
Sign up to save your podcasts
Or


Siapa yang tak kenal Misbakus Solikin? Pemain asli Surabaya dan berasal dari kompetisi internal Persebaya ini turut ikut membawa Persebaya juara Liga 2 tahun 2017 lalu. Banyak cerita-cerita yang dapat diceritakan mulai dari saat menjadi membela Persebaya (IPL) tahun 2013 hingga di Liga 1 2019. Di masa yang akan datang, apakah Misbakus Solikin ingin kembali ke Persebaya?
Banyak momen yang dicatatkan Persebaya di tahun 2017. Setelah beberapa tahun absen di kompetisi resmi, pada tahun 2017 Persebaya akhirnya dapat kembali berlaga lagi meskipun harus memulai dari di Liga 2. Tahun pertama kembali ke kompetisi resmi, Persebaya berhasil meraih tiket promosi ke Liga 1 dan menjadi juara Liga 2. Banyak cerita-cerita yang belum banyak diketahui publik, di episode ini kami mengajak Rishadi Fauzi untuk berbagi cerita tentang pengalamannya selama membela Persebaya, khususnya saat ikut membawa Persebaya menjurrai Liga 2 2017.
Melanjutkan kompetisi sepak bola di tengah pandemi Covid-19 adalah keputusan yang menimbulkan banyak pro dan kontra. Dibandingkan negara lain yang telah memulai kembali kompetisi sepak bola nya, nampaknya Indonesia belum pantas untuk melakukan hal yang sama karena selain kurva kasus Covid-19 belum juga terlihat menurun, penanganan terkait ini pun belum terasa maksimal. Khawatirnya, jika kompetisi dilanjutkan akan melahirkan klaster baru yaitu klaster sepak bola.
#StopKompetisi2020
Di dalam sepak bola, pembinaan adalah salah satu unsur terpenting dalam perkembangan pemain dan klub itu sendiri. Di Persebaya, terdapat sebuah kompetisi internal dimana klub-klub SSB lah yang berpartisipasi. Dari kompetisi internal tersebut, lahirlah pemain-pemain berkualitas yang kemudian dapat masuk dalam skuad Persebaya. Selain itu, Elite Pro Academy juga dapat membantu dalam pengembangan pemain yang berasal dari kompetisi internal. Namun, bagaimana ketika semua itu tidak berjalan dengan baik karena tempat yang biasa digunakan sedang berada dalam kasus sengketa?
#KaranggayamMilikPersebaya
Persebaya dan PPSM merupakan dua dari beberapa klub sepakbola Indonesia yang mendirikan PSSI. Berbeda klub, berbeda cerita pula yang sedang terjadi. Meskipun PPSM saat ini berada di Liga 3 zona regional, para suporter PPSM tetap berada di belakang klub. Tidak hanya itu, pendekatan ke masyarakat Magelang untuk mengenalkan PPSM kembali pun kerap dilakukan. Semangat bangkit agar tidak terlalu terlena dengan sejarah pun beberapa tahun belakangan ini terus dilakukan demi melihat PPSM kembali pada tempat yang seharusnya.
Apa jadinya jika rivalitas dalam sepakbola telah melewati batas-batas imajiner yang sebenarnya tidak harus terjadi? Rasisme, diskriminasi hingga nyanyian 'dibunuh saja' pun kerap ditemui saat sebuah pertandingan sepakbola sedang terjadi bahkan ketika pertandingan sepakbola tidak ada pun, hal-hal semacam ini juga masih banyak dijumpai. Sebagai Bonek (sebutan pendukung Persebaya), seharusnya fokus kita adalah mendukung dan mengingatkan klub agar selalu tegas dijalurnya. Apakah setelah melakukan tindakan rasisme, diskriminasi atau merenggut nyama suporter klub lain kemudian klub yang kita dukung akan menjadi lebih kuat? Tentu tidak sama sekali....
Tolak segala bentuk rasisme dalam sepakbola!
From the publisher's feed