
Sign up to save your podcasts
Or


Konflik mendasar antara kapitalisme dan krisis iklim terletak pada benturan antara logika pertumbuhan ekonomi tanpa batas dengan batasan ekologis planet bumi yang terbatas. Naomi Klein dalam pemikirannya menegaskan bahwa krisis iklim bukan sekadar masalah lingkungan yang bersifat teknis, melainkan kegagalan sistemik dari model ekonomi pasar bebas yang secara inheren mengutamakan akumulasi laba di atas keberlangsungan hidup. Sistem ekstraktivisme yang agresif telah membuat kebijakan perdagangan internasional sering kali mengesampingkan regulasi iklim, sehingga menciptakan situasi di mana pengejaran kekayaan korporasi menjadi penghalang utama bagi tindakan kolektif yang mendesak untuk menyelamatkan ekosistem dunia.
Hambatan besar lainnya dalam menangani krisis ini muncul dari fenomena "pemikiran ajaib", yaitu keyakinan semu bahwa teknologi canggih atau kedermawanan miliarder hijau akan menjadi juru selamat tanpa perlu mengubah struktur dasar kapitalisme. Solusi seperti rekayasa geoteknologi atau mekanisme pasar sering kali dipandang sebagai cara untuk mempertahankan status quo industri bahan bakar fosil sambil menunda perubahan radikal yang sebenarnya dibutuhkan oleh sains. Klein menunjukkan bahwa selama motif keuntungan tetap menjadi penggerak utama dalam pengambilan keputusan global, transisi menuju ekonomi rendah karbon akan selalu terhambat oleh kepentingan finansial yang sangat kuat dan lobi industri yang mencoba menghindari regulasi ketat.
Namun, di tengah ancaman keruntuhan ekologi yang nyata, muncul harapan melalui gerakan mobilisasi akar rumput global yang menuntut keadilan transisi. Melalui gerakan "Blockadia" dan kampanye divestasi, masyarakat mulai menekan institusi besar untuk menarik dukungan finansial dari industri perusak iklim dan beralih ke investasi hijau yang berkelanjutan. Perjuangan ini menuntut perubahan paradigma total melalui konsep seperti "Rencana Marshall untuk Bumi", yang tidak hanya bertujuan menurunkan emisi tetapi juga memperbaiki ketimpangan sosial-ekonomi. Pada akhirnya, mengatasi krisis iklim berarti memilih untuk meninggalkan sistem yang eksploitatif demi membangun tatanan hidup yang menghormati kesehatan regeneratif bumi dan menjamin masa depan bagi generasi mendatang.
By Dani Wahyu MunggoroKonflik mendasar antara kapitalisme dan krisis iklim terletak pada benturan antara logika pertumbuhan ekonomi tanpa batas dengan batasan ekologis planet bumi yang terbatas. Naomi Klein dalam pemikirannya menegaskan bahwa krisis iklim bukan sekadar masalah lingkungan yang bersifat teknis, melainkan kegagalan sistemik dari model ekonomi pasar bebas yang secara inheren mengutamakan akumulasi laba di atas keberlangsungan hidup. Sistem ekstraktivisme yang agresif telah membuat kebijakan perdagangan internasional sering kali mengesampingkan regulasi iklim, sehingga menciptakan situasi di mana pengejaran kekayaan korporasi menjadi penghalang utama bagi tindakan kolektif yang mendesak untuk menyelamatkan ekosistem dunia.
Hambatan besar lainnya dalam menangani krisis ini muncul dari fenomena "pemikiran ajaib", yaitu keyakinan semu bahwa teknologi canggih atau kedermawanan miliarder hijau akan menjadi juru selamat tanpa perlu mengubah struktur dasar kapitalisme. Solusi seperti rekayasa geoteknologi atau mekanisme pasar sering kali dipandang sebagai cara untuk mempertahankan status quo industri bahan bakar fosil sambil menunda perubahan radikal yang sebenarnya dibutuhkan oleh sains. Klein menunjukkan bahwa selama motif keuntungan tetap menjadi penggerak utama dalam pengambilan keputusan global, transisi menuju ekonomi rendah karbon akan selalu terhambat oleh kepentingan finansial yang sangat kuat dan lobi industri yang mencoba menghindari regulasi ketat.
Namun, di tengah ancaman keruntuhan ekologi yang nyata, muncul harapan melalui gerakan mobilisasi akar rumput global yang menuntut keadilan transisi. Melalui gerakan "Blockadia" dan kampanye divestasi, masyarakat mulai menekan institusi besar untuk menarik dukungan finansial dari industri perusak iklim dan beralih ke investasi hijau yang berkelanjutan. Perjuangan ini menuntut perubahan paradigma total melalui konsep seperti "Rencana Marshall untuk Bumi", yang tidak hanya bertujuan menurunkan emisi tetapi juga memperbaiki ketimpangan sosial-ekonomi. Pada akhirnya, mengatasi krisis iklim berarti memilih untuk meninggalkan sistem yang eksploitatif demi membangun tatanan hidup yang menghormati kesehatan regeneratif bumi dan menjamin masa depan bagi generasi mendatang.