Dengan menghayati secara benar bahwa orang percaya adalah anak-anak Allah, maka seseorang dapat menghargai dirinya sendiri dengan benar, sebab menjadi anak-anak Allah berarti berkeadaan sangat mulia. Itulah sebabnya orang percaya tidak boleh membuat diri merasa berharga karena faktor lain, seperti: kedudukan atau pangkat, gelar, penampilan, kekayaan, popularitas dan lain sebagainya. Seseorang berharga sebab memang bernilai tinggi sebagai keturunan Allah. Banyak orang menghargai diri secara salah yang berakibat justru menyia-nyiakan hidupnya. Pada umumnya manusia menghargai diri dengan membuat dirinya dihormati orang lain. Untuk itu dibutuhkan sarana, antara lain: kedudukan atau pangkat, gelar, penampilan, kekayaan, popularitas dan berbagai hal yang dianggap sebagai nilai lebih. Itulah sebabnya manusia bergerak setiap hari untuk mencapai hal-hal tersebut. Inilah sebenarnya yang disebut sebagai haus kehormatan sampai pada tingkat gila hormat. Dengan gaya hidup seperti ini seseorang membinasakan dirinya.
Kalau seseorang sudah tidak menghargai dirinya secara benar dan mengalihkan penghargaan kepada hal-hal lain, ia tidak pernah mengenal keselamatan yang Tuhan berikan. Keselamatan yang Tuhan sediakan, diajarkan hanya untuk menyelamatkan kehidupan di bumi ini. Inilah teologi kemakmuran yang salah. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya yang semula. Rancangan semula Allah adalah menjadikan manusia berkeadaan sebagai anak- anak Allah dengan kualitas hidup yang berstandar hidup sebagai anak-anak Allah. Oleh sebab itu kalau seseorang sungguh-sungguh menjadi anak-anak Allah, pasti kualitas hidupnya lebih dari manusia pada umumnya.
Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia tidak berkeadaan seperti Allah, Bapanya. Alkitab berkata bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Kata “berdosa” dalam teks aslinya adalah hamartano (ἁμαρτάνω), yang memiliki beberapa pengertian, di antaranya yang paling menonjol adalah tidak mengenai sasaran atau meleset. Inilah yang dimaksud bahwa manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Maksudnya adalah bahwa manusia tidak memenuhi atau mencapai standar sebagai anak-anak Allah. Kualitas kehidupan yang dimiliki manusia bukanlah kualitas anak-anak Allah. Itulah sebabnya Allah Bapa mengutus Putra-Nya, agar melalui-Nya manusia diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12).
Pernyataan dalam Yohanes 1:12 sama maknanya dengan Yohanes 10:10 bahwa Tuhan Yesus datang untuk memberi hidup, agar manusia memiliki hidup tersebut dalam kelimpahan. Hidup dalam teks ini adalah zoe (ζωή), yang lebih menunjuk hidup yang berkualitas, bukan bios (βίος) yang menunjuk kehidupan makhluk pada umumnya. Sedangkan kata “berkelimpahan” dari teks aslinya adalah perissos (περισσός), yang artinya sangat tinggi dalam kualitas. Hidup yang berkelimpahan menunjuk pada kualitas moral yang tinggi. Moral di sini menyangkut hubungan dengan Tuhan, dengan sesama dan cara memandang dunia ini. Hidup yang berkelimpahan bukan berarti berlimpah materi, tetapi memiliki suatu kualitas hidup yang berkenan kepada Allah Bapa. Di dalamnya termasuk menikmati damai sejahtera Allah walau pun tidak ditopang oleh materi.
Kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak membuat manusia tidak mampu berbuat baik sama sekali, sebabnya nyatanya Kain sebenarnya bisa menghindarkan tindakan pembunuhan terhadap adiknya (Kej. 4:7). Bukti yang lain bahwa Henokh bisa bergaul dengan Allah sehingga ia bisa diangkat oleh Allah keluar dari bumi ini (Kej. 5:24). Dan banyak lagi sosok-sosok yang berkualitas baik sehingga menjadi kekasih Tuhan di Perjanjian Lama. Namun sebaik apa pun manusia, tetapi tidak dapat mencapai standar hidup sebagai anak-anak Allah. Itulah sebabnya mereka tidak dapat memiliki persekutuan yang eksklusif dengan Allah, sebagai Bapa, sebab belum bisa berkeadaan sebagai anak-anak Allah seperti Yesus.
Tuhan Yesus datang memberikan hidup,