
Sign up to save your podcasts
Or


Pada Lokakarya Pengembangan Kapasitas Organisasi kali ini saya menggunakan Lingkaran Emas dari Simon Sinek dan juga Google Ventures (GV). Saya menterjemahkan keduanya menjadi proses menemukan WHY pada hari pertama dan HOW pada hari kedua. Hari pertama fokus pada apa yang menjadi alasan kita ada dan organisasi melakukan apa yang dilakukan. Hari Kedua menemukan keunikan diri dan keunikan organisasi dalam membangun perubahan sosial yang permanen.
Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) berdiri di baris terdepan dalam memperjuangkan terwujudnya keadilan lingkungan di Indonesia yang berlandaskan pada nilai-nilai demokrasi, Hak Asasi Manusia (HAM), keadaban, keberlanjutan, negara hukum (rule of law), dan tata kelola pembangunan berkelanjutan yang baik. Perjuangan ini dijalankan melalui tiga pilar gerakan utama, yaitu pembaruan hukum dan kebijakan agar sains serta hukum dapat bekerja berdampingan demi terwujudnya hak atas lingkungan hidup yang sehat, penguatan dan pembelaan hukum bagi masyarakat korban maupun potensial korban kerusakan lingkungan, serta peningkatan kapasitas institusi negara dalam merumuskan dan menegakkan hukum lingkungan
Dalam mengeksekusi aksinya, ICEL mengawal berbagai isu strategis mulai dari demokrasi lingkungan dan Anti-SLAPP, keadilan iklim, transisi energi yang adil, hingga penguatan penegakan hukum lingkungan dan tata kelola kehutanan. Bentuk perjuangan hukum ICEL diwujudkan secara langsung melalui langkah-langkah konkret, seperti penyerahan Amicus Curiae (sahabat pengadilan) kepada Mahkamah Konstitusi dalam uji materiil UU Cipta Kerja yang melemahkan perlindungan lingkungan, serta mengadvokasi keadilan iklim di tingkat internasional pada forum UNFCCC SB64 di Bonn, Jerman]
Selain melalui jalur peradilan dan diplomasi global, ICEL konsisten memperjuangkan partisipasi dan transparansi publik lewat riset berbasis bukti, penyusunan kertas kebijakan, pendapat hukum, serta penyelenggaraan forum keterbukaan informasi publik terkait transisi energi di wilayah terdampak pertambangan. Melalui lokakarya peningkatan kapasitas bagi akademisi, publikasi edukatif, dan penguatan instrumen hukum, ICEL terus menjadi perisai hukum yang mengukuhkan posisi masyarakat sipil dan pembela lingkungan dalam mempertahankan ruang hidup mereka secara berkelanjutan.
Ekonomi digital modern kerap dinarasikan sebagai arena tanpa batas di mana efek jaringan (network effects) dan keunggulan penggerak pertama (first-mover advantage) secara otomatis melahirkan pemenang tunggal yang menguasai dunia (winner-take-all). Namun, Mauro F. Guillén dalam konsep The Platform Paradox menyingkap realitas yang bertolak belakang: sebagian besar raksasa teknologi bernilai triliunan dolar justru gagal mencapai dominasi global yang seragam. Paradoks ini terlihat jelas pada fenomena Amazon, yang kendati perkasa di pasar domestik Amerika Serikat, hanya menguasai sekitar 6% pasar e-commerce global dan mencatatkan pangsa pasar marjinal sebesar 0,4% di Tiongkok. Ekspektasi bahwa perangkat lunak dan konektivitas internet dapat berekspansi ke seluruh penjuru dunia tanpa gesekan terbukti keliru ketika berhadapan dengan realitas pasar yang terfragmentasi.
Akar utama dari paradoks ini terletak pada kenyataan bahwa efek jaringan tidak diciptakan setara, melainkan terikat erat pada cakupan geografisnya—apakah lokal, nasional, regional, atau global. Pada model bisnis dengan efek jaringan lokal seperti transportasi daring (ride-hailing) atau kencan kasual, penambahan ribuan pengguna di belahan benua lain sama sekali tidak menambah proposisi nilai bagi pengguna di kota setempat; keberhasilan Uber di San Francisco tidak otomatis memberinya keunggulan di London atau Jakarta. Lebih jauh lagi, dunia digital pada hakikatnya tidak "datar" (flat). Perbedaan regulasi privasi data, disparitas infrastruktur telekomunikasi, kebiasaan kultural, serta kebangkitan pesaing lokal yang lebih lincah beradaptasi menciptakan dinding pembatas tebal yang melumpuhkan keunggulan skala perusahaan multinasional.
Oleh karena itu, keberhasilan platform lintas batas tidak ditentukan oleh agresivitas ekspansi serampangan ke segala penjuru, melainkan oleh presisi diagnosis dan strategi sekuensial (the sequential model). Para pemimpin platform harus memetakan apakah bisnis mereka digerakkan oleh dinamika satu sisi atau dua sisi, serta melangkah secara bertahap mengikuti arus interaksi alami pengguna—sebagaimana Airbnb mengeksekusi model lingkaran konsentris dari pasar domestik, regional, hingga global berdasarkan pola arus wisatawan nyata. Pada akhirnya, The Platform Paradox memberi pelajaran mendasar bagi lanskap bisnis abad ke-21: ambisi skala global akan runtuh jika perusahaan abai memenangkan pertempuran di tingkat lokal, dan ekspansi internasional bukanlah sebuah garis akhir otomatis, melainkan proses kalibrasi yang terus-menerus terhadap konteks setempat.
Peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dan tim kerja, apakah masih relevan saat ini? Seperti kita ketahui dengan kemunculan A.I. (kecerdasan lain), peran sumberdaya manusia menjadi tidak penting. Semua kegiatan dan pekerjaan bisa digantikan oleh kecerdasan lain. Sebaliknya, peningkatan kapasitas melalui pelatihan, mentoring dan coaching, menjadi tidak berarti. Toh, karyawan bisa keluar masuk organisasi sesukanya. Dengarkan perdebatan ini.
Ojek itu dulu ya hanya ojek. Lalu datang ponsel pintar, dan tukang ojek tiba-tiba punya “kantor” di dalam layar. Dunia sudah berubah, tapi banyak dari kita masih memakai kacamata lama.
Dua penulis Italia, Daniel Trabucchi dan Tommaso Buganza, menulis buku tentang itu. Judulnya Platform Thinking, terbit tahun 2023. Intinya sederhana tapi menggigit: platform bukan sekadar aplikasi, melainkan cara berpikir.
Banyak orang mengira platform urusan anak muda Silicon Valley. Itu keliru besar. Petani, pedagang jamu, sampai kepala desa bisa berpikir seperti platform.
Penyakit kita yang paling kambuhan adalah ingin menjadi “Gojek-nya” apa saja. Ada Gojek-nya petani, Gojek-nya nelayan, Gojek-nya guru ngaji. Kata buku ini, meniru kulit tanpa memahami isi hanya akan berakhir kecewa.
Ojek itu dulu ya hanya ojek. Lalu datang ponsel pintar, dan tukang ojek tiba-tiba punya “kantor” di dalam layar. Dunia sudah berubah, tapi banyak dari kita masih memakai kacamata lama.
Dua penulis Italia, Daniel Trabucchi dan Tommaso Buganza, menulis buku tentang itu. Judulnya Platform Thinking, terbit tahun 2023. Intinya sederhana tapi menggigit: platform bukan sekadar aplikasi, melainkan cara berpikir.
Banyak orang mengira platform urusan anak muda Silicon Valley. Itu keliru besar. Petani, pedagang jamu, sampai kepala desa bisa berpikir seperti platform.
Penyakit kita yang paling kambuhan adalah ingin menjadi “Gojek-nya” apa saja. Ada Gojek-nya petani, Gojek-nya nelayan, Gojek-nya guru ngaji. Kata buku ini, meniru kulit tanpa memahami isi hanya akan berakhir kecewa.
Tiga hari ini belajar tentang Inisiatif Kahayan Hilir. Sebuah inisiatif yang sudah berlangsung empat tahun, Sebuah upaya mengelola hutan desa secara berkelanjutan, lestari dan berkeadilan. Sebuah upaya baru dan besar bagi Hutan Desa. Tantangan terbesari wilayah ini adalah api. Kebakaran berulang setiap tahun. Sebuah upaya yang sangat menantang untuk memasikan "Zero Karhutla". Cerita sebuah upaya kolaborasi untuk bertanggung jawab pada komitmen yang sudah ditegakkan.
Seminggu kemarin belajar bersama TONG BELAJAR. Sebuah platform peningkatan kapasitas organisasi masyarakat sipil di Tanah Papua. Tiga hari menjadi teman belajar Tim Tong Belajar. Kami bersama-sama membongkar diri mulai dari menemukan kekuatan diri dan tim, membereskan visi dan misi baik diri maupun tim, kemudian menterjemahkan organisasi sebagai sebuah platform. Kita belajar bersama tentang menjadi Ecosystem Builders dalam mengelola platform pembelajaran. Dilemanya adakah transformasi digital atau pemulihan aktivis di tingkat kampung? Atau keduanya. Silakan simak perdebatannya?
Banyak proyek sosial gagah berani hancur bukan karena kekurangan uang, melainkan karena keangkuhan para perancangnya. Mereka datang ke desa membawa proposal tebal dan merasa menjadi pahlawan penolong masyarakat. Hasilnya bisa ditebak: fasilitas mahal mangkrak dan warga kembali ke pola hidup semula.
Di sinilah kita perlu membongkar cara berpikir lama yang terlampau teknokratis. Perubahan nyata di tingkat tapak tidak lahir dari rumus matematis. Ia tumbuh dari persilangan antara keberanian berinovasi dan kedalaman empati kemanusiaan.
Mengawinkan Design Thinking dan Kecerdasan Emosional bukanlah teori berbusa-busa di ruang seminar. Ini adalah perangkat kerja praktis untuk merajut kembali martabat warga yang lama terabaikan. Mari kita lihat bagaimana ketiga nalar ini bekerja nyata di lapangan.
Ketika kita berbicara tentang kerja-kerja sosial dan perbaikan ekosistem masyarakat, kita sering kali dihadapkan pada godaan untuk menyelesaikan masalah rumit hanya dengan pendekatan teknokratis dan target kuantitatif. Namun, pengalaman mengajarkan kita bahwa program terbaik di atas kertas sering kali layu di lapangan karena kehilangan unsur manusiawinya. Misi podcast kali untuk membedah kembali cara kita merancang intervensi sosial melalui perkawinan dua kekuatan besar: metode penalaran inovasi yang berpusat pada manusia (Design Thinking) dan kedewasaan batiniah kita sebagai fasilitator melalui Kecerdasan Emosional.
Inovasi tanpa kepekaan rasa akan berujung pada arogansi teknis yang mengabaikan kearifan lokal. Sebaliknya, empati yang meluap-luap tanpa pisau analisis metodologis yang tajam hanya akan berhenti pada sentimen belas kasihan yang tidak menghasilkan dampak terukur. Di sinilah letak urgensi perjalanan belajar kita: menempatkan akal budi dan kepekaan nurani pada satu tarikan napas agar ikhtiar perubahan kita memiliki akar yang kokoh di tengah komunitas dan daya tahan menghadapi tantangan zaman.
Mari kita buka podcast ini bukan sekadar sebagai pelatihan teori teknis, melainkan sebagai sebuah ruang refleksi bersama untuk melihat bagaimana kedua instrumen ini menyatu menjadi sebuah kesatuan nalar dan rasa yang padu pada slide berikutnya.
From the publisher's feed