Terdapat kesalahan yang bisa memenjara pikiran sehingga berakibat seseorang tidak menjalani kehidupan iman yang sejati. Kesalahan tersebut berangkat dari ketidaktepatan memahami Efesus 2:1. Efesus 2:1 tertulis: “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.” Kata “mati” di sini sering dipahami bahwa manusia tidak sanggup sama sekali untuk merespons kasih karunia Allah. Sehingga, dibangun pemahaman bahwa manusia hanya menerima saja tindakan Allah sepihak untuk dapat menerima kasih karunia yang di dalamnya terdapat keselamatan. Mereka berpandangan bahwa manusia bisa merespons kasih karunia hanya karena intervensi Allah secara penuh dan sepihak di dalam diri manusia, yang menggerakkan seseorang dapat menerima kasih karunia Allah. Jadi, semua dikerjakan oleh Allah. Dan dengan demikian, manusia tidak berperan sama sekali.
Sebenarnya, kata “mati” di sini berarti bahwa manusia tidak dapat mencapai kehidupan seperti rancangan Allah semula. Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Manusia tidak mampu mencapai kesucian dengan standar yang Allah kehendaki. Manusia tidak lagi berkodrat ilahi, tetapi berkodrat dosa. Kejatuhan manusia ke dalam dosa bukan berarti manusia menjadi jahat seperti binatang, tetapi manusia tidak mampu mencapai kesempurnaan seperti Bapa. Dengan usahanya sendiri, manusia tidak mampu kembali seperti rancangan semula. Dalam hal ini, perlu intervensi Allah untuk menyelamatkan manusia dengan menyediakan kasih karunia di dalam atau melalui salib Yesus. Orang yang menjadi umat pilihan dituntun untuk dapat dikembalikan ke rancangan semula. Dalam hal ini, Allah menyediakan kasih karunia, dan manusia harus meresponsnya secara proporsional. Manusia yang menerima tuntunan Allah dapat mewujudkan maksud keselamatan diberikan untuk manusia.
Dalam keadaan manusia yang jatuh dalam dosa, manusia tidak akan mampu mengangkat dirinya sendiri menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Inilah yang disebut mati. Manusia membutuhkan kasih karunia. Tetapi, manusia harus menyambut uluran tangan Allah tersebut dengan memberi diri digarap oleh Allah. Untuk ini, seseorang yang mau diselamatkan harus melepaskan segala sesuatu (Luk. 14:33). Kalau seseorang tidak mau melepaskan segala sesuatu—seperti orang muda kaya di Matius 19—maka keselamatan tidak bisa dimiliki dan terwujud dalam hidupnya. Tetapi kalau seseorang berani melepaskan dirinya dari segala ikatan percintaan dunia—seperti Zakheus—maka keselamatan dapat terjadi di dalam hidupnya dan keluarganya (Luk. 19:9).
Bila proses keselamatan dikerjakan oleh Allah sendiri secara sepihak, berarti orang percaya tidak perlu bertindak apa pun. Pengajaran ini menutup mata pengertian orang sehingga tidak ada usaha yang sungguh-sungguh untuk berjuang mewujudkan keselamatan yang sejati dari bangunan iman yang benar. Padahal, manusia harus memiliki tanggung jawab dalam merespons kasih karunia. Itulah sebabnya, Yesus mengatakan bahwa orang percaya harus masuk jalan sempit untuk mengalami dan memiliki keselamatan (Luk. 13:23-24). Jadi, kalau seseorang mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia harus berusaha menggunakan fasilitas keselamatan agar bisa menaruh pikiran dan perasaan Kristus, atau menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah. Hal ini harus diperjuangkan, sebab tidak bisa terealisasi secara otomatis.
Keselamatan tidak terwujud dan dimiliki dengan sendirinya karena memang Allah tidak secara sepihak mengerjakan keselamatan di dalam diri seseorang. Keselamatan juga harus dikerjakan masing-masing individu. Pandangan banyak orang adalah bahwa Allah-lah yang mengerjakan keselamatan tanpa peran manusia sama sekali. Hal ini didasarkan pada Filipi 2:13. Mereka mengutip teks tersebut tanpa memerhatikan teks lain dalam pasal tersebut. Padahal, dalam teks sebelumnya, tertulis agar orang percaya berusaha menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus (Flp. 2:5). Lagipula,