
Sign up to save your podcasts
Or


Selama bertahun-tahun, Uni Eropa memimpin ambisi global dengan mandat keras untuk mematikan total mesin pembakaran internal pada tahun 2035. Namun, di penghujung tahun 2025, angin perubahan bertiup kencang dari Brussels. Dalam sebuah langkah mengejutkan yang menandai pergeseran drastis dari idealisme iklim menuju realisme ekonomi, Uni Eropa resmi melonggarkan target agresif tersebut, memberikan "napas buatan" bagi industri otomotif legendaris mereka untuk tetap memproduksi mobil bensin dan diesel jauh melampaui batas waktu yang semula ditetapkan.
Keputusan ini bukanlah langkah mundur tanpa alasan, melainkan respons darurat terhadap ancaman deindustrialisasi yang kian nyata membayangi Benua Biru. Terjepit oleh serbuan mobil listrik murah dari Tiongkok dan melambatnya adopsi kendaraan listrik domestik akibat pencabutan subsidi, pabrikan raksasa Eropa menghadapi krisis eksistensial. Eropa akhirnya menyadari bahwa memaksakan kematian mesin konvensional secara prematur tanpa kesiapan rantai pasok yang matang justru berisiko meruntuhkan tulang punggung ekonomi mereka sendiri, menyerahkan pasar kepada kompetitor asing, dan memicu gejolak sosial akibat harga kendaraan yang tak terjangkau.
Kini, narasi "kematian total" telah berganti menjadi strategi "koeksistensi". Dengan dibukanya pintu regulasi bagi bahan bakar sintetis (e-fuels) dan pelunakan standar emisi Euro 7, Eropa secara implisit mengakui bahwa musuh utama mereka adalah emisi karbon, bukan teknologi mesinnya itu sendiri. Bagi pengamat global, termasuk Indonesia, revisi kebijakan ini menjadi validasi kuat bahwa transisi energi bukanlah jalan lurus yang tunggal, melainkan proses adaptif yang harus terus menyeimbangkan ambisi lingkungan dengan ketahanan ekonomi dan realitas pasar yang keras.
By Dani Wahyu MunggoroSelama bertahun-tahun, Uni Eropa memimpin ambisi global dengan mandat keras untuk mematikan total mesin pembakaran internal pada tahun 2035. Namun, di penghujung tahun 2025, angin perubahan bertiup kencang dari Brussels. Dalam sebuah langkah mengejutkan yang menandai pergeseran drastis dari idealisme iklim menuju realisme ekonomi, Uni Eropa resmi melonggarkan target agresif tersebut, memberikan "napas buatan" bagi industri otomotif legendaris mereka untuk tetap memproduksi mobil bensin dan diesel jauh melampaui batas waktu yang semula ditetapkan.
Keputusan ini bukanlah langkah mundur tanpa alasan, melainkan respons darurat terhadap ancaman deindustrialisasi yang kian nyata membayangi Benua Biru. Terjepit oleh serbuan mobil listrik murah dari Tiongkok dan melambatnya adopsi kendaraan listrik domestik akibat pencabutan subsidi, pabrikan raksasa Eropa menghadapi krisis eksistensial. Eropa akhirnya menyadari bahwa memaksakan kematian mesin konvensional secara prematur tanpa kesiapan rantai pasok yang matang justru berisiko meruntuhkan tulang punggung ekonomi mereka sendiri, menyerahkan pasar kepada kompetitor asing, dan memicu gejolak sosial akibat harga kendaraan yang tak terjangkau.
Kini, narasi "kematian total" telah berganti menjadi strategi "koeksistensi". Dengan dibukanya pintu regulasi bagi bahan bakar sintetis (e-fuels) dan pelunakan standar emisi Euro 7, Eropa secara implisit mengakui bahwa musuh utama mereka adalah emisi karbon, bukan teknologi mesinnya itu sendiri. Bagi pengamat global, termasuk Indonesia, revisi kebijakan ini menjadi validasi kuat bahwa transisi energi bukanlah jalan lurus yang tunggal, melainkan proses adaptif yang harus terus menyeimbangkan ambisi lingkungan dengan ketahanan ekonomi dan realitas pasar yang keras.