Biasanya orang membangun hubungan dengan Allah secara satu pihak saja, yaitu dirinya percaya dan menggambarkan Allah di dalam pikirannya sesuai dengan pandangan teologinya. Namun, mereka tidak mempersoalkan Allah dalam kehidupan riil terkait dengan pengalaman hidup ini. Mereka tidak mempersoalkan bagaimana sebenarnya Allah itu dalam pengalaman hidupmereka. Mereka tidak memperkarakan bagaimana sikap Allah terhadap dirimereka dan sikap dirimereka terhadap Allah. Dengan demikian,merekasebenarnya hanya membangun konseptentangAllah di dalam pikiranmereka saja. Bagi kelompok Karismatik dan Pentakosta, mereka membuktikan kebenaran Allah yang mereka yakini dan promosikan dengan kesaksian, mukjizat, penglihatan, nubuat, dan berbagai karunia roh lainnya. Padahal semua itu sangat berpotensi sebagai pengalaman palsu. Namun, kelompok lain—biasanya dari kelompok Protestan—membuktikan kebenaran Allah yang diyakini dengan rumusan, kajian, dan doktrin teologi yang dipaparkan dalam ribuan lembar halaman buku.
Bagaimana seharusnya kita bisa menghayati keberadaan Allah? Pengalaman pribadi dengan Allah harus dibangun melalui doa pribadi. Kalau Allah diyakini hidup, Allah pasti bisa dirasakan dan dialami secara riil. Untuk itu, kita harus berani menyediakan diri untukmenjumpai Dia secara khusus dalam ruangan tertutup dan waktu yang cukup. Hal ini bukan sesuatu yang mudah. Kalau seseorang tidak membiasakan diri, ia tidak akan bisa bertahan lama duduk diam di kaki Allah. Kalaupun bertahan lama, kebiasaanitutidak berkualitassamasekali. Kita harus memiliki “niat” yang tulus dan kuat untuk ini. Kalau ada niat, seberapapun waktu yang harus disediakan tidak akanmenjadi masalah. Niat juga akan menghalau kebosanan atau kejenuhan yang bisa timbul pada waktu duduk diam di kaki Allah. Dalam hal ini,ketekunansungguh-sungguh sangat dibutuhkan. Tanpa ketekunan, seseorang tidak akan menemukan Allah.
Dalam niat menemui Allah, kita juga harus berprinsip bahwa tidak ada yang dapat memuaskan dan membahagiakan kita selain Allah. Kita harus membuang semua kesenangan, hobi atau apapun yang kita pandang sebagai kesenangan. Kalau hal ini kita lakukan, kita akandapat mengembangkan kelaparan dan kehausan akan Allah dalam diri kita. Firman Allah mengatakan bahwa hanya orang yang lapar dan haus akan kebenaran yang dipuaskan (Mat. 5:6).Dalam kalangan Kristen, terdapat ajaran yang membuat mereka tidak mencari Allah dengan sungguh-sungguh karenaadanyasebuah teori yang salah dipahami. Teori pengajaran tersebut adalah bahwa “Bukan kita yang terlebih dahulu mencari Allah, melainkanAllah yang terlebih dahulu mencari kita.” Dengan prinsip ini, banyak orang Kristen—bahkan para teolog—merasa tidak perlu mencari Allah secara benar. Mereka memandang bahwa mencari Allah dipandang sebagai bentuk penyangkalan terhadap kebenaran dan dipandang sebagai kesombongan. Padahal,mencari Allah justru merupakan sikap kerendahan hati dari seorang yang merasa sungguh-sungguh membutuhkan Allah.
Kalimat “Bukan kita yang terlebih dahulu mencari Allah, melainkan Allah yang terlebih dahulu mencari kita” sebenarnya tidak salah, tetapi hal itu harus dipahami dengan benar. Memang Allah yang berinisiatif menyelamatkan kita dengan mengutus Putra-Nya untukturun dari surga, mengosongkan diri, dan menebus dosa kita di kayu salib. Namun, setelah kita menjadi anak tebusan, kita harus mencari dan menemukan Dia dengan benar atau secara proporsional. Terkait dengan hal ini, Paulus menyatakan,“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh KristusYesus” (Flp. 3:12). Konteks tulisan Paulus ini adalah panggilan untuk barter (salingbertukar) agar memiliki Kristus dan usahanya untuk mencapai kesempurnaan (Flp. 3:7-11).
Banyak orang tidak memperkarakan sikap Allah terhadap diri mereka. Mereka tidak memedulikan secara proporsional apa dan bagaimana penilaian Allah atas dirimerek...