Di dalam kekristenan tidak ada standar ganda. Kita hanya memiliki satu standar, yaitu kehidupan Yesus—cara berpikir dan gaya hidup-Nya—yang harus dikenakan oleh semua orang Kristen. Apakah dia seorang jemaat, aktivis gereja atau seorang yang memiliki jabatan sinode, hanya ada satu standar, yaitu kehidupan Yesus. Dan semua orang percaya adalah murid-murid Yesus. Sebagai murid, dalam hal ini kita tidak dibatasi oleh pendidikan teologi atau jabatan ternentu. Semua harus memasuki dan mengalami proses pendewasaan rohani untuk menjadi sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, mengambil bagian dalam kekudusan Allah dan mengenakan kodrat ilahi. Standarnya sama. Jangan membuat aturan yang tidak Alkitabiah.
Di dalam 1 Korintus 6:19-20 firman Tuhan mengatakan, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait h Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Semua orang percaya adalah hamba-hamba Tuhan. Jangan membuat aturan dan ukuran baru, seakan-akan ada orang-orang yang lebih sah disebut “hamba Tuhan” dan yang lain kurang. Standar ganda seperti itu seolah-olah membagi kekristenan dalam beberapa kasta, dan itu salah. Itu keliru. Ketika Tuhan berkata, “kuduslah kamu sebab Aku kudus” (1Ptr. 1:16), standar kekudusan ini untuk semua orang percaya, sama.
Masalahnya, banyak orang Kristen masih tidur—karena merasa bukan hamba Tuhan atau utusan Tuhan—padahal di luar sana sedang berkecamuk perang besar antara kuasa kegelapan dengan antek-anteknya, dan Kerajaan Terang dengan hamba-hamba Tuhan yang dikatakan oleh Alkitab sebagai “orang-orang yang tidak menyayangkan nyawanya.” Tidak mengancam atau menakut-nakuti, kalau kita tidak melayani Tuhan, maka suatu kali kita akan gemetar. Kita tidak berguna di Kerajaan Surga atau di kekekalan. Sebab kalau kita di bumi tidak berguna, tidak mungkin berguna di surga. Jangan anggap murah dan remeh Tuhan. Kalau di bumi tidak menyenangkan Tuhan dengan mengabdi dan melayani Tuhan, di surga kita tidak bisa mendadak menyenangkan Tuhan.
Irama hidup orang seperti itu bukan irama menyenangkan Tuhan, melainkan irama menyenangkan diri sendiri, dan ia pasti mengabdi kepada tuan lain. Ini kebodohan yang disuntikkan oleh Iblis. Iblis itu memang penipu. Ia mengembuskan suara-suara yang memenuhi jiwa dan pikiran banyak orang Kristen. Setan itu pintar membuat yang namanya “penghalusan.” Dan penghalusan yang paling mengerikan adalah mencintai dunia. Padahal orang percaya harus menjadi pejuang, the true soldier. Jangan sampai kita meninggal, kita tidak dipandang atau belum dipandang sebagai laskar. Jangan kita ini mestinya jadi laskar, tapi di tengah-tengah kesibukan perang malah merepotkan. Makanya kita mesti dewasa; as a soldier must be mature.
Ingat, hanya orang yang bertumbuh dewasa yang bisa menderita; yang merasakan sakitnya menyangkal diri, meninggalkan kesenangan dunia, menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah, belajar menyangkal diri, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, meninggalkan nafsu-nafsu daging, tidak mengucapkan kata-kata sembarangan. Kalau kita bisa sampaidi tingkat menderita ini, pasti kita dimuliakan bersama dengan Yesus. Namun, tidak banyak orang Kristen yang sampai di tingkat bisa menderita. Jadi, sebelum terlambat, mari kita bertobat dan mengejar ketinggalan kita untuk memenuhi apa yang menjadi bagian kita. Semua kita adalah laskar.
Coba kita renungkan, betapa banyak orang yang hidupnya susah, ekonominya susah, makan pun susah. Banyak orang menderita. Dan yang paling mengerikan, mereka tergiring menuju kegelapan abadi. Lalu, apa yang harus kita perbuat? Tentu kita tidak bisa menolong semua orang, tetapi kita bisa berkarya untuk membuat sebanyak mungkin orang terhindar dari api kekal. Inilah beban Tuhan Yesus. Kalau kita belum punya beban,