Truth Daily Enlightenment

Beragama yang Belum Dewasa


Listen Later

Kalau kita bisa menemukan kebenaran dalam Doa Bapa Kami, kita akan benar-benar takjub terhadap kebenaran yang Tuhan Yesus ajarkan di dalam Doa Bapa Kami tersebut. Setelah mengerti, tentu cara kita memandang Doa Bapa Kami menjadi berbeda dari sebelumnya. Selanjutnya, pemahaman kita mengenai bagaimana menjalani kehidupan Kristiani juga menjadi berbeda. Seharusnya, demikian pula dengan pemahaman kita terhadap berbagai tema yang Yesus ajarkan di dalam Injil. Oleh sebab itu, kita tidak boleh merasa puas dengan pemahaman Alkitab yang sudah ada, sehingga kita tersandera dalam pengetahuan Alkitab “warisan” dari para pendahulu kita, dan terparkir di tempat yang sama. Seiring perjalanan waktu dan perubahan keadaan zaman, Roh Kudus pasti membuka pikiran orang percaya untuk menerima pencerahan-pencerahan baru mengenai kebenaran-Nya untuk menghadapi dunia yang semakin jahat.
 
Ketika murid-murid meminta kepada Yesus agar diajarkan berdoa, pasti konsep murid-murid mengenai berdoa sama seperti orang Yahudi lainnya. Dengan diajarkannya Doa Bapa Kami, seharusnya konsep beribadah—termasuk di dalamnya mengenai berdoa—harus juga berbeda dengan konsep agamawi yang telah mereka kenal sebelumnya sebagai orang-orang yang beragama Yahudi; agama Samawi. Memasuki dekade zaman anugerah, pola ibadah manusia berubah sama sekali. Kalau pada zaman Perjanjian Lama, ibadah menekankan ritual atau seremonial, tetapi di zaman Perjanjian Baru, Tuhan Yesus mengajarkan ibadah yang berbeda, yaitu menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Dengan memahami makna “menyembah Allah dalam roh dan kebenaran,” maka pengertian doa dalam konteks umat Perjanjian Baru akan menjadi benar pula. Yang harus ditekankan dalam berdoa adalah membangun relasi setiap saat dengan Allah. Dalam hal ini, asumsi kita mengenai berdoa tidak lagi hanya sekadar melipat tangan, menekuk lutut pada jam atau tempat tertentu, dan dengan cara-cara tertentu.
 
Bagi umat pilihan, upacara atau seremonial agama (liturgi) di gereja seharusnya tidak lagi menjadi media utama untuk bersekutu dengan Allah. Pertemuan di gereja lebih kepada media persekutuan antar umat, dan umat secara komunitas dengan Allah. Media utama persekutuan antara orang percaya sebagai anak dengan Allah sebagai Bapa seharusnya berlangsung sepanjang perjalanan hidup, setiap saat, dalam segala hal yang dilakukan, dan di mana pun seseorang berada. Kita harus dapat menghayati bahwa Allah yang benar pasti cerdas dan mulia, Allah tidak berurusan dengan manusia hanya melalui seremonial agama atau liturgi. Pola seperti ini bukanlah pola orang beriman yang dewasa; agama yang belum dewasa. Agama Yahudi adalah pola agamawi yang belum dewasa, jika dibanding dengan pola ibadah umat Perjanjian Baru, yaitu menyembah Allah dalam roh dan kebenaran.
 
Jadi, kalau umat masih menggunakan seremonial agama atau liturgi untuk berurusan dengan Allah, ini berarti umat yang belum dewasa. Untuk sementara waktu, bagi orang Kristen yang baru, Allah menolerir ketidakdewasaan umat, ketidakmengertian umat tentang diri-Nya; siapa dan bagaimana diri-Nya. Mereka masih ada di tingkat seremonial. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu, orang percaya harus menjadi semakin dewasa, harus mengenal dengan benar siapa Allah dan apa yang Dia kehendaki dalam berinteraksi dengan Dia. Ibadah orang percaya harus dalam roh dan kebenaran. “Di dalam roh” itu berarti tidak terbatas oleh ruang dan waktu, serta cara-cara atau tatacara upacara agama. Masuk zaman Perjanjian Baru, pola agamawi—seperti agama Yahudi—harus ditinggalkan. Orang-orang Yahudi, sebagai orang agamawi sangat giat dalam hidup keberagamaannya; bagi mereka, berdoa adalah kegiatan sehari-hari yang sangat kuat mewarnai hidup mereka. Tetapi mereka menekankan secara seremonial.
 
Ketika Tuhan Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami dalam beberapa Injil—khususnya Injil Matius—Yesus sedang mempercakapkan hal berdoa. Salah satu faktor yang merusak kehidupan iman ...
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Truth Daily EnlightenmentBy Erastus Sabdono

  • 5
  • 5
  • 5
  • 5
  • 5

5

3 ratings