
Sign up to save your podcasts
Or


Pada tahun 2028, Kedeputian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam mengusung visi besar untuk mentransformasi Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi sebuah "Kota Regeneratif Berbasis Rimba." Visi ini melampaui konsep kota hijau konvensional dengan memposisikan IKN sebagai mesin pemulihan ekologis yang secara aktif memperbaiki kerusakan lahan masa lalu. Di bawah kepemimpinan yang progresif, IKN diproyeksikan menjadi pusat keseimbangan antara kemajuan peradaban manusia dan kelestarian hutan hujan tropis, menciptakan sebuah metropolis yang tidak hanya bernapas selaras dengan alam, tetapi juga menjadi paru-paru dunia yang cerdas dan inklusif bagi generasi mendatang.
Misi utama untuk mencapai visi tersebut difokuskan pada tiga pilar fundamental: restorasi biodiversitas yang masif, pencapaian netralitas karbon, dan keadilan ekologis bagi masyarakat lokal. Kedeputian berkomitmen untuk mengubah lanskap monokultur menjadi hutan hujan heterogen yang kaya akan flora dan fauna endemik, sekaligus menerapkan sistem ekonomi sirkular yang ambisius menuju target zero waste. Misi ini juga menekankan pentingnya inklusivitas sosial, di mana penduduk lokal dan masyarakat adat diberdayakan sebagai aktor utama dalam konservasi, memastikan bahwa kemajuan lingkungan berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan dan pengakuan identitas budaya di tanah Kalimantan.
Strategi operasional menuju 2028 diimplementasikan melalui integrasi teknologi mutakhir dan solusi berbasis alam (nature-based solutions). Pemanfaatan Environmental Digital Twin memungkinkan pemantauan kualitas udara, air, dan kesehatan hutan secara real-time untuk pengambilan keputusan yang presisi berbasis data AI. Di tingkat infrastruktur, penerapan sistem Smart Sponge City dan pembangunan koridor satwa cerdas menjadi standar baru dalam pembangunan perkotaan berkelanjutan. Dengan mengombinasikan inovasi teknologi ini dengan tata kelola yang transparan, IKN di tahun 2028 akan berdiri sebagai prototipe kota masa depan yang tangguh terhadap krisis iklim dan menjadi model dunia bagi pembangunan urban yang berpusat pada kehidupan.
By Dani Wahyu MunggoroPada tahun 2028, Kedeputian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam mengusung visi besar untuk mentransformasi Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi sebuah "Kota Regeneratif Berbasis Rimba." Visi ini melampaui konsep kota hijau konvensional dengan memposisikan IKN sebagai mesin pemulihan ekologis yang secara aktif memperbaiki kerusakan lahan masa lalu. Di bawah kepemimpinan yang progresif, IKN diproyeksikan menjadi pusat keseimbangan antara kemajuan peradaban manusia dan kelestarian hutan hujan tropis, menciptakan sebuah metropolis yang tidak hanya bernapas selaras dengan alam, tetapi juga menjadi paru-paru dunia yang cerdas dan inklusif bagi generasi mendatang.
Misi utama untuk mencapai visi tersebut difokuskan pada tiga pilar fundamental: restorasi biodiversitas yang masif, pencapaian netralitas karbon, dan keadilan ekologis bagi masyarakat lokal. Kedeputian berkomitmen untuk mengubah lanskap monokultur menjadi hutan hujan heterogen yang kaya akan flora dan fauna endemik, sekaligus menerapkan sistem ekonomi sirkular yang ambisius menuju target zero waste. Misi ini juga menekankan pentingnya inklusivitas sosial, di mana penduduk lokal dan masyarakat adat diberdayakan sebagai aktor utama dalam konservasi, memastikan bahwa kemajuan lingkungan berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan dan pengakuan identitas budaya di tanah Kalimantan.
Strategi operasional menuju 2028 diimplementasikan melalui integrasi teknologi mutakhir dan solusi berbasis alam (nature-based solutions). Pemanfaatan Environmental Digital Twin memungkinkan pemantauan kualitas udara, air, dan kesehatan hutan secara real-time untuk pengambilan keputusan yang presisi berbasis data AI. Di tingkat infrastruktur, penerapan sistem Smart Sponge City dan pembangunan koridor satwa cerdas menjadi standar baru dalam pembangunan perkotaan berkelanjutan. Dengan mengombinasikan inovasi teknologi ini dengan tata kelola yang transparan, IKN di tahun 2028 akan berdiri sebagai prototipe kota masa depan yang tangguh terhadap krisis iklim dan menjadi model dunia bagi pembangunan urban yang berpusat pada kehidupan.