
Sign up to save your podcasts
Or


Pembelajaran pada tingkat awal, yang sering disebut sebagai surface learning, merupakan tahap di mana individu berfokus pada penghafalan fakta dan data tanpa pemahaman mendalam tentang keterkaitan antar konsep. Pada level ini, informasi diterima secara pasif dan cenderung bersifat sementara karena tujuannya hanya untuk memenuhi kewajiban jangka pendek, seperti lulus ujian atau mengikuti prosedur dasar. Namun, ketika pelajar mulai mencari relevansi antara materi dengan efisiensi kerja atau pencapaian target tertentu, mereka memasuki tahap strategic learning. Meskipun pada tahap ini pengetahuan mulai diaplikasikan secara praktis, motivasinya masih terbatas pada hasil instan dan belum menyentuh perubahan pola pikir yang mendasar.
Transisi menuju deep learning yang sesungguhnya terjadi saat pelajar mulai mengaktifkan pengetahuan mereka melalui refleksi kritis. Pada tahap ini, individu tidak lagi sekadar bertanya tentang cara melakukan sesuatu, tetapi mulai menggugat asumsi-asumsi lama dan melakukan proses unlearning untuk memberi ruang bagi perspektif baru. Proses ini melibatkan emosi dan rasa ingin tahu yang besar, di mana pelajar menghubungkan informasi baru dengan pengalaman nyata yang mereka hadapi. Melalui diskusi mendalam dan evaluasi terhadap kegagalan atau keberhasilan masa lalu, mental model seseorang mulai bergeser, memungkinkan terciptanya pemahaman yang lebih kokoh dan bermakna.
Pada puncaknya, pembelajaran mencapai level transformatif di mana individu mampu melakukan sintesis dari berbagai informasi yang kompleks menjadi solusi yang inovatif. Level ini sangat krusial dalam lingkungan global dan multi-level, karena menuntut kemampuan untuk menciptakan strategi yang berlaku secara universal namun tetap adaptif terhadap konteks lokal. Output akhir dari pembelajaran tingkat tinggi ini bukan hanya sekadar tumpukan catatan, melainkan perubahan perilaku yang permanen dan lahirnya kerangka berpikir baru yang mandiri. Dengan demikian, pembelajaran bukan lagi menjadi sebuah peristiwa sekali jalan, melainkan sebuah perjalanan kognitif yang terus berevolusi demi menciptakan dampak nyata bagi organisasi dan masyarakat.
By Dani Wahyu MunggoroPembelajaran pada tingkat awal, yang sering disebut sebagai surface learning, merupakan tahap di mana individu berfokus pada penghafalan fakta dan data tanpa pemahaman mendalam tentang keterkaitan antar konsep. Pada level ini, informasi diterima secara pasif dan cenderung bersifat sementara karena tujuannya hanya untuk memenuhi kewajiban jangka pendek, seperti lulus ujian atau mengikuti prosedur dasar. Namun, ketika pelajar mulai mencari relevansi antara materi dengan efisiensi kerja atau pencapaian target tertentu, mereka memasuki tahap strategic learning. Meskipun pada tahap ini pengetahuan mulai diaplikasikan secara praktis, motivasinya masih terbatas pada hasil instan dan belum menyentuh perubahan pola pikir yang mendasar.
Transisi menuju deep learning yang sesungguhnya terjadi saat pelajar mulai mengaktifkan pengetahuan mereka melalui refleksi kritis. Pada tahap ini, individu tidak lagi sekadar bertanya tentang cara melakukan sesuatu, tetapi mulai menggugat asumsi-asumsi lama dan melakukan proses unlearning untuk memberi ruang bagi perspektif baru. Proses ini melibatkan emosi dan rasa ingin tahu yang besar, di mana pelajar menghubungkan informasi baru dengan pengalaman nyata yang mereka hadapi. Melalui diskusi mendalam dan evaluasi terhadap kegagalan atau keberhasilan masa lalu, mental model seseorang mulai bergeser, memungkinkan terciptanya pemahaman yang lebih kokoh dan bermakna.
Pada puncaknya, pembelajaran mencapai level transformatif di mana individu mampu melakukan sintesis dari berbagai informasi yang kompleks menjadi solusi yang inovatif. Level ini sangat krusial dalam lingkungan global dan multi-level, karena menuntut kemampuan untuk menciptakan strategi yang berlaku secara universal namun tetap adaptif terhadap konteks lokal. Output akhir dari pembelajaran tingkat tinggi ini bukan hanya sekadar tumpukan catatan, melainkan perubahan perilaku yang permanen dan lahirnya kerangka berpikir baru yang mandiri. Dengan demikian, pembelajaran bukan lagi menjadi sebuah peristiwa sekali jalan, melainkan sebuah perjalanan kognitif yang terus berevolusi demi menciptakan dampak nyata bagi organisasi dan masyarakat.