Truth Daily Enlightenment

BARTER


Listen Later

Bangsa Israel yang akan menerima Kanaan yang berlimpah susu dan madu, harus meninggalkan Mesir, melupakannya, dan melewati perjalanan padang gurun yang panjang. Mereka tidak boleh mengingat kembali Mesir, mereka tidak boleh “bernostalgia.” Kalau mereka masih “menoleh ke belakang,” maka hal tersebut akan menjadi ranjau yang dapat menggagalkan laju perjalanan untuk memperoleh Kanaan. Mereka harus percaya bahwa negeri yang berlimpah susu dan madu itu diberikan Allah kepada mereka, yaitu kalau mereka sungguh-sungguh meninggalkan Mesir. Oleh sebab itu, mereka harus percaya bahwa negeri Kanaan berkeadaan jauh lebih baik dalam segala hal daripada Mesir, tempat di mana mereka pernah diperbudak.
Dengan memercayai hal tersebut, mereka tidak akan berlambat-lambat meninggalkan Mesir dan tidak akan bersungut-sungut dalam perjalanan. Untuk mendarat di Kanaan, mereka harus melangkah dengan langkah pasti dan mantap. Mereka tidak boleh berhenti di tengah jalan hanya karena menyukai beberapa hal yang kelihatan menyenangkan tetapi ternyata merupakan ranjau-ranjau yang akan membinasakan mereka di padang gurun (1Kor. 10:1-10). Hal ini menjadi gambaran kehidupan orang percaya yang memang harus meninggalkan dunia ini untuk fokus kepada langit baru dan bumi baru.
Dalam Filipi 3:8, Rasul Paulus berkata, “… Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Apa yang ditulis oleh rasul ini merupakan pengalaman hidup seseorang yang menerima Injil dengan benar. Paulus tentu dapat memiliki dan menikmati Injil secara lebih penuh, dibandingkan dengan kebanyakan orang yang mengaku percaya Injil, tetapi tidak memiliki cara yang benar dalam menyambut Injil. Melepaskan semuanya, maksudnya tidak lagi menganggap bernilai segala sesuatu yang dulu menjadi kebanggaan, yaitu sebelum menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Semua yang dulu dianggap bernilai tersebut bisa berupa kehormatan, kedudukan, status sosial, harta, gelar akademis, kesukaan berbuat dosa, dan lain sebagainya. Melepaskan semuanya dalam teks aslinya adalah “zemian” (Ing. loss) atau “ezemiothon” (Ing. I suffered loss) yang berarti kehilangan, menganggapnya sampah. Kata “sampah” terjemahan dari “skubalon” yang bisa diterjemahkan sampah (refuse, sweepings), kotoran binatang yang digunakan pupuk (Ing. dung), isi perut binatang yang dipandang kurang baik dikonsumsikan (Ing. offel).
Pelepasan atau kehilangan “semuanya itu” merupakan sikap yang benar untuk dapat memperoleh Injil dan menikmatinya secara penuh. Dengan melepaskan semuanya dan menganggapnya sampah, dimaksudkan sebagai langkah untuk dapat memperoleh Kristus. Inilah cara yang benar. Lebih tegas, ini berarti bahwa tanpa melepaskan semuanya dan menganggapnya sampah, orang percaya tidak akan pernah memiliki Kristus. Inilah tindakan barter yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya. Tanpa tindakan barter, seseorang tidak akan pernah memiliki Kristus atau keselamatan di dalam Dia.
Yesus dalam berbagai kesempatan dan cara, menjelaskan bagaimana cara menerima Injil dengan benar agar dapat memiliki dan menikmati Injil tersebut. Dalam Lukas 14:33, Yesus menjelaskan bahwa seseorang yang mau mengiring Dia dan menjadi murid harus “meninggalkan segala sesuatu.” Penjelasan ini tegas menetapkan bahwa untuk memiliki Injil dan menikmatinya, haruslah “melepaskan segala sesuatu” yang sama dengan meninggalkan dunia. Maksud pernyataan tersebut adalah bahwa Tuhan menghendaki agar kita tidak terikat dengan hal-hal dunia. Keterikatan di sini memang relatif sifatnya, tetapi yang penting adalah keterikatan kita dengan Yesus merupakan keterikatan yang melebihi segala keterikatan. Oleh sebab itu, kita harus berani memberi nilai rendah kepada segala sesuatu kecuali Tuhan dan Kerajaan-Nya.
Dalam perumpamaan tentang harta yang terpendam dan pedagang yang mencari mutiara yang indah (Mat. 13:44-46),
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Truth Daily EnlightenmentBy Erastus Sabdono

  • 5
  • 5
  • 5
  • 5
  • 5

5

3 ratings