
Sign up to save your podcasts
Or


(Taiwan/ROC) --- Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 20 Oktober 2018 mengumumkan Amerika Serikat menarik diri dari perjanjianIntermediate-Range Nuclear Forces Treaty, INF. Hal ini disebabkan oleh sistim rudal berbasis darat yang dikembangkan oleh Rusia. Ini dinilai Amerika Serikat sebagai tindakan yang melanggar peraturan. Di saat yang sama, Donald Trump juga menyalahkan Daratan Tiongkok. Ia melanjutkan Amerika Serikat juga akan mengembangkan senjata nuklir mereka. Perjanjian INF ditandatangani bersama oleh Amerika Serikat dan Rusia, guna untuk mengurangi ketegangan Perang Dingin. Perjanjian ini juga merupakan salah satu langkah penting penunjang kedamaian global. Munculnya pernyataan Donald Trump pada Bulan Oktober lalu, dirasa dapat memercik ketegangan yang akan berimbas pada perdamaian dunia.
Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah
Perjanjian INF memiliki nama lengkap Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah, ini merupakan perjanjian antar AS dengan Rusia untuk membatasi persaingan dalam mengembangkan senjata nuklir masing-masing. Setelah melalui negosiasi panjang, perjanjian ini berhasil disepakati oleh 2 pemimpin negara adidaya tersebut, yakni Ronald Reagan dan Mikhail Gorbachev.
Terdapat 17 point mengisi perjanjan ini. Point-point ini mengatur kedua belah pihak, untuk menghancurkan seluruh rudal jarak pendek dengan jangkauan 500KM hingga 1000KM dan rudal jarak menengah dengan radius 1000KM hingga 5000KM. Menilik dari isi perjanjian, kedua belah pihak telah menghancurkan 2700 rudal jarak menengah dan menutup seluruh proses produksi serta membatalkan rencana pengujian rudal. Perjanjian INF merupakan perundingan perdana yang mengatur pelucutan senjata nuklir kedua negara setelah Perang Dunia 2 berakhir. INF juga memainkan peran penting dalam mengurangi atau bahkan menghambat berkembangnya senjata mematikan tersebut.
Krisis Kepercayaan dan Ikut Campurnya Daratan Tiongkok
Alasan Donald Trump menarik diri dari Perjanjian INF karena tidak patuhnya Rusia terhadap ketentuan yang ada, ditambah tidak terlibatnya Daratan Tiongkok dalam perjanjian tersebut. Mengingat Daratan Tiongkok kini juga memiliki kemampuan mutakhir memproduksi senjata nuklir. Namun faktanya, Amerika Serikat dan Rusia tidak betul-betul mengikuti norma yang ada. Pada tahun 2014, Mantan Presiden Barack Obama pernah menuduh Rusia telah melakukan uji coba rodal ke udara. Di saat tersebur, Obama sempat mengajukan wacana untuk menarik dari INF. Jerman di kala itu khawatir, hal ini hanya akan membuat negara-negara adidaya berlomba-lomba memperlihatkan kemampuan bersenjata nuklir. Barack Obama pun mengurungkan niatnya. Setelah Obama lengser dari jabatan, cerita ini kembali terulang. Donald Trump pun menuduh hal yang sama dan dicurigai Rusia telah mengembangkan Iskander. Amerika Serikat menuduh Rusia telah mengembangkan sistim rudal berbasis darat, yang dicurigai akan dimanfaatkan Rusia untuk menyerang Uni Eropa dan negara pecahan Uni Soviet. Di lain pihak, Rusia pun membantah mentah-mentah tudingan Amerika Serikat. Sebaliknya, rudal Tomahawk Amerika Serikat-lah dinilai Rusia sebagai salah satu bentuk pelanggaran nyata perjanjian INF.
Krisis kepercayaan antar Amerika Serikat dengan Rusia sudah terjadi sejak lama. Kini keadaanya semakin runyam, ditambah dengan faktor Daratan Tiongkok. Perjanjian Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah yang telah berusia 30 tahun pun berakhir. Penasihat keamanan Gedung Putih John Bolton mengakui kabar bahwa Amerika Serikat-lah yang mengajukan pengunduran diri terlebih dahulu. John menambahkan rudal yang dimiliki Daratan Tiongkok, sepertiga bahkan setengahnya tidak memenuhi standar INF. Ditambah lagi Negeri Tirai Bambu tidak masuk dalam daftar perjanjian INF, sehingga mereka semakin leluasa dalam mengembangkan senjata tersebut. Tiongkok dinilai semakin mengembangkan kekuatannya di Samudera Pasifik, dan karena alasan inilah Amerika Serikat memutuskan untuk menarik dari INF. Donald Trump mengemukakan akan menghentikan seluruh perkembangan senjata nuklir, jika Rusia dan Tiongkok berlaku sama.
Perang Dingin akan Menghangat Kembali?
Pernyataan Donald Trump mendapatkan reaksi keras dari Rusia dan Daratan Tiongkok. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, “Kami tidak melakukan apa. Jika ada negara yang ingin menyerang kami dengan senjata nuklir, kami pun tidak akan tinggal diam. Senjata yang kami miliki dapat menghancurkan lawan”.
Mantan Penguasa Uni Soviet Mikhail Gorbachev yang juga bertindak sebagai penandatangan Perjanjian INF, menilai pernyataan Donald Trump yang tidak masuk akal. Daratan Tiongkok pun menilai Amerika Serikat tidak sepatutnya mengundurkan diri secara sepihak. Juru bicara Departemen Luar Negeri Tiongkok Hua Chun-ying (華春瑩) mengemukakan INF merupakan perjanjian yang menjamin perdamaian dunia dan mampu menciptakan keseimbangan strategis dalam dunia internasional serta meminta AS untuk berpikir 2 kali sebelum bertindak. Hua Chun-ying juga menambahkan untuk tidak menyeret Tiongkok dalam polemik pengunduran diri AS dari INF.
By Yunus Hendry, Rti(Taiwan/ROC) --- Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 20 Oktober 2018 mengumumkan Amerika Serikat menarik diri dari perjanjianIntermediate-Range Nuclear Forces Treaty, INF. Hal ini disebabkan oleh sistim rudal berbasis darat yang dikembangkan oleh Rusia. Ini dinilai Amerika Serikat sebagai tindakan yang melanggar peraturan. Di saat yang sama, Donald Trump juga menyalahkan Daratan Tiongkok. Ia melanjutkan Amerika Serikat juga akan mengembangkan senjata nuklir mereka. Perjanjian INF ditandatangani bersama oleh Amerika Serikat dan Rusia, guna untuk mengurangi ketegangan Perang Dingin. Perjanjian ini juga merupakan salah satu langkah penting penunjang kedamaian global. Munculnya pernyataan Donald Trump pada Bulan Oktober lalu, dirasa dapat memercik ketegangan yang akan berimbas pada perdamaian dunia.
Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah
Perjanjian INF memiliki nama lengkap Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah, ini merupakan perjanjian antar AS dengan Rusia untuk membatasi persaingan dalam mengembangkan senjata nuklir masing-masing. Setelah melalui negosiasi panjang, perjanjian ini berhasil disepakati oleh 2 pemimpin negara adidaya tersebut, yakni Ronald Reagan dan Mikhail Gorbachev.
Terdapat 17 point mengisi perjanjan ini. Point-point ini mengatur kedua belah pihak, untuk menghancurkan seluruh rudal jarak pendek dengan jangkauan 500KM hingga 1000KM dan rudal jarak menengah dengan radius 1000KM hingga 5000KM. Menilik dari isi perjanjian, kedua belah pihak telah menghancurkan 2700 rudal jarak menengah dan menutup seluruh proses produksi serta membatalkan rencana pengujian rudal. Perjanjian INF merupakan perundingan perdana yang mengatur pelucutan senjata nuklir kedua negara setelah Perang Dunia 2 berakhir. INF juga memainkan peran penting dalam mengurangi atau bahkan menghambat berkembangnya senjata mematikan tersebut.
Krisis Kepercayaan dan Ikut Campurnya Daratan Tiongkok
Alasan Donald Trump menarik diri dari Perjanjian INF karena tidak patuhnya Rusia terhadap ketentuan yang ada, ditambah tidak terlibatnya Daratan Tiongkok dalam perjanjian tersebut. Mengingat Daratan Tiongkok kini juga memiliki kemampuan mutakhir memproduksi senjata nuklir. Namun faktanya, Amerika Serikat dan Rusia tidak betul-betul mengikuti norma yang ada. Pada tahun 2014, Mantan Presiden Barack Obama pernah menuduh Rusia telah melakukan uji coba rodal ke udara. Di saat tersebur, Obama sempat mengajukan wacana untuk menarik dari INF. Jerman di kala itu khawatir, hal ini hanya akan membuat negara-negara adidaya berlomba-lomba memperlihatkan kemampuan bersenjata nuklir. Barack Obama pun mengurungkan niatnya. Setelah Obama lengser dari jabatan, cerita ini kembali terulang. Donald Trump pun menuduh hal yang sama dan dicurigai Rusia telah mengembangkan Iskander. Amerika Serikat menuduh Rusia telah mengembangkan sistim rudal berbasis darat, yang dicurigai akan dimanfaatkan Rusia untuk menyerang Uni Eropa dan negara pecahan Uni Soviet. Di lain pihak, Rusia pun membantah mentah-mentah tudingan Amerika Serikat. Sebaliknya, rudal Tomahawk Amerika Serikat-lah dinilai Rusia sebagai salah satu bentuk pelanggaran nyata perjanjian INF.
Krisis kepercayaan antar Amerika Serikat dengan Rusia sudah terjadi sejak lama. Kini keadaanya semakin runyam, ditambah dengan faktor Daratan Tiongkok. Perjanjian Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah yang telah berusia 30 tahun pun berakhir. Penasihat keamanan Gedung Putih John Bolton mengakui kabar bahwa Amerika Serikat-lah yang mengajukan pengunduran diri terlebih dahulu. John menambahkan rudal yang dimiliki Daratan Tiongkok, sepertiga bahkan setengahnya tidak memenuhi standar INF. Ditambah lagi Negeri Tirai Bambu tidak masuk dalam daftar perjanjian INF, sehingga mereka semakin leluasa dalam mengembangkan senjata tersebut. Tiongkok dinilai semakin mengembangkan kekuatannya di Samudera Pasifik, dan karena alasan inilah Amerika Serikat memutuskan untuk menarik dari INF. Donald Trump mengemukakan akan menghentikan seluruh perkembangan senjata nuklir, jika Rusia dan Tiongkok berlaku sama.
Perang Dingin akan Menghangat Kembali?
Pernyataan Donald Trump mendapatkan reaksi keras dari Rusia dan Daratan Tiongkok. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, “Kami tidak melakukan apa. Jika ada negara yang ingin menyerang kami dengan senjata nuklir, kami pun tidak akan tinggal diam. Senjata yang kami miliki dapat menghancurkan lawan”.
Mantan Penguasa Uni Soviet Mikhail Gorbachev yang juga bertindak sebagai penandatangan Perjanjian INF, menilai pernyataan Donald Trump yang tidak masuk akal. Daratan Tiongkok pun menilai Amerika Serikat tidak sepatutnya mengundurkan diri secara sepihak. Juru bicara Departemen Luar Negeri Tiongkok Hua Chun-ying (華春瑩) mengemukakan INF merupakan perjanjian yang menjamin perdamaian dunia dan mampu menciptakan keseimbangan strategis dalam dunia internasional serta meminta AS untuk berpikir 2 kali sebelum bertindak. Hua Chun-ying juga menambahkan untuk tidak menyeret Tiongkok dalam polemik pengunduran diri AS dari INF.