Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa, maksudnya dalam konteks harus melakukan kebaikan bagi semua orang, baik kepada orang baik maupun orang jahat, orang benar maupun orang yang tidak benar. Sempurna seperti Bapa artinya berkodrat seperti Bapa, yaitu berkodrat Ilahi. Sebagai anak-anak Allah (Theos) yang juga adalah Bapa, kita harus juga bersikap sama seperti Bapa terhadap semua orang. Dengan demikian, orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa. Luar biasa bukan dalam penampilan lahiriah, harta, gelar, pangkat, kedudukan, dan lain sebagainya; tetapi orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Ahli Taurat dan orang Farisi adalah tokoh-tokoh agama yang dipandang sebagai orang saleh yang melebihi masyarakat. Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang percaya harus lebih benar dari mereka. Ini berarti orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Tingkat keluarbiasaannya adalah kehidupan moral yang melebihi tokoh-tokoh agama, yaitu berkodrat Ilahi.
Dalam Matius 5:20 Tuhan mengatakan dengan sangat jelas: Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kata hidup “keberagamaanmu” dalam Matius 5:20 adalah dikaiosune (δικαιοσύνη). Kata ini lebih tepat diterjemahkan kebenaran yang bertalian dengan kelakuan, baik yang kelihatan mapun yang tidak kelihatan, yaitu sikap hati dan pola berpikir kita. Kata dikaiosune menyangkut integrity, virtue, purity of life, rightness, correctness of thinking feeling, and acting (integritas, kebajikan, kemurnian hidup, kebenaran, kebenaran perasaan berpikir, dan perilaku). Dalam bahasa Inggris diterjemahkan righteousness. Kata ini dalam konteks tersebut bisa berarti beberapa, antara lain: state of him who is as he ought to be, righteousness, the condition acceptable to God (keadaan yang semestinya dimiliki, sebuah keadaan atau kondisi yang diterima oleh Tuhan).
Keadaan yang semestinya dimiliki, menunjuk kepada keadaan manusia yang seharusnya dikenakan sesuai rancangan Allah sejak semula ketika diciptakan.
Jadi, kalau orang percaya dipanggil
untuk hidup secara luar biasa,
maksudnya bahwa manusia dibawa
kepada keadaan sesuai dengan maksud Allah menciptakan manusia itu,
yaitu berkodrat Ilahi.
Kalau Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang percaya harus berkeadaan diterima oleh Allah melebihi dari ahli Taurat dan orang Farisi, berarti orang percaya dihakimi dengan ukuran berbeda. Bisa dimengerti mengapa Paulus mengatakan bahwa ia berusaha untuk berkenan. Berkenan artinya berkeadaan diterima oleh Allah sesuai dengan standar yang diinginkan oleh Tuhan (the condition acceptable to God). Berkenan yang dimaksud oleh Paulus adalah diterima dalam rumah Bapa sebagai anggota keluarga Kerajaan. Hal ini lebih dari sekadar masuk dunia yang akan datang, tetapi keadaan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Ini berarti menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Inilah orang orang yang benar-benar menjadi benar.
Ungkapan “benar-benar benar” bukanlah ungkapan yang harus dikaitkan dengan keberadaan Allah sebagai satu-satunya yang memiliki keberadaan sempurna secara mutlak atau benar-benar mutlak benar. Sebab Allah tentu memiliki kebenaran yang mutlak. Dia lebih dari sekadar “benar-benar benar”, Dia adalah kebenaran yang absolut. Sangatlah picik kalau ungkapan ini dikaitkan dengan Allah, sebab kebenaran Allah sudah tidak lagi dipersoalkan atau dicoba untuk dibedah. Kebenaran Allah adalah kebenaran yang tidak dapat dipecahkan dengan pikiran manusia yang terbatas, sebab kebenaran Allah tidak terbatas. Orang yang mencoba mengkaitkan ungkapan ini dengan Allah, dan menentang adanya usaha untuk memahami apa yang “benar-benar benar” dari perspektif manusia adalah orang yang tidak memiliki kerinduan untuk menjadi berkenan kepada Alla...