Orang Kristen yang mau hidup di hadapan Allah harus memercayai Allah secara benar. Untuk itu kita harus memahami dan menerima sepenuhnya bahwa Allah pantas atau layak dipercayai. Allah pantas atau layak dipercaya walaupun Ia tidak menunjukkan bukti-bukti keberadaan dan kehadiran-Nya secara fisik atau lahiriah. Banyak hal yang tidak kelihatan, tetapi merupakan fenomena riil; seperti misalnyaarus listrik, angin,udaradan lain sebagainya. Manusia dapat meyakini keberadaan mereka karena dapat membuktikan keberadaan mereka, tetapi Allah hendaknya tidak diperlakukan sama seperti mereka. Allah harus dipercayai walaupun Dia seakan-akan tidak ada. Kita harus memercayai Allah walaupun tidak ada bukti lahiriah, sebab dasarnya adalah iman, yaitu apa yang dikatakan Alkitab mengenai Dia.
Memercayai Allahharus tidak bersyarat.Prinsipnya adalah “Aku percayabukan karena melihat; aku percaya walaupun aku tidak melihat.” Sejajar dengan itu, prinsipkitaadalah “Aku percaya walaupun aku tidak mengerti,” bukan “Aku percaya karena aku mengerti.” Sesuai Firman Allah, kalau kita tekun memercayai Dia, kita akan mengalami Allah dan memiliki kesaksian bahwa Dia ituhidup dan nyata. Allah pasti memenuhi janji-Nya bahwa Dia berkenan ditemui oleh mereka yang mencari Allah.Ketika mengalami keadaan sulit, dan Allah seakan-akan tidak peduli, kita harus tetap memercayai keberadaan dan kehadiran-Nya.
Ada orang-orang yang kecewa bahkan marah terhadap Allah, ketika mengalami suatu keadaan atau situasi tertentu yang dirasa merugikandan menyakiti. Ia akanmempersalahkan Allah. Mereka berpikir bahwaAllah adalahpenyebabnya. Kalau Allah bukan penyebabnya, mengapa Allah tidak menghindarkannya? Di antara mereka ada yang berkata, “Aku tidakakan percaya lagi kepada Allah,” bahkan ada yang berani berkata bahwa Allah itujahat. Orang-orang seperti ini tidak memahami bahwa dirinya tidak ada apa-apanya dibanding Allah yang Mahabesar. Allah memangsering seakan-akan diam, tetapi bukan berarti ada alasan untuk menyalahkan-Nya.
Percaya kepada Allah harus dengan keyakinan tanpa menuntut bukti-bukti atau tanda-tanda lahiriah kehadiran-Nya. Hal ini menjadi prinsip penting. Hal tersebut akan membuat kita tetap menghormati Dia, bagaimanapun keadaan kita. Selain itu, haltersebut juga dapat membuat kita setia dan tekun untukduduk diam di kaki Allah dalam penghayatan terhadap kehadiran-Nya. Untuk itu, kita harus belajar percaya bukan dengan perasaan,melainkan dengan iman. Melalui berbagai pengalaman hidup, Allah mengajar kita untuk mempertajam dan mengukuhkan kepercayaan kepada Dia. Tanpa pengalaman-pengalaman riil dalam kehidupan ini, kita tidak dapat memahami iman yang sejati kepada Allah. Tembok sekolah tinggi teologi tidak cukup untukmembangun iman yang sejati.
Kita percaya kepada Allah bukan sekadar memercayai adanya Allah dan mengakui bahwa Allah itu esa, melainkanjuga menerima segala keadaan sebagai berkat yang Allah berikan untuk dapatlebih mengenal diri-Nya. Salah satu sikap penting yang harus dimiliki untuk hidup di hadapan Allah dengan benar adalah bersedia menerima segala keadaan. Sosok yang patut dicontoh dalam hal ini adalah Ayub. Sekalipun ia kehilangan segala sesuatu—yaitu harta, keluarga dan kesehatan tubuhnya—ia tetap percaya kepada Allah dan tidak berdosa dengan mulutnya (Ayb. 2:8-10).Untuk bisa menerima segala keadaan tanpa mempersalahkan Allah, seseorang harus bersedia kehilangan hak untukmenikmati hidup bahagia di dunia.Seseorang juga harusbersedia untukhanya mengarahkan diri ke Kerajaan-Nya. Dengan demikian, iaakan terus menerus beradadalam penghayatan bahwa dunia ini bukan rumah kita.
Sebagai makhluk yang diciptakan oleh Pencipta, kita seharusnya tidak merasa berhak hidup kecuali hidup dalam kehendak dan rencana Sang Pencipta. Hal ini merupakansesuatu yang sangat wajar. Idealnya, orang percaya hidupseperti Petrus yang sudah dewasa, yang tidak lagi mengikat pinggangnya untukpergi kemana pun ia suka,