“Yesus yang lain” mengajarkan bahwa semua orang Kristen adalah anak-anak Allah yang sah. Berbicara mengenai anak-anak Allah, kita perlu meninjau Yohanes 1:12, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Kata “kuasa” berasal dari teks aslinya exousia (ἐξουσία), yang berarti hak istimewa yang membuat seseorang memiliki fasilitas untuk bisa menjadi anak-anak Allah. Masalahnya adalah apakah setiap orang Kristen adalah anak-anak Allah yang sah? Bagaimana sebenarnya seseorang pantas disebut sebagai anak-anak Allah? Dalam Roma 8:14, Alkitab mencatat bahwa semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak-anak Allah. Jadi, orang yang tidak dipimpin oleh Roh Allah berarti bukan anak-anak Allah.
Pada zaman anugerah ini, Tuhan membuka kesempatan bagi manusia untuk menjadi anak-anak Allah, yaitu hidup dalam pimpinan Roh Allah. Roh Allah berkenan kembali diberikan untuk diam dalam diri manusia. Inilah yang dijanjikan Tuhan Yesus, bahwa “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu”(Yoh. 16:7). Kita adalah orang yang sungguh beruntung karena kita menjadi orang yang terpilih untuk bisa hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak mendukakan Roh Kudus yang telah dimeteraikan dalam diri kita. Jangan sampai peristiwa di Kejadian 6 terulang lagi:karena manusia tidak hidup dalam pimpinan Roh Kudus, selalu hidup dalam kedagingan, Roh Allah pun undur. Inilah yang disebut sebagai menghujat Roh Kudus. Menghujat Roh Kudus berarti menolak karya Roh Kudus yang menuntun orang Kristen untuk hidup sebagai anak-anak Allah.Bila kesempatan ini tidak dihargai, tidak akan ada lagi kesempatan kedua bagi kita.
“Kuasa” yang dikatakan dalam Yohanes 1:12 tidak otomatis membuat seorang Kristen menjadi anak-anak Allah yang sah. Kuasa itu diberikan supaya kita menjadi anak-anak Allah yang sah. Jadi kalau seseorang tidak memanfaatkan kuasa itu, seseorang tidak akan pernah menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah berarti berkarakter seperti Allah. Inilah panggilan sebagai orang percaya, yaitu menjadi sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48).Orang yang tidak memiliki karakter seperti Bapa tentu saja tidak pantas menyebut dirinya sebagai anak-anak Allah. Ciri dari orang Kristen yang sah sebagai anak-anak Allah adalah ketika seseorang memiliki karakter Bapa. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak sembarangan menunjuk seseorang sudah menjadi anak-anak Allah.
Untuk membahas mengenai anak yang sah dan tidak sah, perlu kita memerhatikan tulisan dalam Surat Ibrani.Dalam Ibrani 12:8, terdapat kata “anak-anak gampang.” Apa maksudsebenarnya? Dalam teks asli Alkitab, kata “anak gampang” di sini adalah “nothos” (νόθος), yang berarti anak yang tidak sah (Ing. illegitimate son). Kata ini juga bisa berarti anak haram (Ing. bastard). Dalam teks Yunani, selain kata nothos, ada juga kata huios (υἱός), yang artinya anak dalam arti, anak yang resmi atau anak yang sungguh-sungguh memiliki pertalian keluarga atau anak yang sah (Ing. kinship). Kata ini juga digunakan sebagai sebutan bagi Yesus yang adalah Anak Allah. Jadi, ada anak yang berstatus sebagai anak sah yang akan mewarisi kekayaan dan keagungan orangtua, atau seperti pangeran; tetapi ada anak-anak gampang, anak yang tidak sah yang tidak akan mewarisi kekayaan orangtua. Dalam kehidupan orang Kristen juga terdapat orang-orang yang tergolong sebagai nothos dan sebagai huios. Kalau jujur, Saudara termasuk yang mana?
Pada waktu seseorang dengan mulut mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, ia diberi kuasa atau hak supaya menjadi anak-anak Allah. Ini belum tentu membuat dia sudah sah sebagai anak-anak Allah (Yun. huios). Ia masih berstatus nothos, yang artinya anak yang belum atau tidak sah. Jika kemudian ia memanfaatkan kuasa atau hak itu,