Radio Seila FM

Bedanya Kembang Api Tahun Baru dan “Kembangi Api” di Langit Gaza


Listen Later

“Tajuk Rasil”

Rabu, 21 Jumadil Akhir 1445 H/ 3 Januari 2024


Bedanya Kembang Api Tahun Baru dan “Kembangi Api” di Langit Gaza

Artikel Hidayatullah.com, Oleh: Qosim Nurseha Dzulhadi


Banyak orang riang dan gembira di malam Tahun Baru 2024. Suara kembang api, seperti biasa, terdengar di mana-mana, membahana dan gegap-gempita. Tentu kita senang usia masih sampai di tahun ini. Dan ini wajar. Tapi hura-hura bukan ajaran agama kita. Islam mengajarkan bahwa pergantian siang dan malam harus difungsikan untuk dua hal: zikir dan syukur. Karena usia harus dimanfaatkan dalam kebaikan dan ketaatan. Juga, usia adalah “modal” hidup seorang manusia.


Maka, sangat dungu orang yang menyia-nyiakan usianya dan menghamburkan modal hidupnya. Konon lagi usianya tak pernah dimanfaatkan untuk membela agama Allah. Senang di sini, gembira di kampung kita. Suka-ria di negeri ini patut disyukuri, karena tu anugerah Ilahi. Tapi, jangan lupa bawa beda halnya dengan saudara kita yang ada Gaza, Palestina. Di sana hanya ada duka dan nestapa.


Jika di tempat kita dan di seluruh dunia merayakan pergantian tahun dengan menyalakan petasan yang bisa memancarkan cahaya warna warni kembang api di udara, di Gaza lain lagi. Cahaya yang menerangi langit gaza hampir 3 bulan ini, bukan dari kertas, tapi “kembang api” pembunuh, berupa bom-bom mematikan dari jet-jet tempur Zionis Israel atas bantuan dari Amerika Serikat. Bahkan bom-bom paling dilarang oleh dunia internasional, telah dijatuhkan semuanya di bumi Gaza yang diberkahi.


Kembang api di Gaza adalah roket-roket penjajah Zionis-Yahudi. Tidak seperti di negeri ini, yang kita saksikan seperti malam tahun baru. Maka, lihatlah langit Gaza yang merah membara. Langit Gaza memang terang siang dan malam. Tapi, penerangnya bukan lampu, melainkan api penjajah yang membakar apa saja yang mereka suka.


Gaza tengah berduka. Nestapa mereka berlanjut. Keamanan tidak terjamin. Kenyamanan telah lama sirna. Ini jika diukur dari sisi materi. Tapi, dari sisi maknawi mereka punya segalanya. Ya, mereka punya segalanya. Negara mereka “merdeka” ketika yang lain “dijajah”. Mereka sumbangkan para syuhada untuk membela Kiblat Pertama umat Islam (Al Aqsa) di saat negara-negara lain melahirkan laki-laki pengecut. Mereka cucurkan darah mereka sebagai “donor” bagi mereka yang sudah “kehilangan darah” (para banci dan penakut)................................

...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Radio Seila FMBy Seila fm Batam