
Sign up to save your podcasts
Or


Asia Learning Exchange 2026 di Labuan Bajo merupakan sebuah lokakarya lima hari yang mengeksplorasi kepemimpinan perempuan dalam gerakan kedaulatan tanah melalui pendekatan holistik Head, Heart, and Hands. Program ini mengawali gerakannya dengan membangun koneksi emosional melalui restu leluhur (Heart), melakukan analisis strategis terhadap struktur kekuasaan (Head), dan diakhiri dengan komitmen aksi nyata di lapangan (Hands). Tujuannya adalah memperkuat resiliensi komunitas melalui pengakuan hak atas tanah yang dipimpin langsung oleh perempuan sebagai penjaga identitas dan kedaulatan.
Proses pembelajaran dimulai dengan sesi "Weaving Stories" melalui metode Fishbowl dan Pecha Kucha untuk menenun pengalaman nyata perjuangan politik serta inovasi dari berbagai mitra. Peserta kemudian melakukan analisis mendalam (Deep Dive) menggunakan kerangka kerja APBC untuk membedah aspek akses, partisipasi, manfaat, hingga kontrol atas lahan. Diskusi ini mencapai puncaknya pada pembahasan "Women’s Personas", yang secara kritis menyoroti pertempuran antara kekuatan agensi individu perempuan melawan hambatan atau "tembok struktural" yang sistemik.
Pada tahap akhir, teori yang dipelajari dibawa ke dunia nyata melalui kunjungan lapangan ke Colol dan Komodo untuk mempelajari kedaulatan hutan dan laut secara langsung. Dengan panduan "4 Jendela Observasi", peserta menyerap pembelajaran dari akar rumput sebelum akhirnya merumuskan rencana aksi konkret melalui metode Backcasting. Lokakarya ini menegaskan bahwa ketika perempuan memimpin gerakan kedaulatan tanah, mereka tidak hanya mengamankan aset fisik, tetapi juga menerangi jalan bagi keberlanjutan peradaban dan kelestarian bumi.
By Dani Wahyu MunggoroAsia Learning Exchange 2026 di Labuan Bajo merupakan sebuah lokakarya lima hari yang mengeksplorasi kepemimpinan perempuan dalam gerakan kedaulatan tanah melalui pendekatan holistik Head, Heart, and Hands. Program ini mengawali gerakannya dengan membangun koneksi emosional melalui restu leluhur (Heart), melakukan analisis strategis terhadap struktur kekuasaan (Head), dan diakhiri dengan komitmen aksi nyata di lapangan (Hands). Tujuannya adalah memperkuat resiliensi komunitas melalui pengakuan hak atas tanah yang dipimpin langsung oleh perempuan sebagai penjaga identitas dan kedaulatan.
Proses pembelajaran dimulai dengan sesi "Weaving Stories" melalui metode Fishbowl dan Pecha Kucha untuk menenun pengalaman nyata perjuangan politik serta inovasi dari berbagai mitra. Peserta kemudian melakukan analisis mendalam (Deep Dive) menggunakan kerangka kerja APBC untuk membedah aspek akses, partisipasi, manfaat, hingga kontrol atas lahan. Diskusi ini mencapai puncaknya pada pembahasan "Women’s Personas", yang secara kritis menyoroti pertempuran antara kekuatan agensi individu perempuan melawan hambatan atau "tembok struktural" yang sistemik.
Pada tahap akhir, teori yang dipelajari dibawa ke dunia nyata melalui kunjungan lapangan ke Colol dan Komodo untuk mempelajari kedaulatan hutan dan laut secara langsung. Dengan panduan "4 Jendela Observasi", peserta menyerap pembelajaran dari akar rumput sebelum akhirnya merumuskan rencana aksi konkret melalui metode Backcasting. Lokakarya ini menegaskan bahwa ketika perempuan memimpin gerakan kedaulatan tanah, mereka tidak hanya mengamankan aset fisik, tetapi juga menerangi jalan bagi keberlanjutan peradaban dan kelestarian bumi.