Untuk merubah cita rasa lidah, ada dua hal yang dilakukan. Pertama, pengetahuan mengenai kesehatan berkenaan dengan apa yang kita konsumsi, misalnya kadar kolesterol pada berbagai jenis makanan yang biasa dikonsumsi. Hal kedua adalah komitmen untuk tidak mengonsumsinya atau merubah pola makan dan gaya hidup. Ketika memahami pengetahuan mengenai nutrisi dan kesehatan, kita mulai mengerti terhadap berbagai jenis makanan yang harus pantang dimakan. Mindset kita diubah, kita memandang beberapa jenis makanan yang dulu merupakan makanan favorit, sekarang menjadi seperti racun di mata kita. Mulai ada penolakan dalam diri kita terhadap makanan tertentu. Kalau suatu kali harus mengonsumsinya, ada perasaan tidak nyaman walau lidah merasakan lezat. Penolakan tersebut harus diteguhkan oleh komitmen untuk tidak mengonsumsinya.
Komitmen atau tekad mengikut Yesus dengan meninggalkan dunia harus diperbaharui setiap hari. Sampai suatu hari nanti, seseorang berhasil untuk tidak mengonsumsi sama sekali makanan yang memang tidak boleh dimakan. Langkah seperti ini telah berhasil dilakukan oleh banyak orang dari berbagai kalangan dan agama. Hal itu dilakukan demi kesehatan yang mereka ingin miliki dan demi panjang umur. Hal ini menunjukkan bahwa memang tidak mudah untuk memiliki kesehatan dan panjang umur di bumi ini. Hal ini paralel dengan merubah cita rasa jiwa. Jiwa yang biasa mengonsumsi keindahan dunia, rasa puas, dan bahagia memiliki berbagai fasilitas, kesukaan dipuji dan dihormati manusia lain, dan menikmati nafsu daging yang tidak sesuai dengan norma kesucian Tuhan, tidak mudah disingkirkan dari diri kita.
Cita rasa jiwa terhadap dunia membuat seseorang tidak memiliki hati yang mengasihi Bapa. Tidak mengasihi Bapa berarti tidak menghormati Dia. Siapa pun orang Kristen seperti itu tidak akan diterima di Kemah Abadi dalam Kerajaan-Nya. Mereka membinasakan dirinya sebab berlaku kurang ajar terhadap Allah Bapa. Inilah orang-orang Kristen yang sebenarnya tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Sebab, kalau seseorang mengaku percaya, berarti ia tinggal di dalam Dia. Tinggal di dalam Dia berarti hidup dalam persekutuan dengan Tuhan Yesus dengan mengenakan cara hidup Yesus dalam dirinya setiap hari. Dan orang yang tinggal di dalam Tuhan Yesus wajib seperti Dia hidup (1Yoh. 2:6). Hidup seperti Yesus hidup berarti taat kepada kehendak atau keinginan Bapa sebagai sikap hormat terhadap Dia.
Bagaimana pun, akhirnya setiap individu harus menentukan apakah akan terus terhanyut oleh arus dunia dengan mengikuti jalannya, atau hanyut oleh arus kebenaran Tuhan dengan mengikuti jalan Tuhan. Dua arus ini masing-masing memiliki pusat pusaran. Semakin jauh dari pusat pusaran, arusnya lemah, dan dua arus tersebut bersinggungan satu sama lain. Kalau seseorang semakin masuk pusat pusaran salah satu arus, maka semakin tidak dapat diseret keluar. Kalau seseorang masuk pusat pusaran dunia, ia tidak bisa kembali kepada arus pusaran Tuhan atau sebaliknya. Perlu diwaspadai bahwa arus dunia ini sangat kuat, bagai banjir bandang yang menyeret semua yang ada di sekitarnya. Faktanya, memang lebih banyak orang terseret oleh arus dunia yang membawanya menuju kebinasaan daripada terseret arus Tuhan.
Hendaknya, kita tidak berpikir dangkal, seakan-akan kalau sudah sudah bergereja atau beragama berarti tidak terseret oleh arus dunia ini. Dalam kelicikan hati manusia, ada orang-orang yang merasa bahwa dirinya sudah dibawa arus Tuhan karena melakukan berbagai aktivitas gerejani, hal mana tidak dilakukan oleh orang yang telah meninggalkan Tuhan, yaitu mereka yang telah terbawa arus dunia. Apalagi kalau membandingkan diri mereka dengan orang-orang yang melakukan berbagai pelanggaran moral, maka orang-orang Kristen tersebut merasa bahwa mereka sudah ada di arus Tuhan. Sesungguhnya kegiatan gereja, jabatan aktivis gereja, majelis, bahkan pendeta bukanlah jaminan kalau mereka tidak terbawa arus dunia. Apakah seseorang terbawa salah satu arus dapat dikenali dari cara...