lalu bagaimana dengan soal fakta? Di era ini, fakta seringkali menjadi masalah persepsi belaka. Ingat istilah "alternative facts" yang dulu dipopulerkan Kellyanne Conway? Di tahun 2026, angka inflasi pun jadi subjek debat selera. Kalau pendukungnya merasa sejahtera, maka angka statistik resmi yang menunjukkan hal sebaliknya akan langsung dicap sebagai fake news. Baginya, fakta adalah apa yang dirasakan rakyat, bukan apa yang ditulis oleh birokrat.
Urusan energi pun Trump tidak mau main-main. Slogannya tetap sama: "Drill, Baby, Drill." Masalah perubahan iklim? Itu dianggap urusan nomor sekian. Trump pernah bilang bahwa isu pemanasan global hanyalah ciptaan China agar manufaktur Amerika tidak kompetitif. Di tahun 2026, pengerukan bahan bakar fosil secara besar-besaran menjadi jalan utama untuk menjaga kedaulatan ekonomi Amerika.
Kitab sucinya masih tetap satu: The Art of the Deal. Trump sangat percaya pada kekuasaan daya tawar atau leverage. Jangan harap ada lagi bantuan gratis dari Washington. Setiap dolar yang keluar harus ada untungnya bagi Amerika. Hubungan luar negeri Amerika di tahun 2026 adalah cermin dari transaksi murni: ada uang, ada barang, dan harus ada keuntungan yang nyata.
Kelompok yang dia sebut sebagai "The Forgotten Man" tetap menjadi jualan politik utamanya. Janjinya dulu sangat jelas: orang-orang yang terlupakan ini tidak akan dilupakan lagi. Di tahun 2026, janji itu diwujudkan lewat kebijakan membawa kembali industri ke dalam negeri secara paksa. Pabrik yang nekat beroperasi di luar negeri diancam pajak perbatasan yang setinggi langit. Efisiensi global dibuang, kedaulatan kerja lokal dijunjung tinggi.
Pajak korporasi juga dipangkas habis-habisan. Tujuannya agar Amerika menjadi magnet bagi modal dunia. Trump tidak peduli meskipun defisit anggaran membengkak sangat besar. Teorinya sederhana: pertumbuhan ekonomi yang cepat nantinya akan menutup lubang defisit itu. Ini adalah ekonomi sisi penawaran atau supply-side dengan dosis tinggi, jauh lebih berani jika dibandingkan dengan zaman Presiden Reagan dulu.
Namun, kritik terhadapnya tetap nyaring terdengar. Tony Schwartz, pria yang menuliskan buku The Art of the Dealuntuknya, pernah menyatakan penyesalan mendalam karena telah "mempercantik" sosok Trump. Di tahun 2026, ketidakstabilan sistemik akibat gaya kepemimpinannya yang impulsif makin terasa. Seluruh dunia seolah bergetar setiap kali Trump berubah pikiran secara mendadak.
Institusi dunia seperti WTO kini hampir lumpuh total. Bagi Trump, lembaga semacam itu hanyalah beban yang menghambat langkahnya. Peter Oborne mencatat pandangan mendasar Trump: dunia itu tempat yang keras dan berbahaya. Maka, Amerika harus kuat sendirian. Aliansi-aliansi lama rontok satu per satu, digantikan oleh kesepakatan bilateral pendek yang bisa dibatalkan hanya dalam semalam.
Bagaimana dampaknya bagi kita di Indonesia? Tentu saja sangat terasa. Tidak ada lagi zona nyaman dalam berdiplomasi. Kita dipaksa memilih: mau ikut aturan main Amerika yang sangat berat atau siap menghadapi tembok tarif yang tinggi. Diplomasi ekonomi kini tidak lagi diisi kata-kata manis. Semuanya telah berubah menjadi transaksi dagang yang sangat dingin dan hitung-hitungan.
Di dalam negeri Amerika sendiri, polarisasi justru makin parah. Kota-kota besar yang melek teknologi terus berantem dengan masyarakat pedesaan yang mendukung industri fosil. Trump sengaja memelihara perbedaan ini. Dia butuh narasi "Kita lawan Mereka" untuk melanggengkan setiap kebijakan fiskalnya yang seringkali memicu kontroversi besar.
Keamanan bahkan dijadikan alat untuk membenarkan kebijakan ekonomi. Pakar sejarah Sir Richard Evans pernah memperingatkan bahwa gaya bahasa Trump mirip dengan pemimpin otoritarian abad ke-20. Ancaman dari luar dijadikan alasan untuk menutup perbatasan. Di tahun 2026, urusan ekonomi dan keamanan nasional telah menjadi dua sisi dari mata uang yang sama.
Teknologi pun kini dipagari oleh semangat nasionalisme yang kental. Trump lebih suka melihat robot-robot bekerja di pabrik Ohio daripada melihat buruh murah bekerja di Vietnam. Ini adalah nasionalisme teknologi tingkat tinggi. Kekayaan intelektual Amerika dijaga ketat bak benteng pertahanan. Automasi dianggap sebagai jalan ninja bagi Trump untuk tetap menguasai industri masa depan.
Hubungan Trump dengan dunia perbankan juga terbilang unik. Dia sangat suka dengan deregulasi, tapi dia benci setengah mati kalau suku bunga naik. Bank sentral Federal Reserve seringkali menjadi sasaran serangannya. Trump ingin uang tetap murah agar ambisi pembangunannya bisa terus jalan. Dia tidak peduli dengan risiko moneter jangka panjang, yang penting ekonomi bisa "ngegas" sekarang juga.
Dinasti keluarga pun makin nyata terlihat di tahun 2026 ini. Nama-nama seperti Ivanka dan Jared Kushner tetap berada di lingkaran inti kekuasaan. Oborne sudah menyebut mereka sebagai figur dominan sejak awal karir politik Trump. Birokrasi yang diisi para profesional kini kalah oleh sistem patronase. Kepercayaan pribadi jauh lebih berharga daripada deretan gelar akademik.
Kekuatan utama Trumpisme sebenarnya bukan terletak pada data statistik, melainkan pada emosi massa. Ingat ajaran Norman Vincent Peale, pendeta masa kecil Trump tentang berpikir positif? Pikiran yang optimis dianggap bisa mengalahkan kenyataan pahit sekalipun. Di tahun 2026, optimisme buta dari para pendukungnya menjadi bahan bakar politik yang sangat luar biasa kekuatannya.
Rakyat pada akhirnya memang tidak butuh angka statistik GDP yang rumit untuk dipahami. Mereka hanya butuh sosok pahlawan, seorang pendekar. Trump memposisikan dirinya sebagai satu-satunya orang yang berani mengeluarkan "Jurus Sapu Jagat"—sebuah gerakan politik yang menyapu bersih semua sistem lama yang dianggap korup. Tujuannya cuma satu: merebut kembali hak Amerika yang dia klaim telah "dicuri" oleh dunia selama ini.
Kesimpulannya, fenomena Trump 2026 adalah campuran antara proteksionisme kuno dan manajemen merek modern yang sangat canggih. "Jurus Sapu Jagat" ini mungkin membuat para pemimpin dunia lainnya sakit kepala hebat, tapi bagi pendukung setianya, inilah sapuan bersih yang sudah lama dinanti. Anda boleh saja tidak setuju dengan caranya, tapi faktanya, jurus ini telah berhasil menyapu habis hampir semua tatanan lama yang pernah kita kenal.