Di dalam Kitab Yakobus 4:5 tertulis bahwa bukan tanpa alasan kalau Kitab Suci mengatakan bahwa Allah menginginkan roh yang ditempatkan di dalam diri manusia dengan cemburu. Roh yang ditempatkan di dalam diri kita maksudnya bukanlah Roh Kudus, melainkan roh manusia. Sesungguhnya, roh manusia itu berasal dari Allah. Dalam penciptaan manusia yang ditulis di dalam Kitab Kejadian 2:7, dikatakan bahwa Allah menghembuskan nafas kehidupan ke dalam hidungnya. Maksud ayat ini adalah bahwa Allah menempatkan roh di dalam diri manusia. Itulah sebabnya, manusia adalah anak-anak Allah. Allah adalah Bapanya, sebab roh manusia atau roh yang ada pada manusia berasal dari Allah sendiri. Demikianlah Allah menghendaki agar roh yang ditempatkan di dalam diri kita kembali kepada-Nya. Dalam Kitab Pengkhotbah 12:7 tertulis: “… dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.”
Jadi, ketika Yesus mengajar kita memanggil Allah sebagai Bapa, secara tidak langsung Yesus menunjukkan agar kita kembali kepada Bapa, yaitu darimana kita berasal. Tetapi, kenyataannya banyak orang yang tersesat. Ciri yang paling dominan dari kehidupan seorang yang tersesat adalah tidak memiliki naluri untuk pulang kepada Bapa, sebab percintaan dunia telah menguasai dan membelenggu hidupnya. Percintaan dunia ini juga membelenggu para teolog yang berusaha mencari nilai diri dengan kemampuannya berteologi lewat media sosial. Tentu spirit atau gairah yang mereka pancarkan bukanlah roh yang lemah lembut dan tenteram dari Allah. Tanpa disadari, mereka telah meracuni diri mereka sendiri dan meracuni orang lain yang mendengarkan mereka.
Mereka tidak menganggap diri mereka sesat karena merasa memiliki doktrin yang benar. Biasanya, doktrin yang mereka anggap benar adalah doktrin yang dirumuskan oleh para teolog-teolog terdahulu dan diakui oleh konsili-konsili serta gereja-gereja sebagai kebenaran yang sejajar dengan otoritas Alkitab; sehingga dianggap mutlak sudah benar. Padahal, doktrin-doktrin tersebut lahir dari suasana saling membenci sampai pada tingkat pembunuhan. Tentu saja doktrin-doktrin tersebut harus dikoreksi, apakah masih kontekstual atau relevan untuk kehidupan orang percaya hari ini. Karena para teolog tersebut adalah orang-orang yang mengajar, maka mereka mengarahkan jemaat bukan pada Kerajaan Allah melainkan hanya pada pengertian-pengertian doktrin yang tidak mengubah perilaku jemaat guna menjadi anak-anak Allah yang berperilaku sebagai anak-anak Allah. Bagaimana jemaat bisa mengalami perubahan perilaku sebagai anak-anak Allah kalau pengajarnya sendiri belum berperilaku sebagai anak-anak Allah? Dari tulisan dan ucapan mereka di media sosial, sangat jelas wajah pribadi-pribadi yang tidak layak disebut sebagai anak-anak Allah yang berperilaku mulia.
Ironisnya, mereka sangat hafal kata demi kata dalam kalimat Doa Bapa Kami. Mereka bisa mengajar tentang Allah, tetapi mereka tidak pernah mengalami perjumpaan yang benar dengan Allah yang hidup. Tidak heran kalau perilaku mereka sama dengan orang-orang yang tidak mengenal kebenaran. Hal ini jelas membuktikan bahwa doktrin yang mereka pahami bukanlah kebenaran, sebab kebenaran pasti mengubah perilaku manusia, yang sama dengan memerdekakan manusia dari dosa. Orang yang dimerdekakan dari dosa adalah orang-orang yang memiliki keagungan perilaku yang pasti terekspresi secara nyata dalam kehidupan. Ekspresi kelakuan mereka pasti dapat dirasakan oleh orang yang memiliki nurani yang bersih. Tetapi, orang-orang yang nuraninya tidak bersih, tidak dapat melihat penyesatan yang dilakukan oleh mereka. Bahkan sebaliknya, mereka memusuhi orang benar dan menuduhnya sebagai sesat, padahal, pikiran merekalah yang sesat.
Tentu saja mereka tidak menyadari keadaan mereka yang keracunan itu, dan tidak menyadari bahwa mereka sedang meracuni orang lain. Harus diingat, bahwa kekristenan bukan sekadar agama yang sibuk mempersoalkan doktrin,