
Sign up to save your podcasts
Or


Jam Kiamat (Doomsday Clock) saat ini berada pada posisi paling kritis dalam sejarah, yakni 100 detik menuju tengah malam, yang menandakan betapa dekatnya manusia dengan kepunahan.Noam Chomsky menjelaskan bahwa krisis iklim ini bukanlah sebuah ketidaksengajaan, melainkan konsekuensi logis dari sistem kapitalisme yang memuja akumulasi kekayaan tanpa batas. Ancaman eksistensial ini dipandang setara dengan perang nuklir karena secara perlahan namun pasti menghancurkan fondasi kehidupan akibat para pemimpin yang lebih memilih keuntungan jangka pendek daripada keselamatan bumi.
Untuk menunda kehancuran tersebut, Robert Pollin menawarkan solusi konkret melalui Global Green New Deal yang berfokus pada transformasi ekonomi, bukan sekadar pembaruan teknologi. Strategi utamanya adalah mengalihkan sekitar 2,5 persen dari PDB global setiap tahun untuk investasi energi bersih, seperti tenaga surya, angin, dan efisiensi energi. Langkah ini membuktikan bahwa menyelamatkan lingkungan tidak harus mematikan ekonomi, melainkan memperbaiki "kegagalan pasar terbesar di dunia" dengan cara yang sistematis.
Inti dari agenda ini adalah keadilan ekonomi dan solidaritas internasional, terutama bagi para pekerja industri fosil yang terancam kehilangan nafkah. Transisi energi harus menjamin ketersediaan lapangan kerja agar buruh tidak harus memilih antara kecemasan akan "akhir bulan" (masalah finansial) atau "akhir dunia" (krisis iklim). Dengan mengakui bahwa bumi bukanlah komoditas dan kehidupan manusia jauh lebih berharga daripada laporan laba rugi perusahaan minyak, jam kiamat tersebut masih mungkin untuk diatur ulang melalui agenda politik yang mendesak
By Dani Wahyu MunggoroJam Kiamat (Doomsday Clock) saat ini berada pada posisi paling kritis dalam sejarah, yakni 100 detik menuju tengah malam, yang menandakan betapa dekatnya manusia dengan kepunahan.Noam Chomsky menjelaskan bahwa krisis iklim ini bukanlah sebuah ketidaksengajaan, melainkan konsekuensi logis dari sistem kapitalisme yang memuja akumulasi kekayaan tanpa batas. Ancaman eksistensial ini dipandang setara dengan perang nuklir karena secara perlahan namun pasti menghancurkan fondasi kehidupan akibat para pemimpin yang lebih memilih keuntungan jangka pendek daripada keselamatan bumi.
Untuk menunda kehancuran tersebut, Robert Pollin menawarkan solusi konkret melalui Global Green New Deal yang berfokus pada transformasi ekonomi, bukan sekadar pembaruan teknologi. Strategi utamanya adalah mengalihkan sekitar 2,5 persen dari PDB global setiap tahun untuk investasi energi bersih, seperti tenaga surya, angin, dan efisiensi energi. Langkah ini membuktikan bahwa menyelamatkan lingkungan tidak harus mematikan ekonomi, melainkan memperbaiki "kegagalan pasar terbesar di dunia" dengan cara yang sistematis.
Inti dari agenda ini adalah keadilan ekonomi dan solidaritas internasional, terutama bagi para pekerja industri fosil yang terancam kehilangan nafkah. Transisi energi harus menjamin ketersediaan lapangan kerja agar buruh tidak harus memilih antara kecemasan akan "akhir bulan" (masalah finansial) atau "akhir dunia" (krisis iklim). Dengan mengakui bahwa bumi bukanlah komoditas dan kehidupan manusia jauh lebih berharga daripada laporan laba rugi perusahaan minyak, jam kiamat tersebut masih mungkin untuk diatur ulang melalui agenda politik yang mendesak