Sudut Aktual Taiwan

AS ingin Vietnam Menjadi Pusat Produksi Chip Dunia, Kekurangan Insinyur Menjadi Masalah


Listen Later

(Taiwan, ROC) --- Pasca perang dagang antara AS dan Tiongkok, banyak perusahaan teknologi besar memutuskan untuk berinvestasi di Vietnam, yang akhirnya mendorong peningkatan ekspor chip dari Vietnam.

Pemerintahan Presiden AS, Joe Biden, sedang merencanakan untuk membantu Vietnam menjadi pusat pasokan chip guna mencegah risiko rantai pasokan yang terlampau bergantung dengan Tiongkok, tetapi kekurangan insinyur di Vietnam dalam jangka panjang telah menjadi tantangan terbesar.

 

“Outsourcing Mitra Strategis”, AS Beri Keuntungan Besar untuk Vietnam

Dalam upaya untuk mengkonsolidasikan rantai pasokan di antara sekutu, pemerintah AS sedang mendorong strategi "outsourcing ke mitra strategis".

Dengan hubungan yang semakin membaik dengan AS, Vietnam mendapat manfaat besar dari reorganisasi rantai pasokan semikonduktor AS ini.

AS berharap untuk menjadikan Vietnam sebagai hub produksi chip. Namun, kekurangan tenaga insinyur adalah kekhawatiran terbesar bagi perkembangan industri semikonduktor Vietnam.

Ini menjadi tantangan besar dalam rencana AS untuk mendukung Vietnam menjadi pusat chip, guna mengurangi risiko pasokan yang terlampau bergantung terhadap Tiongkok.

Setelah pertemuan G20, Presiden Biden mengunjungi Vietnam dengan tujuan meningkatkan hubungan antara kedua negara, dengan ekspektasi bahwa semikonduktor akan menjadi fokus di masa mendatang.

"Outsourcing ke Mitra Strategis" telah menjadi salah satu kunci insentif yang digunakan AS meyakinkan pemimpin Partai Komunis Vietnam untuk meningkatkan hubungan mereka berdua.

Awalnya, Vietnam enggan karena khawatir Tiongkok akan bereaksi negatif.

 

Ketersediaan Tenaga Ahli Hanya Mampu Memenuhi 1/10 Kebutuhan

Dengan meningkatnya hubungan dengan AS, industri semikonduktor Vietnam mungkin akan mendapatkan nilai investasi baru bernilai miliaran dolar AS dan beberapa dana publik.

Namun, menurut pejabat industri, analis, dan investor, kekurangan insinyur yang terlatih dengan baik mungkin menjadi hambatan besar bagi perkembangan industri chip Vietnam.

Kepala kantor Vietnam dari US-ASEAN Business Council, Vu Tu Thanh mengatakan, "Jumlah insinyur perangkat keras yang tersedia jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang dibutuhkan oleh investasi miliaran dolar ini."

Dengan populasi sekitar 100 juta orang, Vietnam hanya memiliki 5.000 hingga 6.000 insinyur perangkat keras chip yang terlatih dengan baik.

Sedangkan industri ini memperkirakan kebutuhan insinyur selama lima tahun mendatang mencapai 20.000 orang, atau 50.000 orang untuk sepuluh tahun ke depan.

Hung Nguyen, manajer senior program rantai pasokan di RMIT University Vietnam, menyatakan bahwa Vietnam juga kekurangan insinyur perangkat lunak chip.

Atas masalah ini, departemen tenaga kerja, pendidikan, informasi, teknologi, dan luar negeri Vietnam belum memberikan tanggapan mereka.

 

Beralih ke Desain Chip

Berdasarkan data dari pemerintah Vietnam, ekspor industri semikonduktor Vietnam ke AS setiap tahunnya bernilai lebih dari US$500 juta. Saat ini berfokus pada tahap manufaktur akhir rantai pasokan, yaitu perakitan, pengemasan, dan pengujian chip.

Dan tidak lama lagi akan bergerak ke arah desain.

Gedung Putih belum menjelaskan secara spesifik bagian mana dari industri chip Vietnam yang akan menjadi prioritas, tetapi eksekutif senior industri AS mengatakan bahwa manufaktur akhir adalah kunci pertumbuhan yang penting.

Mempertimbangkan hal ini, Tiongkok tentu memainkan peran penting. Menurut data dari Boston Consulting Group, pada tahun 2019, hampir 40% dari manufaktur akhir global berada di Tiongkok, hanya 2% di AS, dan 27% lainnya di Taiwan.

Aktivitas militer Tiongkok yang meningkat di sekitar Taiwan membuat situasi kian tegang, yang pada akhirnya mendatangkan kekhawatiran terhadap rantai pasokan.

Intel, perusahaan teknologi asal AS terbesar di dunia, telah menjalankan pabrik perakitan, pengemasan, dan pengujian chip mereka di Vietnam selama 15 tahun. Meski demikian, Beijing masih mendominasi.

Saat Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengunjungi Vietnam pada Juli, dia mengumumkan bahwa perusahaan AS, Amkor, juga tengah membangun pabrik perakitan dan pengujian semikonduktor berskala besar tercanggih di dekat Hanoi.

Selain itu, investasi swasta mungkin akan mulai berdatangan, terutama jika sebagian besar dari US$500 juta yang disediakan oleh CHIPS Act untuk rantai pasokan semikonduktor global akhirnya jatuh ke tangan Vietnam.

 

Sulit Memenuhi Kebutuhan Tenaga Ahli dalam Waktu Singkat

Hung Nguyen menyatakan , AS mungkin juga tertarik untuk meningkatkan pasokan bahan baku chip dari Vietnam, khususnya mineral langka atau "rare earth". Diperkirakan, cadangan mineral langka di Vietnam menempati urutan kedua di dunia, setelah Tiongkok

Desain chip Vietnam juga tengah mengalami kemajuan. Perusahaan perangkat lunak desain chip AS, Synopsys, telah memulai operasinya di Vietnam. Sementara kompetitornya, Marvell, mengurangi tim penelitian dan pengembangan di Tiongkok dan berencana untuk mendirikan pusat mereka di Vietnam.

Namun, jika masalah kekurangan tenaga kerja terampil tidak dapat diselesaikan dengan baik, maka ambisi Vietnam mengembangkan industri semikonduktor akan sulit untuk direalisasikan. Membuatnya lebih rentan ketika harus bersaing dengan pesaing regional seperti Malaysia dan India.

Intel telah berulang kali mendesak otoritas Vietnam untuk memperluas basis tenaga kerja terampil mereka.

Intel dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk menggandakan bisnisnya di Vietnam yang bernilai US$1,5 miliar. Namun setelah pengumuman investasi besar-besaran tersebut diumumkan pada Juni, Intel belum kembali memberikan konfirmasi mereka.

Di situs web Amkor Technology di Vietnam, ada sekitar 60 lowongan pekerjaan, terutama untuk posisi insinyur dan manajer.

Vu Tu Thanh mengatakan, salah satu solusi yang paling memungkinkan adalah dengan melonggarkan regulasi Vietnam dalam pemberian izin kerja kepada insinyur asing, hingga tenaga kerja terampil domestik dapat ditingkatkan sepenuhnya.

Namun, ini tentunya memerlukan reformasi legislatif dan proses administratif yang lebih cepat. Dan menurut beberapa diplomat dan pengusaha Vietnam, hal ini bukanlah tugas yang mudah.

 

...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Sudut Aktual TaiwanBy Yunus Hendry, Irfan Muhammad, Rti