Banyak orang mengucapkan kalimat-kalimat penyembahan, namun belum tentu dengan hati yang menyembah. Menyembah adalah sikap hidup dalam penundukan diri kepada Allah di setiap hari dalam segala aspeknya. Seperti misalnya, kalau seorang anak tunduk kepada orangtua, tentu setiap hari dalam segala aspeknya tunduk kepada orangtua. Jadi, bukan menunjukkan penundukan diri hanya pada waktu di depan orang, tetapi merupakan sikap hati yang permanen. Kalau seorang anak menunjukkan penundukan diri hanya karena di depan orang, maka hal tersebut seperti sebuah sikap mengolok-olok, atau mempermainkan, dan melecehkan orangtua. Hal ini juga bisa terjadi atas kehidupan orang Kristen terhadap Tuhan. Ketika mereka ada dalam gereja, dalam liturgi mereka menyanjung Tuhan dengan syair-syair pujian yang menunjukkan seakan-akan mereka memiliki sikap penundukan diri kepada Tuhan, tetapi dalam kenyataan hidup setiap hari, mereka jauh dari sikap ketertundukan tersebut. Ini berarti sebuah sikap memperolok-olok atau mempermainkan, dan melecehkan Tuhan.
Jadi, kalau seseorang tidak memiliki sikap ketertundukan kepada Tuhan setiap hari—yang sama dengan tidak hidup di hadirat Allah, karena tidak serius dengan Allah, tidak mengasihi Allah dengan benar—maka liturginya di gereja merupakan sebuah kebohongan dan kemunafikan, seperti mempermainkan Allah. Munafik dari bahasa Yunani hipokrites, artinya orang yang memainkan peranan. Mereka berperan sebagai penyembah, pemuji, orang saleh, atau anak-anak Allah hanya di dalam gereja. Tetapi kenyataan hidup setiap harinya tidak demikian. Ini berarti mereka selalu hidup dalam kepura-puraan, sampai hal tersebut tidak disadari sama sekali. Sampai mati, mereka hidup dalam kepura-puraan, sehingga ketika di hadapan pengadilan Tuhan, mereka akan mengalami ketakutan yang luar biasa karena baru sadar betapa rusaknya diri mereka. Inilah yang dikatakan oleh Pemazmur sebagai berikut: Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan! Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupandang hina” (Mzm. 73:19-20).
Kalau kita jujur, sering kali kita tidak mengenali diri kita sendiri dengan baik. Tidak mungkin orang bisa mengenali dirinya dengan benar, kalau tidak memahami kesucian Allah melalui pengalaman konkret, bukan hanya melalui pengertian di dalam nalar. Seseorang harus memahami keagungan pribadi Allah, baru dapat mengenali siapa dirinya dengan benar. Tanpa kita sadari, sebenarnya sebagian besar kita adalah orang-orang sombong yang terselubung. Sebagian besar kita adalah orang-orang yang menolak untuk mengalah, memiliki kesukaan menyerang orang lain, dan tidak menghormati orang lain secara patut. Dan kita tidak menyadari bahwa kita sedang berbuat salah. Ini berarti kita tidak mengenali diri kita sendiri dengan benar. Kalau hal ini terjadi berlarut-larut pada diri seseorang sampai meninggal dunia, ia pasti binasa.
Banyak orang Kristen bukan saja hidup dalam gelimang ketidaktepatan, tetapi juga dalam dosa yang menyakitkan hati Allah, dan itu berarti tidak hidup dalam penyembahan. Hal itu terjadi karena mereka tidak serius mengasihi Allah. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak hidup di hadirat Allah. Kalau kita menyadari hal ini ada dalam kehidupan kita, kita harus segera bertobat dan berusaha untuk hidup baru setiap hari. Kita harus memiliki semangat atau gairah yang kuat untuk selalu mengalami perubahan. Perubahan demi perubahan akan membuat kita berkeadaan cemerlang di hadapan Allah, dan hal ini membuat kita siap meninggal dunia untuk diperhadapkan di pengadilan Tuhan. Kita harus mengenali diri kita masing-masing dengan benar. Kalau hidup kita belum menyukakan hati Allah, itu berarti pasti kita melukai orang di sekitar kita. Itu berarti juga kita belum bisa menjadi gift atau hadiah untuk orangtua, pasangan hidup, anak, dan semua orang.
Kita harus menyadari realitas bahwa rambut kita akan semakin memutih, gigi mulai rontok,