Satu hal yang sungguh-sungguh menyedihkan adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang sebenarnya masih ada di bawah bayang-bayang maut kebinasaan dan tertolak dari hadapan Tuhan, tetapi mereka tidak menyadari keadaan itu. Mereka merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus, sudah merasa sebagai anak-anak Allah, lalu sudah merasa sebagai orang Kristen yang memenuhi standar hak masuk Kerajaan Surga. Mereka memandang surga itu murahan, seakan-akan surga itu bisa dimasuki oleh orang-orang dengan kualitas mental anak-anak dunia. Pada dasarnya, mereka memiliki kualitas hidup yang juga tidak jauh dari anak-anak dunia, bahkan tidak jarang lebih buruk.
Mereka mengandalkan prinsip sola gratia; hanya oleh anugerah. Mereka juga memandang semua orang di luar Kristen dengan mudahnya masuk neraka, sedangkan dirinya pasti masuk surga. Padahal, bukan tidak mungkin kalau orang di luar Kristen—jika berbuat baik karena memang bukan umat pilihan, sehingga tidak dituntut sempurna, dan mereka dihakimi oleh perbuatan serta mengasihi sesama seperti diri sendiri—masuk ke dalam surga sebagai anggota masyarakat. Sedangkan orang-orang Kristen seperti ini, jangankan masuk sebagai anggota keluarga Kerajaan, jadi anggota masyarakat saja tidak. Dalam kehidupan sehari-hari, kita jumpai orang-orang Kristen yang jahat, bengis, duduk di kursi pemerintahan lalu korupsi. Menjadi aparat, tetapi tidak memenuhi tanggung jawabnya dengan baik pada bangsa dan negara. Tetapi yang lebih menyedihkan adalah orang-orang Kristen di lingkungan gereja yang saling menikam, konflik, saling membenci, merusak nama baik orang, memfitnah; mereka ada di lingkungan gereja, di lingkungan pelayanan, bahkan di lingkungan para pendeta, dan teolog yang bergelar.
Berbekal argumentasi dalam nalar, mereka yakin akan masuk surga. Padahal, sebenarnya sederhana saja ukurannya, yaitu apakah kita sudah melakukan kehendak Bapa atau tidak. Kita jangan merasa yakin masuk surga hanya karena kita adalah orang baik, sudah mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Jangan kita tertipu oleh diri kita sendiri karena kita sudah mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan, menjadi aktivis gereja, majelis, atau bahkan pendeta. Jabatan aktivis gereja, majelis, dan pendeta itu tidak otomatis membuat orang masuk surga. Sama sekali tidak menjamin seseorang masuk surga. Tetapi yang menjamin masuk surga adalah kurban Yesus di kayu salib yang direspons dengan benar, yaitu dengan melakukan kehendak Bapa.
Kalau tidak melakukan kehendak Bapa, seesorang tidak akan masuk surga atau masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Firman Tuhan jelas mengatakan: “Keluarlah kamu dari antara mereka, jangan menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu sebagai anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan” (2Kor. 6:17-18). Firman Tuhan tersebut menetapkan bahwa ada syarat. Dalam konteks ayat ini, syarat yang dimaksud adalah respons kita. Artinya, respons kita harus memenuhi standar respons yang benar, yaitu melakukan kehendak Bapa. Firman Tuhan juga mengatakan bahwa kita dipanggil bukan untuk melakukan apa yang cemar, siapa yang menolak ini menolak Allah. Di bagian lain, firman Tuhan dalam 1 Petrus 1:16 mengatakan: “Kuduslah kamu sebab Aku kudus, sebab kalau kamu memanggil Allah itu Bapa yang menghakimi orang tanpa memkitang muka artinya perbuatanmu, hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia.” Kalimat yang lain mengatakan: “hendaklah kamu hidup dalam kekudusan, hanya orang-orang kudus yang melihat Allah,” itu firman Tuhan jelas.
Banyak orang Kristen tidak mengerti hal ini atau tidak mau mengerti oleh karena ajaran yang keliru yang mengesankan masuk surga itu mudah. Ini yang menjadi masalah. Mereka berpikir masuk surga itu gampang, sehingga yang terjadi adalah tidak ada usaha untuk menjadi anak-anak Allah yang memenuhi standar hidup sebagai anak-anak Allah, yaitu Yesus sebagai modelnya. Usaha untuk berbuat baik sering ditanggapi atau dinilai sebagai tindakan yang keliru s...