Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang memiliki kehendak bebas, artinya manusia memiliki kehendak yang dapat diarahkan oleh dirinya sendiri tanpa dikendalikan oleh pihak lain, karena Tuhan sendiri tidak mengintervensi kehendak bebas manusia. Tuhan mengakui dan memelihara kedaulatan manusia. Hal ini merupakan sesuatu yang berisiko tinggi, sebab bisa membawa manusia kepada kebinasaan atau kemuliaan. Manusia dikendalikan oleh kehendak bebasnya atau free will dalam menentukan nasib atau keadaan dirinya. Tuhan sebagai Hakim menegakkan hukum itu dengan segala risiko dan konsekuensinya, baik bagi manusia maupun bagi Tuhan sendiri. Ke mana arah langkah hidup seseorang ditentukan oleh keinginannya. Kalau hati dipenuhi keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, berarti menggiring manusia itu kepada kebinasaan. Juga dalam hal apakah seseorang mau selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah atau tidak, sangat tergantung pada dirinya sendiri. Untuk dapat selesai dengan diri sendiri, seseorang harus menanggalkan keinginannya.
Menanggalkan keinginan bukan berarti tidak memiliki keinginan sama sekali, melainkan mengisi jiwanya dengan keinginan untuk mengerti kehendak Allah dan melakukan kehendak-Nya. Hal ini akan membuat hanya kehendak Tuhan yang menguasai kehidupan orang tersebut. Orang yang berhasrat melakukan kehendak Tuhan akan diberi kepekaan untuk mengerti apa yang dikehendaki-Nya. Tetapi, kalau seseorang tidak berhasrat melakukan kehendak Tuhan, Tuhan tidak akan memberitahu apa yang dikehendaki-Nya. Orang seperti ini tidak memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak Tuhan. Orang percaya yang melakukan kehendak Allah didorong oleh keinginan untuk menyukakan hati-Nya.
Oleh sebab itu, sebelum melakukan kehendak Allah, orang percaya harus terlebih dahulu menanggalkan keinginan diri sendiri. Tentu hal ini dilakukan atas kehendaknya sendiri, tanpa tekanan dari pihak mana pun. Orang yang melakukan keinginan-keinginan Tuhan adalah orang yang menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaannya. Hidupnya menjadi bahagia dan bersih, sebab orang yang menjadikan Tuhan kegembiraannya, pasti hidupnya cenderung tidak bercacat dan tidak bercela. Oleh sebab itu, kita tidak boleh mengatur diri sendiri. Semakin kita mengatur diri sendiri, semakin sulit untuk mengerti kehendak Tuhan. Tetapi, semakin seseorang memiliki kesediaan menyerah kepada kehendak Tuhan dan berkerinduan menyenangkan hati-Nya, semakin ia mengerti apa yang Tuhan kehendaki.
Orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri—yang selalu hanya ingin menyukakan hati Allah—pasti jauh dari sikap serakah. Keserakahan adalah keadaan orang yang tidak berhenti mencari kesenangan diri sendiri dengan banyak, sebab ia tidak pernah puas dengan apa yang ada padanya. Orang yang serakah selalu bergerak dengan tujuan memiliki lebih banyak dari yang orang lain miliki, yaitu segala sesuatu yang ditawarkan oleh dunia ini. Yesus mengajarkan suatu prinsip hidup yang sebagai berikut: Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Luk. 9:58). Prinsip hidup ini dimaksudkan agar kita tidak menjadi serakah. Tuhan Yesus tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, hal ini menunjukkan bahwa diri-Nya tidak memiliki apa-apa. Inilah ekspresi dari “pengosongan diri” yang Yesus lakukan, yang juga harus kita lakukan sebagai pengikut-Nya. Pengosongan diri ini sama dengan kerelaan melepaskan hak. Senada dengan hal ini, Paulus dalam suratnya mengatakan: Sebab kita tidak membawa sesuatu apa pun ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah (1Tim. 6:7-8).
Keserakahan, seperti yang dikemukakan di atas, juga ada pada kehidupan banyak orang Kristen. Orang-orang seperti ini akan menjadi semakin serakah seiring dengan perjalanan waktu dan banyaknya kesempatan. Mereka akan semakin haus terhadap kekayaan dunia dan segala hiburannya.