Truth Daily Enlightenment

Berjalan Seirama Roh


Listen Later

Penjelasan mengenai roh dalam Roma 8 sinkron dengan Galatia 5:25. Galatia 5:25 tertulis: Jikalau kita hidup oleh roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh roh. Roh dalam ayat ini bukan Roh Allah juga bukan roh manusia, tetapi roh yang dihasilkan oleh pimpinan Roh Kudus. Kata “dipimpin” dalam teks aslinya adalah stoikheo (στοιχέω), yang lebih tepat diterjemahkan “berjalan seirama” dalam satu barisan. Kalau diterjemahkan dipimpin, mengesankan roh ini di depan. Tetapi kalau diterjemahkan berjalan seiring atau seirama berarti berjalan bersama. Hal ini sama artinya dengan hidup menuruti roh itu.  Jadi, roh dalam kalimat “hiduplah oleh roh” (Gal. 5:25) adalah gairah, spirit atau hasrat yang sesuai dengan Roh Kudus, maka ini berarti orang percaya memiliki panggilan yang mutlak harus dipenuhi untuk memperhatikan keinginan roh, bukan keinginan daging dan hidup untuk menuruti roh tersebut.
Dari terjemahan secara hurufiah Alkitab bahasa Yunani, kalimat “dipimpin oleh roh” sebenarnya adalah berjalan di dalam roh (walking in the spirit). Itulah sebabnya dalam Alkitab terjemahan lama Galatia 5:25 diterjemahkan: Jikalau kita hidup oleh sebab Roh itu, biarlah juga kita berjalan menurut Roh itu. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “berjalan menurut roh” itu? Kalimat berjalan di dalam roh sama artinya dengan berjalan seirama roh, berdasarkan kata stoikheo.
Kalimat “dipimpin oleh roh” berasal dari kata pneumati kai stoikomen, memberi petunjuk seolah-olah Tuhan aktif memimpin seseorang sehingga otomatis membuat orang tersebut mampu menuruti kehedak-Nya. Terkesan Roh Allah aktif memimpin sehingga secara otomatis seseorang dapat mengikutinya dengan mudah. Ini keliru, yang benar adalah pneumati kai stoikomen diterjemahkan berjalan seirama dengan roh.  Roh di sini bukan Roh Kudus juga bukan roh manusia, tetapi roh dalam arti spirit, gairah atau hasrat yang dihasilkan dari perjalanan hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Jadi kata stoikomen bisa menunjuk orang yang baris berbaris atas suatu perintah. Ini adalah suatu proses “sinkronisasi” atau penyesuaian. Penyesuaian kehendak kita terhadap kehendak Allah yang termuat di dalam roh tersebut. Untuk bisa menjadi sinkron dengan roh tersebut, maka harus melalui proses methamorphouste (transformasi) dalam kehidupan anak Allah yang tidak pernah berakhir sampai mata tertutup (Rm. 12:2). Transformasi atau pembaharuan itu dalam atau pada pikiran.
Dalam proses penyesuaian atau sinkronisasi tersebut, bukan Tuhan yang harus menyesuaikan diri terhadap kita, tetapi kita yang harus menyesuaikan diri terhadap kehendak Tuhan. Proses ini menuntut peran keaktifan secara penuh setiap individu. Roh Kudus sebagai pendamping aktif memimpin orang percaya dan orang percaya memberi diri dipimpin oleh Tuhan melalui ketekunan mengisi jiwanya dengan Firman Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus tegas mengatakan bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4). Jika jiwa seseorang diisi oleh kebenaran Firman yang murni, maka roh menjadi kuat. Tetapi kalau jiwa diisi oleh filosofi dunia (materialisme, sekularisme dan lain sebagainya), maka roh menjadi lemah. Oleh sebab itu tidak mungkin seseorang bisa menjadi kuat dalam Tuhan kalau tidak memahami kebenaran Firman Tuhan yang murni.
Ketika jiwa dipenuhi dengan kebenaran pengenalan akan Tuhan yang memuat pikiran dan perasaan Allah, maka roh menjadi kuat. Kalau kita hidup menurut roh itu maka kekuatan roh itu menguasai seluruh kehidupan kita, sehingga perilaku kita dapat sesuai dengan kehendak Allah yang Maha Kudus. Proses ini adalah proses berjalan seirama dengan roh, sampai benar-benar mencapai level dipimpin oleh roh secara ideal. Kalau seseorang hidup menurut roh secara ideal, maka tujuan keselamatan tercapai sebab seseorang dapat memiliki roh Kristus, sehingga dapat serupa dengan Dia.
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Truth Daily EnlightenmentBy Erastus Sabdono

  • 5
  • 5
  • 5
  • 5
  • 5

5

3 ratings