Salah satu pertanyaan terbesar yang banyak direnungkan para wirausahawan dalam dekade terakhir ini adalah apakah 'apakah mungkin menciptakan dampak sosial yang positif dengan tetap menghasilkan pendapatan?' Karena semakin banyak milenial yang menginginkan hal yang mereka kerjakan membawa dampak sosial yang positif. Mereka tidak lagi puas hanya dengan pencapaian ekonomi. Dan di sisi lain adalah kebutuhan dasar yang kita semua miliki - untuk mengurus kebutuhan kita, untuk memenuhi kebutuhan keluarga kita.
Akibatnya, semakin banyak orang yang mengadopsi struktur 'perusahaan sosial atau social enterprise' pada bisnis mereka, yang memungkinkan mereka untuk membuat dampak sosial dan juga menghasilkan pendapatan. Sebelum kita membahas lebih jauh, mari kita mundur dan melihat sejarah 'perusahaan sosial atau social enterprise'. Pada tahun 1970 gagasan pertama tentang social enterprise berasal dari Inggris. Itu didasarkan pada 3 prinsip utama, yaitu:
Perdagangan & kemandirian yang layak secara finansial
Mendapatkan kekayaan sosial
Beroperasi dengan cara yang bertanggung jawab terhadap lingkungan Inilah yang sekarang disebut triple bottom line. (Jika kamu tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang triple bottom line, silakan lihat catatan podcast).
Kebutuhan utama pada saat itu, yang memunculkan ide perusahaan sosial ada dua, yaitu: Karena peningkatan dalam biaya menjalankan nirlaba dan penurunan dukungan dari pemerintah. Dan sebagai hasilnya, semakin banyak LSM mulai merasakan kebutuhan untuk menjadi layak secara finansial dan dapat mendukung biaya operasi mereka sendiri. Tetapi social enterprise telah berkembang dan banyak berubah dalam 40 tahun terakhir.
Ada begitu banyak lembaga berbeda yang mendefinisikannya dengan cara yang berbeda, tetapi salah satu pemahaman paling luas tentang topik tersebut adalah ketika kamu mengambil masalah sosial, contohnya : kurangnya fasilitas kesehatan dalam komunitas atau berkurangnya kehidupan laut atau perkembangan anak dan menggunakan solusi bisnis progresif untuk menyelesaikannya. Solusi bisnis dapat berbeda dari langsung membuat produk / layanan untuk memecahkan masalah-masalah seperti menumbuhkan terumbu buatan atau menggunakan keuntungan yang diperoleh dari menjalankan bisnis tradisional untuk mendanai sekolah-sekolah untuk anak-anak kurang mampu atau membantu mengembangkan masyarakat menjadi lebih stabil secara finansial dan mandiri.
Menurut Investopedia Perusahaan sosial atau Social Enterprise adalah sebuah ide bisnis yang menggabungkan antara konsep dasar berdagang yakni mencari keuntungan dengan kewajiban kita membantu lingkungan sosial. Di mana sebuah perusahaan bakal memaksimalkan pendapatannya sejalan sama manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
Contoh salah satu social enterprise di Indonesia adalah Du’Anyam! Jadi, mereka ini membantu ibu-ibu dan wanita di 15 desa di Flores untuk menghasilkan produk kerajinan anyaman dari daun lontar tapi tetap mempertahankan ciri khas tradisionalnya. Di kutip dari liputan6.com hadirnya Du'Anyam ini berawal dari masalah kesehatan hingga kematian ibu dan anak di NTT yang tergolong tinggi. Sang founder, Ayuningtyas menganggap lemahnya perekonomian masyarakat merupakan salah satu sebab permasalahan kesehatan. Oleh sebab itu Du'Anyam menawarkan solusi akan isu kesehatan di NTT tersebut. Salah seorang pengrajin Du'Anyam mengatakan bahwa sebelumnya mereka menjual hasil anyaman hanya sekedar ke pasar-pasar di luar pulau. Dengan sistem penjualan mereka yang terbatas ini tentu hasil yang didapat kurang maksimal. Namun kini produk anyaman mereka telah dijual secara online, sebagian besar dipesan oleh hotel-hotel, hingga "dibawa" ke pasar internasional. Keren bgt ya! Namun, prosesnya tidak sesederhana itu. Terutama di negara seperti Indonesia, di mana masih belum ada hukum yang mengatur tentang Perusahaan Sosial atau social enterprise. Jadi kebanyakan dari perusahaan social akhirnya mendaftarkan diri sebagai P.T. atau yayasan.